Influencer Eks HTI ini Serang Kang Dedi Mulyadi

Published:

Dedi Mulyadi dikritik influencer eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dia menyinggung kebijakan Gubernur Jawa Barat itu yang mengubah nama Rumah Sakit Al-Ihsan jadi Rumah Sakit Welas Asih. Katanya, jangan sampai simbol atau nama Islam diganti-ganti. Itu, katanya lagi, bisa disebut anti-Islam. Hadeh…

Influencer eks HTI yang kritik Kang Dedi itu bernama Baharsyah Ali. Kritiknya itu di-publish di akun Instagramnya pada 16 Juli yang lalu. Di awal video, Influencer eks HTI itu seolah mendukung Kang Dedi yang mengangkat budaya Sunda. Tapi, katanya, jangan yang mengandung syirik dan bertentangan sama ajaran Islam. “Jangan sampai dengan alasan budaya malah nabrak syariat, bikin sesajen, nyembah sana-sini. Itu tidak boleh,” katanya.

Menurutnya, buat umat Islam, yang penting itu agamanya, bukan budayanya. Bahkan dia bilang, Islam itu udah jadi budaya sendiri. Dan di akhirat nanti, katanya, yang ditanya tuh soal agama, bukan budaya. Sekilas, omongan Influencer eks HTI itu terdenger soft spoken dan islami banget ya. Tapi kalau dipikir lebih dalam, banyak dari omongannya yang perlu kita lurusin.

Pertama, nggak semua budaya itu syirik. Syirik itu artinya menyekutukan Allah. Syirik itu terjadi kalo kita menganggap ada entitas lain di luar Allah yang dianggap setara atau lebih agung dari Allah. Nah, apakah upacara adat atau sesajen itu tindakan yang mengarah pada kesyirikan? Belum tentu. Karena nggak semua atribut atau tradisi yang berbeda dengan atribut atau tradisi dalam Islam itu disebut syirik.

Misalnya, sesajen. Dalam budaya Nusantara, sesajen itu simbol syukur dan simbol harapan. Sesajen bukan bentuk penyembahan. Sesajen itu mirip bunga yang kita tebar di atas makam orangtua kita ketika ziarah.

Kedua, budaya Nusantara kita itu warisan nenek moyang kita yang juga punya nilai luhur. Dari cara menghormati orangtua, hidup rukun dengan sesama, menjaga alam, sampai koneksi dengan sang pencipta. Masa nilai-nilai luhur itu mau dibuang cuma karena nggak nampak ‘islami’?

Ketiga, emang buat Muslim, Islam itu utama. Tapi bukan berarti budaya harus dimusuhi. Justru budaya itu bisa jadi jembatan untuk mendakwahkan Islam. Contohnya apa yang dilakukan Walisongo di Tanah Jawa. Mereka nyebarin Islam lewat seni lokal, simbol lokal, dan tradisi lokal. Islam bisa tumbuh subur di Nusantara ya karena merangkul budaya lokal. Bukan merendahkan budaya lokal, apalagi sampai menghapusnya.

Walisongo tahu, kalau ajaran dan keindahahan Islam mau nyampe ke hati banyak orang, ya mereka harus disentuh lewat bahasa dan budaya mereka sendiri.

Keempat, soal nama dan simbol, kenapa harus diributin? Apa salahnya RS Al-Ihsan diganti jadi RS Welas Asih? Emangnya kalau nggak pakai nama Arab, terus jadi anti Islam? Masa semua harus di-Arab-kan biar dianggap Islami?

Kelima, hati-hati gampang menuduh orang lain syirik cuma karena mau lestarikan budaya sendiri. Dampaknya bisa serius. Kita berpotensi kehilangan jati diri sebagai bangsa.

Btw, influencer eks HTI ini bukan cuma berpikirnya aja yang sempit. Dia juga sering menyerang figur-figur yang nggak satu pandangan dengannya. Dia, misalnya, pernah bikin konten berjudul “Pak Said Aqil Kapan Wafatnya ya?” di kanal YouTube-nya pada Januari 2020. Pak Said Aqil yang dimaksud adalah mantan Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj, yang memang dikenal kritis terhadap kelompok-kelompok radikal.

Dia juga pernah menghina Presiden Jokowi soal kebijakan penanganan Corona. “…Itu presidennya siapa sih? Goblok banget dah. Ini lagi ada virus, darurat kesehatan. Kok yang diterapin malah kebijakan darurat sipil?” katanya dalam video yang beredar. “Orang goblok kok bisa jadi presiden. Emang nggak ada yang lebih pintar lagi apa?” lanjutnya.

HTI memang sudah dibubarkan badan hukum oleh pemerintah pusat pada 2017. Tapi bukan berarti ideologi dan figur-figurnya tiarap. Yuk, beragama dengan akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img