Roy, Tifa, Dan Rismon Pecah Kongsi?

Published:

Beneran Roy Suryo, Tifauzia Tyassuma dan Rismon Sianipar pecah kongsi? Penyebabnya, Rismon disebut sakit hati karena namanya tidak diakui sebagai peneliti yang ikut meneliti ijazah Pak Jokowi dan Mas Gibran. Bahkan, Rismon juga tidak terlihat saat Roy Suryo cs mendatangi makam ibunda Jokowi. Pernyataan ini disampaikan YouTuber Khaerun Imam dalam salah satu kontennya pada 15 Oktober yang lalu. Khaerun sendiri diduga pendukung Mas Gibran. Judulnya “Pembenci Jokowi Berantem! Rismon Ngamuk ke Tifa Karena Tidak Dianggap Lagi Sebagai Ahli.” Video itu telah ditonton 70 ribu kali.

Dalm video itu Khaerun menyebut Rismon tidak hadir dalam konferensi pers Roy Suryo cs, bahkan ketika rombongan itu mendatangi KPU. Khaerun lalu berspekulasi, jangan-jangan karena masalah anggaran, atau mungkin karena Roy Suryo cs “membuang” Rismon. Dalam videonya, Khaerun menampilkan cuplikan wawancara Tifa yang menjelaskan peran masing-masing dalam penelitian tersebut. “Ya, kita ketat dengan domain masing-masing. Saya fokus pada domain perilaku karena berkaitan dengan kultur dan budaya,” ujar Tifa. “Kemudian Pak Roy Suryo terkait dengan telematika, informatika, dan digital forensik, nanti akan dilihat juga aspek hukumnya. “Nanti Pak Refly Harun juga akan menyumbang tulisan,” lanjutnya. “Jadi kami memang komprehensif sekali. Pisau analisis yang kami gunakan benar-benar komprehensif,” tegas Tifa. Memang, dalam pernyataan Tifa, nama Rismon Sianipar tidak disebut.

Dalam kontennya, Khaerun menampilkan pernyataan Rismon yang mengaku siap berjuang sendirian karena merasa didukung rakyat Indonesia. “Walaupun saya seorang diri, saya yakin penonton saya banyak yang mendukung saya,” ujar Rismon. “Seorang Rismon, rakyat jelata yang tidak punya pangkat atau jabatan apa pun, tapi diabaikan,” lanjutnya. Pertanyaannya: Apakah benar Roy, Tifa dan Rismon pecah kongsi? Sejauh ini belum diketahui pasti. Isu pecah kongsi antara Roy, Tifa dan Rismon hanyalah spekulasi yang belum didukung dengan bukti yang cukup kuat. Karena itu, kita perlu bersikap kritis terhadap isu pecah kongsi di antara mereka.

Tapi, kita tidak boleh melupakan apa yang sudah dilakukan Roy, Tifa dan Rismon terhadap Pak Jokowi dan keluarganya. Roy, Tifa, dan Rismon selama ini aktif menyebarkan narasi ijazah palsu Pak Jokowi dan Mas Gibran. Padahal, ijazah Pak Jokowi dan Mas Gibran sudah dinyatakan asli. UGM menyatakan ijazah Pak Jokowi asli. Sementara Management Development Institute of Singapore (MDIS) menyatakan ijazah Mas Gibran asli. Selain itu, Roy, Tifa, dan kelompoknya mendatangi makam ibunda Pak Jokowi. Purnawirawan polisi Irjen Pol (Purn) Ricky Sitohang bilang apa yang mereka lakukan sangat tidak pantas, bahkan disebut biadab. Ia menilai tidak ada alasan untuk mencampuri urusan keluarga orang lain. Ricky juga menyayangkan tindakan kelompok itu yang sebenarnya terdiri dari orang-orang berpendidikan, namun mengambil langkah yang dangkal dan tidak manusiawi. Langkah seperti ini bukan hanya tidak beretika, tetapi juga menodai batas kemanusiaan serta norma sosial.

Kunjungan Roy, Tifa dan kelompoknya jelas sudah di luar batas kewajaran. Tidak ada alasan akademik, hukum, atau politik yang bisa membenarkan tindakan yang menyerang ranah pribadi seseorang, apalagi dengan cara merendahkan. Pada akhirnya, perbedaan pendapat dan kritik terhadap pejabat publik sah-sah saja dalam demokrasi. Tetapi ketika kritik berubah menjadi fitnah dan penghinaan terhadap keluarga, nilai moral dan rasionalitas publik ikut terdegradasi. Isu pecah kongsi antara Roy, Tifa dan Rismon menurut kami di PIS tidaklah terlalu penting. Yang penting adalah perjuangan atas nama “kebenaran” yang diklaim Roy, Tifa dan Rismon tidak bisa dijalankan dengan cara yang tidak bermartabat dan di luar kepantasan. Kebenaran sejati tak pernah lahir dari kebencian. Yuk proporsional dalam bersikap!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img