Gila sih, bisa-bisanya ada pimpinan pondok pesantren yang tega mencabuli 20 santriwatinya sendiri. Modusnya? Ngaku-ngaku mau “mensucikan rahim” biar keturunannya jadi anak sholeh. Jijik banget kan? Kasus ini diungkap oleh akun Instagram @winnews_ tanggal 29 Oktober lalu. Akun itu nunjukin Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram mengungkap dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang pimpinan yayasan pondok pesantren di Lombok Barat berinisial AF (60). Ketua LPA, Joko Jumadi, bilang udah ada 20 nama korban yang dikantongi. Rata-rata korbannya itu alumni pesantren. Menurut Joko, modus AF ini manipulatif parah.
AF janjiin “keberkatan rahim” biar para korban bisa lahirin anak yang bakal jadi wali. “Yang diduga mengalami persetubuhan sekitar 10 orang, sisanya mengalami pencabulan. Semuanya masih anak-anak saat kejadian,” beber Joko. Yang cabuli sempat diraba, tapi mereka menolak saat mau diberikan keberkatan di rahimnya. Aksi bejat AF ini udah berlangsung lama banget, dari 2016 sampai 2023. Cara AF melancarkan aksinya itu, korban diajak ke ruang kelas sendirian. “Diajak satu-satu ke ruangan, dimanipulasi secara psikologis. Biasanya kejadiannya tengah malam jam 1 atau 2,” jelas Joko. AF udah dicopot dari jabatannya setelah kasusnya terungkap.
Akhirnya AF ditetapkan jadi tersangka kasus kekerasan seksual. Setelah itu, Polresta Mataram langsung nahan AF. Sidang sudah berjalan di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, tapi belum ada kabar soal putusan final yang diumumkan. Netizen pun ramai-ramai berkomentar dan mention Menteri Agama. “Menteri Agama : Jangan terlalu dibesar besarkan itu masih jumlah yang sangat sangat masih sedikit” tulis seorang netizen. “No komen deh, takut dibilang “kalau gak pernah mondok mending diem” tulis netizen lain sinis. “Mensucikan dgn kelakuan setan demi anak soleh?? Gmn logikanya??” tulis yang lainnya. FYI, kasus ini udah sempat viral pada April 2025, pas film Bidaah lagi booming di TikTok. SS Bidaah itu film Malaysia tentang ustaz bernama Walid yang nyalahgunakan agama buat nyiksa murid-murid ceweknya.
Banyak yang bilang film itu kayak cerminan kasus nyata kekerasan seksual di pesantren. Kasus ini jadi naik lagi gara-gara Menag Nasaruddin Umar bilang kekerasan seksual di pesantren itu “cuma sedikit.”, terlihat besar gara-gara dibesar-besarkan oleh media. Pernyataan Menag pun dikritik banyak pihak, Menag dianggap tutup mata atas banyaknya kasus kekerasan seksual di pesantren selama 5 tahun terakhir. Salah satu yang mengkritik keras adalah Guru Gembul. “Bayangin ya, setiap dua hari sekali ada satu kasus kekerasan seksual di pesantren, masak dibilang sedikit!” ucap Guru Gembul gemas.
Guru Gembul juga bawa data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Dalam 6 bulan pertama tahun 2025 aja, ada 130 laporan kekerasan seksual di pesantren. “Itu bukan angka kecil, Pak. Dan malah banyak kasus yang nggak diliput media,” lanjutnya. Menurutnya, Menag yang dikenal bijak malah kelihatan menyepelekan kasus kemanusiaan. Abis itu makin banyak netizen yang ngebongkar ulang kasus-kasus serupa. Sekarang udah jelas banget, kekerasan seksual di pesantren tuh bukan hal kecil dan bukan cuma satu dua kasus. Jadi, yang dibilang “sedikit” itu maksudnya gimana, Pak Menag? Udah ada banyak banget data, korban, dan laporan nyata. Jangan karena pengen jaga citra pesantren, malah tutup mata dari kenyataan pahitnya.
Yang dibutuhin bukan pembelaan, tapi pembersihan dari dalam. Pesantren harus berbenah, bukan sibuk klarifikasi sana-sini. Kalau banyak orang tua mulai ragu nyekolahin anaknya ke pesantren, itu alarm bahaya, bukan bahan bantahan. Jangan lindungi yang salah cuma demi nama baik lembaga. Jadi, Pak Menag, yuk, sudah waktunya buka mata dan hati!


