Mantan Rektor UGM yang menuduh Pak Jokowi memalsukan ijazah mendadak meralat dan minta maaf. Padahal tuduhannya itu belum sampai 24 jam diposting di kanal YouTube. Jadi, Rektor UGM 2002-2007, Prof. Sofian Effendi, berubah sikap soal ijazah Pak Jokowi.
“Saya menarik semua pernyataan saya di dalam video tersebut dan memohon agar wawancara dalam kanal YouTube tersebut ditarik dari peredaran,” tulisnya dalam surat pernyataan bermeterai bertanggal 17 Juli lalu. Dia juga membenarkan pernyataan Rektor UGM, Prof. Dr. Ova Emilia, soal ijazah Pak Jokowi.
Sofian mengira pernyataannya itu disampaikan dalam ruang diskusi privat antaralumni. Tapi begitu tahu rekamannya menyebar luas, Sofian kaget. Dia pun minta maaf. “Saya mohon maaf setulus-tulusnya kepada semua pihak yang saya sebutkan pada wawancara tersebut,” katanya.
Sebelumnya, Sofian mengeluarkan tuduhan serius soal ijazah Pak Jokowi. Pernyataanya itu diposting dalam live streaming di kanal YouTube, Langkah Update, pada 16 Juli lalu. Sofian bilang Pak Jokowi nggak lulus dari Fakultas Kehutanan UGM. Dia juga bilang Pak Jokowi nggak lulus di UGM karena performa 2 tahun pertama kuliahnya buruk.
Dia juga bilang Pak Jokowi nggak memenuhi syarat lanjut program S1. “Ada empat semester dinilai kira-kira 30 mata kuliah, dia indeks prestasinya tidak mencapai,” ucap Sofian. Dia juga singgung transkrip nilai Pak Jokowi yang pernah dipamerkan Bareskrim Polri. “IPK-nya itu nggak sampai dua, kan. Kalau sistemnya benar, dia tidak lulus atau di-DO istilahnya. Hanya boleh sampai sarjana muda,” katanya.
Sofian juga menuduh skripsi Pak Jokowi hasil contekan dari pidato dekan di UGM bernama Prof Sunardi. “Tidak pernah lulus. Tidak pernah diujikan. Lembar pengesahannya kosong,” katanya. Dia juga membenarkan rumor ijazah Pak Jokowi palsu. Sofian menduga Pak Jokowi meminjam ijazah adik iparnya, Hari Mulyono, lalu ijazahnya itu dipalsuin Pak Jokowi. “Itu kan bukan foto dia. Itu penipuan besar-besaran itu,” ucapnya.
Pernyataan Sofian itu langsung viral dan diamplifikasi musuh-musuh politik Pak Jokowi. Rektor UGM, Prof. Dr. Ova Emilia, yang pernah membenarkan ijazah Pak Jokowi langsung diserang. Sekretaris UGM, Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, sampai harus merespons pernyataan Sofian itu. Dia tegasin pernyataan Sofian itu salah. “Pernyataan Prof. Sofian Effendi tidak sesuai dengan data dan bukti akademik yang kami miliki,” ucap Andi.
Menurutnya, data resmi UGM konsisten nunjukin Pak Jokowi terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan tahun 1980 dan lulus tahun 1985. Dia menyelesaikan seluruh proses akademik sesuai ketentuan, termasuk ujian skripsi, dan sah menyandang gelar insinyur, katanya.
Tapi, kurang dari 24 jam, Sofian menarik semua pernyataan itu. Apa yang terjadi pada Sofian ini menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan. Bagaimana mungkin mantan Rektor UGM bisa membuat pernyataan yang nggak sesuai dengan data dan fakta? Di mana integritas dan tanggung jawab moralnya sebagai seorang akademisi dan figur penting?
Memang belakangan dia menarik semua pernyataanya. Dia berdalih dia nggak tahu forum itu sedang disiarkan. Ini jelas nggak masuk akal mengingat dalam forum itu jelas-jelas ada kamera dan percakapan dalam forum itu disiarkan secara live. Kalau dia yakin tuduhan-tuduhanya itu benar, kenapa dia takut ucapannya diketahui publik?
Kasus Prof. Sofian ini ngingetin kita bahwa hoaks itu nggak selalu datang dari akun anonim. Kadang, hoaks bisa datang dari orang-orang yang seharusnya jadi penjaga integritas. Dan yang paling ngeri: satu kalimat fitnah bisa viral dalam hitungan jam, tapi butuh kerja keras satu universitas buat membantahnya.
Iba kita melihat Prof. Sofian terperosok dalam kubangan lumpur di waktu senjanya. Semoga kejadian ini jadi pelajaran penting buat Prof. Sofian dan kita semua.


