Polemik Kartun Bermuatan LGBT yang Tayang di Non-Televisi

Published:

Kecurigaan konten bermuatan LGBT di kartun anak-anak mengemuka. Salah satunya disampein akun Instagram @yudhaoday melalui video yang diposting pada 15 Oktober lalu. Video itu berisi peringatan untuk berhati-hati dengan apa yang ditonton anak-anak. Bisa jadi sekelas kartun anak justru menyusupkan nilai-nilai LGBT.

Video itu juga mengutip cuplikan adegan di sebuah kartun dimana sang anak bernyanyi. Begini liriknya ”rasanya sakit sekali. Tapi papa dan ayahku siap bantu” yang disertai adegan 2 pria yang diduga ”ayahnya” menghampiri sang anak. Video itu juga bilang anak-anak akan belajar dari apa yang mereka lihat. Menurut Yudha, sang pembuat video, setiap warna, simbol, atau karakter dalam media bisa membawa pesan tertentu. Baik disadari maupun tidak.

Di video itu juga dihadirkan cuplikan dari serial animasi Baymax episode keempat. Disitu, 2 orang pria saling ngobrol dan salah satu tokoh mengajak pria ini ”berkencan”. Ada juga kartun lain yang menampilkan 2 pria yang sudah menikah dan saling bergandengan tangan. Cuplikan lain menampilkan 2 gadis berciuman, hingga tokoh pria di kartun lain yang pake baju layaknya wanita. Bahkan animasi Spongebob dan Donald Duck juga ikut menampilkan unsur LBGT. Menurut Yudha, para pembuat kartun menargetkan anak-anak karena lebih gampang dipengaruhi melalui pemrograman (pikiran) sejak dini. Konten itu juga spill berbagai kasus dari LGBT, bahkan sampai ada yang menjerat anggota TNI.

Menyikapi hal ini, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ngaku itu bukan kewenangan mereka. Wakil Ketua KPI DKI Jakarta Rizky Wahyuni bilang alasannya karena kartun itu nggak tayang di televisi (TV). Baik itu TV publik, swasta maupun TV berlangganan yang jadi ranah pengawasan KPI. “Kartun tersebut ditayangkan di over the top (OTT) kanal YouTube yang notabene bukan termasuk dalam kewenangan pengawasan kami.” kata Rizky. ”Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran kewenangan KPI hanya pada pengawasan televisi terestrial dan radio,” lanjutnya. Rizky bilang KPI tetap pada koridor kewenangannya untuk mengontrol muatan televisi agar sesuai dengan regulasi. Demi menciptakan siaran yang berkualitas, menjunjung etika, moral dan norma di masyarakat. Rizky minta lembaga penyiaran juga harus berkomitmen menyuguhkan siaran yang menjunjung norma tersebut Dengan nggak tayangin konten LGBT maupun konten siaran yang mengarah kepada gimik, gestur, maupun verbal yang mengarah ke LGBT.

Memang ada beberapa kartun yang menyusupkan konten LGBT seperti yang dikutip dari website Mommies Daily. Di antaranya film Inside Out 2, film disney berjudul Lightyear, animasi The Loud House, Sailor Moon, bahkan ada yang dari Indonesia loh. Judulnya Lellobee City Farm Indonesia. Fenomena kemunculan konten LGBT dalam beberapa tayangan anak-anak memang munculin perdebatan di Masyarakat. Terutama terkait gimana anak-anak bakal menyerap nilai dan norma dari media yang mereka konsumsi.

Penting untuk dipahami bahwa narasi kecurigaan terhadap konten anak-anak yang diduga bermuatan LGBT sebaiknya tidak membuat siapa pun terbawa perasaan secara berlebihan. Kaum pro-LGBT tidak perlu merasa terancam atau tersudut. Sementara kaum non-LGBT juga tidak perlu paranoid atau merasa akan “terpengaruh” oleh tayangan tersebut. Orientasi seksual seseorang relatif ajeg dan tidak bisa dipaksakan atau diubah hanya karena lingkungan atau media. Adapun orang heteroseksual tetap akan heteroseksual meski dikelilingi oleh komunitas LGBT. Sebaliknya, individu yang hetero namun kemudian menyadari orientasi berbeda sebenarnya memang non-hetero. Bukan karena “terpengaruh” konten tertentu.

Masyarakat juga bisa menekankan penghargaan terhadap keberagaman dan hak individu. Anak-anak pun dapat belajar nilai empati dan toleransi secara seimbang, kritis, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Tentunya sambil tetap terlindungi dari pengaruh konten yang belum sesuai untuk usia mereka. Yuk bijak dalam menyikapi suatu fenomena!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img