Program Maghrib Mengaji Diskriminatif, Bupati Ini Malah Sindir Dedi Mulyadi

Published:

Bupati Kabupaten Bandung, Dadang Supriana ini aneh banget deh. Programnya sendiri yang diskriminatif, eh dia malah sindir-sindir program barak militer Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dadang menyampaikan sindiran itu saat Membuka Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadis (MTQH) ke-39 tingkat Provinsi Jabar, Minggu lalu. Di acara itu, dia banggain 3 aspek pendidikan lokal yang udah dilakukan di Kabupaten Bandung. Mulai dari Pancasila/UUD 1945, bahasa Sunda, sampai mengaji dan menghafal Al‑Qur’an. Dia bilang, tiga aspek ini penting buat tanamin nilai-nilai kebangsaan, kearifan lokal, dan spiritualitas di kalangan pelajar.

Terus dia kenalin satu program andalannya yang menurut dia sukses, yaitu ‘Maghrib Mengaji’. Program itu mewajibkan anak-anak ibadah dan ngaji tiap habis maghrib; dilakukan bisa di rumah, masjid, sekolah atau madrasah. Terus dia usul agar kebijakan ini juga dijadiin kebijakan tingkat provinsi. Menurut dia, program ini lebih bagus daripada kirim murid ke barak militer. “Kami sudah surat edarkan dan mohon untuk bisa dijadikan kebijakan Provinsi Jawa Barat”, ucap Dadang. “Jangan sampai dibawa ke barak, Pak Gubernur, jadi cukup instruksikan saja untuk anak-anak kita sekolah diwajibkan mengaji bagi agama Islam”, lanjutnya.

Tanggepin hal ini, di video yang tersebar sih Kang Dedi cuma respon dengan senyum tipis. Sampai sekarang pun, belum ada respon lebih lanjut. Di waktu yang berbeda, saat di wawancara, Dadang masih terus bahas program ‘Maghrib Mengaji’ sebagai alternatif daripada ‘Barak Militer’. Dia yakin banget Maghrib Mengaji bisa membentuk karakter religius yang akhirnya mengurangi kenakalan remaja. Jadi dia emang punya harapan besar programnya bisa diadopsi hingga tingkat provinsi.

Fyi, meski dia agak nyentil, dia gak nolak total program barak dari Gubernur. Dia tetap siapin barak militer untuk wilayahnya, walau dia menganggap kondisi murid di sana lebih stabil dan minim kenakalan remaja. Tapi menurut kami di PIS sih, cara yang dilakukan Dadang ini kurang etis ya. Ini bikin kita bertanya-tanya, apa Dadang sengaja mempermalukan KDM alih-alih sampein ide ini lewat diskusi internal? Sayang banget kalau akhirnya malah jadi sindir-sindiran.

Dan pertanyaannya, apa emang efektif program itu? Sudahkah ada hasil penelitian yang valid bahwa program itu efektif mencegah kenakalan remaja? Dan lagi, program itu malah diskriminatif. Mereka hanya menyasar anak-anak muslim. Emang semua warganya beragama Islam? Gimana dongadang dengan anak-anak agama lain? Program ala KDM malah jauh lebih inklusif. Karena tidak menyasar agama tertentu. 100% bisa dilakuin buat semua kalangan.

Program ini bahkan dapat dukungan langsung dari pemerintah pusat seperti Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai. Natalius menganggap program ini dapat membantu membentuk mental dan karakter remaja bermasalah. Dan ini bukan cuma omon-omon, program ini udah terbukti menekan angka tawuran, geng motor dan kenakalan remaja di Jawa Barat. Alih-alih sindir, coba deh introspeksi diri, programnya adil gak buat semua masyarakat? Anak muda butuh kebijakan yang adil, gak cuma buat mayoritas doang. Yuk, jadi pemimpin yang bijak dan inklusif!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img