Orang yang gajinya cuma 5 juta berarti nggak pintar dan nggak sehat. Itu kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Mungkin niatnya baik. Tapi kan terkesan nir-empati sama warga yang berpendapatan bawah. Jadi, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, bilang orang yang gajinya cuma Rp 5 juta berarti nggak pintar dan nggak sehat. Ucapan ini dia sampein pas jadi pembicara di sebuah diskusi tanggal 17 Mei lalu.
Menurut Budi, kesehatan dan pendidikan yang baik akan mendukung visi Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi. “Apa sih bedanya orang yang gajinya Rp15 juta sama Rp5 juta?” tanyanya. “Cuma dua. Satu, dari Rp15 juta pasti lebih sehat dan lebih pintar,” lanjutnya. ”Kalau dia nggak sehat dan nggak pintar, enggak mungkin gajinya Rp15 juta, pasti gajinya Rp5 juta,” tambahnya. Astagfirullah. Apa yang disampein Menteri Kesehatan ini terkesan bias kelas dan nir-empati ya. Ucapannya terkesan warga dengan gaji Rp 5 itu karena mereka “nggak sehat” dan “nggak pintar”. Seolah mewajarkan ketimpangan sosial-ekonomi dengan menyalahkan korban. Pak Menteri, gaji seseorang sama sekali bukan cerminan kondisi kesehatan atau kecerdasan personalnya.
Tapi justru mencerminkan struktur ekonomi nasional yang bermasalah. Mulai dari isu upah minimum yang ditetapkan, akses terhadap pekerjaan formal, sampai kondisi geografis dan sosial. Contohnya guru honorer. Hampir semua guru honorer memiliki kondisi kecerdasan dan kesehatan yang relatif sama dengan kelompok sosial lainnya. Tapi, digaji rendah. Banyak dari guru honorer yang gajinya nggak nyampe Rp 2 juta. Padahal mereka berdedikasi tinggi.
Begitu juga buruh kasar kita. Banyak di antara mereka yang kesehatan dan kecerdasannya sama dengan rata-rata warga pada umumnya. Tapi mereka digaji rendah sesuai dengan upah minimum yang ditetapkan pemerintah daerah. Jadi, pendapatan yang diterima seseorang itu sama sekali nggak terkait dengan isu kecerdasan dan kesehatannya. Ketimpangan sistem lah yang menahan mereka sehingga mereka selama bertahun-tahun di kelas masyarakat berpendapatan bawah. Sistem ekonomi kita menyerap tenaga murah tanpa memberi nilai tambah bagi kesejahteraan para pekerja.
Kalo dilacak, ini bukan pertama kalinya ucapan Menteri Kesehatan yang nir-empati. Dia bilang laki-laki bercelana ukuran 33-34 ke atas cepat menghadap Allah, alias meninggal. Pernyataan itu dia sampein pas bahas masalah obesitas di Indonesia dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI pada 14 Mei lalu. Padahal lingkar pinggang tergantung banyak hal: usia, etnis, komposisi tubuh.
Menteri Kesehatan juga dikritik ratusan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI soal sejumlah kebijakan dalam pendidikan dan pelayanan kesehatan. Ada 4 keberatan yang disampaikan Guru Besar FKUI. Dua diantaranya soal penyederhanaan pendidikan dokter dan dokter spesialis. Juga soal penyelenggaraan pendidikan dokter di luar sistem universitas.
Pejabat publik, apalagi setingkat, pasti segala ucapan dan tindakannya jadi sorotan. Karena itu, penting untuk menyampaikan dan melakukan sesuatu secara bijak. Sehingga nggak terkesan bias kelas sosial tertentu dan nir-empati pada kelas sosial yang lebih bawah. Cita-cita Indonesia emas harus diwujudkan tanpa perlu membuat kegaduhan yang nggak perlu. Perbaiki sistem kesehatan dan pendidikan, tanpa menyalahkan korban dari sistem yang nggak berpihak kepada saudara kita itu. Yuk, jadi pejabat yang bijak!


