Mayjen Rio Firdianto membuat pernyataan menghebohkan, terkait banjir di Sumatra. Rio menyebut bahwa banjir dan longsor murni akibat curah hujan ekstrem. Ia menyatakan pantauan udara yang dilakukannya tidak menunjukkan adanya penggundulan hutan yang signifikan. Rio juga menekankan, bahwa pohon tumbang berasal dari hutan yang masih ada. Menurutnya, tanah jenuh airlah yang memicu longsor alami.
Rio adalah Panglima Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan. Dia memimpin wilayah pertahanan meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau. Tugas utamanya adalah menjaga kedaulatan dan keamanan. Termasuk ikut serta dalam penanggulangan bencana di wilayah tugasnya.
Pernyataan Rio itu berbeda dengan fakta di lapangan. Menurut data analisis citra satelit, hutan di Sumatra kondisinya memprihatinkan. Peta tutupan lahan menunjukkan penyusutan hutan di berbagai kabupaten Sumatra. Area yang menyusut sebagian berubah menjadi perkebunan sawit. Beberapa wilayah yang dulu hijau, kini bercorak cokelat dan kuning.
Narasi Mayjen Rio itu juga kontras dengan kondisi banjir di lapangan. Tumpukan kayu gelondongan terlihat dibawa arus banjir di berbagai titik. Temuan itu menimbulkan dugaan kuat adanya pembalakan liar di hulu sungai. Aktivitas tersebut dianggap berkontribusi memperparah kerentanan Daerah Aliran Sungai. Para pakar hidrologi menilai perubahan tutupan lahan mempengaruhi kapasitas serapan air. Hutan hujan tropis memiliki kemampuan menahan air jauh lebih tinggi. Ketika hutan hilang, limpasan permukaan meningkat drastis. Limpasan yang besar itu mempercepat aliran air ke hilir.
BMKG juga menjelaskan dari sisi meteorologis terkait bencana tersebut. Lembaga itu menyebut curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu awal. Tapi bukan satu-satunya faktor penentu. Tanah yang kehilangan penutup vegetasi, lebih mudah jenuh air. Hal itu membuat lereng rentan longsor. Banjir pun lebih cepat meluap karena tidak ada penyangga alami.
Pernyataan Mayjen Rio itu mendatangkan kecaman netizen di medsos. Akun @HukumDan menyindir di platform X, “Jenderal bilang A, berarti A lah faktanya. Media jangan berani macem-macem.” Sindiran itu ingin menunjukkan bahwa pernyataan Rio itu tidak logis dan mengada-ada. Sementara akun @nama_disamarkan bilang, “Pasti mata Jenderal Rio silau lihat ‘hutan’ sawit, jadi gak kelihatan kalau hutannya sudah gundul.” Pernyataan ini mengaitkan penggundulan hutan yang beralih fungsi jadi lahan sawit dengan banjir. Tapi anehnya, alih fungsi itu tidak dianggap oleh Rio sebagai bukti penggundulan hutan.
Ada juga netizen yang curiga, Rio itu terlibat dalam penggundulan hutan itu. Akun @zak misalnya menulis, “Mencurigakan, apa dia jadi bekingan?” Kesannya, Rio sedang menutupi fakta penggundulan hutan dengan pernyataannya itu. Netizen lain dengan akun @erna_st berkata, “Jenderal masuk angin? Air bah penuh kayu gelondongan masih belum cukup untuk membuka matamu? Dia ingin menunjukkan bahwa kayu gelondongan itu bukti yang tak terbantahkan.
Pernyataan Mayjen Rio memang bermasalah dan layak untuk dikecam netizen. Kita berharap pernyataan Rio itu semata lahir dari ketidaktahuannya. Bukan karena dia dan jajarannya jadi beking dari aksi penggundulan hutan. Sebagaimana yang dicurigai oleh netizen akibat dari indikasi keberpihakannya. Kita juga berharap Panglima TNI menertibkan oknum seperti Rio ini. Ayo bersama-sama jaga hutan kita, agar kelak tidak ada lagi bencana serupa!


