Teladan Buya Hamka: Nggak Memendam Walau Difitnah Dan Dipenjarakan

Published:

Soal teladan memaafkan, Buya Hamka nggak ada duanya. Dia pernah difitnah dan dipenjara oleh 2 tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Alih-alih mendendam, Buya justru memaafkan. Kemuliaan Hamka ini diangkat kembali akun Tiktok @khairudinadim pada 14 April lalu.

Buat yang belum tahu, Buya atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah, adalah ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia. Salah satu tokoh penting di Muhammadiyah dan pernah jadi Ketua MUI pertama. Hamka juga dikenal sebagai sastrawan, filsuf, penulis kitab tafsir al-Quran, sekaligus tokoh penting pergerakan Islam di Indonesia. Dalam sejarah hidupnya, Hamka pernah bersitegang cukup keras dengan Pramoedya Ananta Toer dan Soekarno. Pram sastrawan besar Indonesia, sementara Soekarno proklamator dan presiden pertama Indonesia.

Konflik Buya dengan Pram terjadi setelah Hamka merilis novelnya yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Pram menuduh novel itu hasil plagiat dari karya sastrawan Arab. Karena fitnah itu, novel Buya dilarang beredar. Reputasi Hamka sebagai sastrawan hancur. Ekonominya anjlok dan keluarganya sampai hidup susah. Tapi Buya nggak dendam kepada Pram. Itu terlihat ketika Buya didatangi anaknya Pram. Ceritanya, suatu hari ada dua orang datang ke rumah Hamka. Mereka adalah Astuti dan Daniel. Buya nggak kenal dua orang ini. Ketika memperkenalkan diri, Astuti ngaku anaknya Pram. Astuti lalu minta tolong ke Buya buat membimbing calon suaminya, Daniel, masuk Islam dan jadi saksi nikah mereka. Buya langsung mengiyakan permintaan itu tanpa ragu. Buya memaafkan dan melupakan apa yang pernah dilakuin Pram sebelumnya. Buya pun membimbing Daniel membaca syahadat dan jadi saksi di pernikahan Astuti dan Daniel.

Sikap pemaaf Buya juga ditunjukkan kepada Soekarno. Itu terjadi tahun 1964, ketika Indonesia masuk periode Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno. Ketika itu Soekarno makin deket sama PKI. Tokoh-tokoh Islam yang kritis sama kebijakan Soekarno itu dianggap ancaman, termasuk Buya. Karena tegas menentang komunisme, Hamka dituduh mau ngejatuhin Soekarno dari jabatan presiden. Buya dituduh tanpa bukti. Buya dipenjara tanpa pengadilan. Buya dipenjara di Sukamiskin, Bandung, selama 2 tahun 4 bulan. Selama di penjara, Buya dapet tekanan mental dan penyiksaan psikologis. Yang bikin sedih, yang perintahin buat penjarain Buya adalah sahabatnya sendiri, Soekarno.

Fast forward, tahun 1970 Soekarno meninggal. Dua orang bernama Kawrawi dan Mayjen Suryo datang ke rumah Buya. Berdua nyampein pesan terakhir Soekarno. Dia pengen Buya yang jadi imam salat jenazahnya. Coba bayangin… orang yang dulu fitnah kamu, jeblosin kamu ke penjara, tiba-tiba minta kamu mimpin salat pas dia wafat. Dan Buya mengiyakan permintaan itu. Tanpa marah, tanpa sindiran. Buya pimpin salat jenazah Soekarno dengan tulus.

Pasti banyak yang penasaran, kenapa ya Buya bisa segitu legowo itu? Pas ditanya soal ini, Buya menjawab. “Pramoedya dan Soekarno tetap saya anggap sahabat terbaik.” Dari peristiwa ini, terlihat kemuliaan Hamka. Bukan cuma keluasan dan kedalaman pengetahuannya, tapi juga jiwanya yang lapang, hatinya yang bersih, dan akhlaknya yang luar biasa. Nggak gampang membalas keburukan dengan kebaikan. Yang sering terjadi keburukan dibalas dengan keburukan, bahkan dengan keburukan yang lebih buruk. Tapi Buya Hamka berbeda. Dia bukan cuma tokoh agama yang jago ceramah, tapi juga jago memaafkan. Dia bukan cuma tokoh agama yang luas dan dalam pengetahuannya, tapi juga luas dan dalam hatinya. Kita butuh lebih banyak tokoh agama kayak Buya Hamka.

Yuk, jadi tokoh agama yang bisa diteladani!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img