Indonesia Akan Bubar Tahun 2030, Serius?

Published:

Indonesia bakal bubar di tahun 2030. Begitu narasi dalam postingan akun Instagram @gen.uncllodhe pada 11 Juli lalu. Dikatakan, Indonesia bakal bubar pada 2030 karena tiga hal. Pertama, korupsi di Indonesia yang nggak kunjung usai, meski pejabat korup ditindak.

Kedua, keinginan beberapa daerah untuk memisahkan diri. Contohnya Timor Leste yang sudah lepas dari Indonesia. Papua yang kini menunjukkan kecenderungan serupa dan ingin merdeka dari Indonesia. Ditambah, kata narasi itu, alam Papua dieksploitasi, tapi pembangunannya nggak terlihat.

Ketiga, kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin yang semakin lebar. Kesenjangan itu seakan menciptakan dua dunia yang berbeda. “Kalau tiga hal ini dibiarkan terus, negara bisa kehilangan kepercayaan rakyat,” tutup narasi dalam video itu. “Indonesia terpecah dari dalam dan akhirnya gak bisa berdiri utuh lagi,” lanjutnya.

Narasi dalam video itu juga mengutip novel fiksi *Ghost Fleet*. Novel itu karya P.W. Singer dan August Cole bergenre fiksi ilmiah techno-thriller. Diterbitkan tahun 2015, isi novel itu berlatar masa depan dan menggambarkan skenario perang global antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia. Dalam novel itu, Indonesia cuma disebut sekilas sebagai bekas Republik Indonesia dalam beberapa bagian.

Indonesia dikatakan sudah bubar tahun 2030 tanpa penjelasan rinci soal penyebab atau proses bubarnya Indonesia. Yang penting digarisbawahi, Indonesia dikatakan sebagai negara yang sudah bubar pada tahun 2030 ya dalam konteks fiksi. Bagian dari narasi fiksi untuk mendukung cerita tentang konflik global. Itu bukanlah prediksi ilmiah atau kajian faktual.

Narasi Indonesia bubar tahun 2030 nampaknya dimanfaatkan sebagian pihak untuk menebar ketakutan di masyarakat. Entah apa demi tujuan apa. Tapi kalau kita telaah, narasi Indonesia bubar dalam postingan Instagram itu penuh kelemahan. Contohnya korupsi. Kita tahu korupsi adalah masalah besar di Indonesia. Tapi apakah hanya karena ada kasus korupsi, negara otomatis bubar? Belum tentu.

Justru kalau ada kasus korupsi yang terungkap ke publik, menunjukkan suatu negara itu sehat. Apalagi kalau pelaku ditangkap dan diadili. Di Indonesia, sudah nggak terhitung berapa banyak pejabat publik yang pakai rompi orange dan diseret ke meja pengadilan. Mulai dari menteri, kepala daerah, anggota DPR RI, sampai pejabat aparat hukum sendiri.

Memang pemberantasan korupsi dinilai belum maksimal. Memang vonis kepada pejabat koruptor sering nggak mencerminkan rasa keadilan publik. Tapi, pemberantasan korupsi tetap berjalan. Dan kita harapkan efek jera buat pejabat publik terbukti melakukan korupsi terus ditingkatkan.

Lalu isu disintegrasi. Timor Leste memang sering dipakai untuk menggambarkan betapa rentannya Indonesia dengan perpecahan. Tapi kita belajar dari kasus Timor Leste buat merespons wilayah lain yang ingin memerdekakan diri. Pemerintah mengupayakan pendekatan damai dan memberikan perhatian ekstra. Pembangunan dilakukan dan dana khusus disiapkan. Dan itu dikerjakan dengan melibatkan, misalnya, dengan rakyat Papua.

Kemudian soal kesenjangan sosial. Jurang antara kaya miskin memang terjadi di Indonesia, termasuk di negara-negara maju. Tapi pemerintah sudah menyiapkan rencana jaring penyelamat buat saudara-saudara kita yang kurang, bahkan sangat tidak mampu. Program-program bantuan sosial itu di antaranya Bantuan Langsung Tunai, Program Keluarga Harapan, Kartu Prakerja, bantuan UMKM.

Pemerintah juga sedang mendorong hilirisasi industri untuk membuka lapangan kerja di berbagai daerah. Indonesia memang bukan negara yang sempurna. Tapi mengatakan Indonesia akan bubar itu berlebihan dan nggak berdasar. Logika narasi itu lemah, mencampur fakta dan fiksi, dan menyebarkan pesimisme.

Indonesia memang punya banyak tantangan, tapi kita juga punya banyak kekuatan. Indonesia nggak akan bubar. Indonesia justru tumbuh dan akan terus maju!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img