Kunjungan Roy Suryo dan Kelompoknya ke makam keluarga Pak Jokowi direspons negatif. Berbagai pihak mengecam tindakan Roy dan Kelompoknya itu. Video kunjungan mereka ke makam keluarga Pak Jokowi muncul pertama kali di channel YouTube Refly Harun. Dalam rekamannya, dr. Tifa nunjuk makam sambil bilang, “Ini bentuk makam yang nggak lazim, bahkan untuk orang Jawa sekalipun”.
Dari situ, publik langsung meledak, soalnya itu bukan makam biasa. Di situ dimakamkan ibunda Jokowi, almarhumah Sudjiatmi Notomihardjo dan ayahandanya, Widjiatno Notomihardjo. Tempat itu dikenal warga sebagai Pemakaman Mundu—ruang yang dijaga kesakralannya. Jadi wajar kalau kehadiran Roy Cs dianggap kelewat batas.
Kecaman pun berdatangan. Salah satunya dari Sekjen Peradi Bersatu, Ade Darmawan, yang menyebut aksi mereka menyedihkan. “Yang menyedihkan itu, TiRoRis datang ke makam. Ini hubungannya apa sih? Gara-gara orang seperti ini, analogi kita jadi buntu”, ucap Ade. Sedangkan dari PSI, reaksi lebih keras lagi. Wakil Ketum Andy Budiman menilai Roy dan Tifa kehabisan akal buat menjelekkan Jokowi. “Akhirnya pergi ke makam yang entah apa relevansinya. Tindakan mereka tidak bermoral dan cuma kejar sensasi”, lanjutnya.
Di media sosial, komentar netizen nggak kalah pedas. “Kok titelnya pada berubah yaaa.. Jadi peneliti Makam. Sangat sangat terhina mereka mereka,” tulis komentar salah satu netizen. “Heran sama pemujanya,tifa setiap debat slalu bilang etika etika dia sndri g punya etika”, tulis yang lain. “si Suryo cs cari makan sampai segitu ya menghalalkan segala cara,ingat hidup itu tabur tuai”, tambah yang lain. “gak ada otaknya,!bukan gak bermartabat lagi.! gua BKN pendukung PK Jokowi dr dua periode ..tp nyesek banget jk lihat kayak gini”. “orang Jawa keberatan jika adat dan adab makam leluhur di buat mainan …” komentar yang lain.
Kalau kita telusuri lebih dalam, secara budaya emang tindakan itu jelas melanggar norma. Dalam tradisi Jawa, makam itu ruang sakral, bukan tempat konten provokatif. Apalagi di video itu terdengar percakapan yang dianggap nggak pantas di tempat peristirahatan terakhir seseorang. Makanya banyak yang bilang: ini udah bukan soal politik, tapi soal etika dan kemanusiaan.
Roy sendiri belum kasih klarifikasi jelas. Dia cuma bilang tindakannya “kajian ilmiah, bukan fitnah”. Bagi kami di Gerakan PIS, tindakan itu nggak bermartabat. Makam bukan panggung politik, bukan tempat cari sensasi. Orang yang udah meninggal berhak atas ketenangan, bukan dijadikan bahan pembuktian publik. Kebebasan berekspresi tetap penting, tapi harus berhenti ketika melukai nilai kemanusiaan. Kritik terhadap pejabat boleh banget, asal dilakukan dengan cara yang beradab. Jangan sampai demi viral, kita kehilangan rasa hormat terhadap yang sudah tiada. Indonesia nggak butuh pertunjukan yang menyinggung nurani—kita butuh kritik yang menjaga empati, menghormati tradisi, dan tetap manusiawi. Stop cari sensasi pakai cara yang nggak berakal!


