Ketika Catheez Bertanya ke Anies Soal Ahok

Published:

Emang bisa ya Cina nyaleg? Kayaknya Cina dibenci nggak sih kalau nyaleg? Pertanyaan polos itu keluar dari Catheez, salah satu member Bocah-Bocah Kosong (BBK). Pertanyaan itu keluar saat BBK menggelar special show pada 14 November lalu di Balai Kartini, Jakarta. Anies Baswedan hadir dalam acara itu sebagai mystery guest.

Potongan video special show itu beredar di media sosial melalui akun Instagram WKWK Project, media pembuat konten yang menaungi BBK. Konteks obrolan itu adalah syarat yang dibutuhkan jika seseorang ingin menjadi anggota DPR. Anies lalu menyebut sejumlah syarat. Yaitu modal popularitas, modal ide atau gagasan, modal keturunan, dan modal uang. Dalam konteks itulah keluar pertanyaan polos Catheez di atas. Emang bisa ya Cina nyaleg? Kayaknya Cina dibenci nggak sih kalau nyaleg? Cina yang dimaksud Catheez di sini tentu warga negara Indonesia yang beretnis Cina.

Pertanyaan Catheez lantas dibantah Vior, member BBK lainnya. “Lho, Ahok?” sanggah Vior. “Ahok kan dibenci,” jawab Catheez. “Oh iya? Cuma Cina-Cina yang suka ya?” tanya Vior. Di tengah perdebatan itu, Anies menengahi. Kata Anies, semua warga negara Indonesia punya hak untuk dicalonkan. Tapi, menurutnya, kita nggak boleh maksa orang milih dia. “Kita nggak boleh juga maksa orang menolak,” katanya. “Oh berarti Pak Ahok maksa orang milih?” tanya Catheez yang bikin Anies dan peserta lainnya tertawa. Belum selesai tawa mereda, pernyataan Vior bikin suasana makin ger. “Tapi kan dia di penjara!” Pernyataan Vior itu lalu ‘disapuin’ host BBK, Coki. “Itu beda lagi,” katanya.

Apa yang dikatakan Catheez itu valid dalam politik Indonesia. Politisi yang berlatar etnis Cina dan beragama Kristen sering kali sulit memperoleh dukungan publik, terutama ketika pilkada di wilayah yang dominan Muslim. Contohnya yang jelas di depan mata ya Ahok. Ahok dijegal dalam Pilkada 2012 ketika dia mendampingi Jokowi. Ketika itu, banyak beredar kampanye hitam yang menyerang pasangan Jokowi-Ahok. Dikatakan, jika terpilih memimpin Jakarta, Jokowi-Ahok akan menyingkirkan umat Islam dan pribumi di Jakarta.

Serangan ke Ahok semakin menjadi-jadi ketika Jokowi terpilih menjadi presiden dan Ahok mengisi jabatan Gubernur Jakarta yang ditinggalkan Jokowi. Yang getol menolak Ahok adalah Front Pembela Islam (FPI). Pada Oktober 2014, sekitar 200 massa FPI berdemonstrasi menolak Ahok sebagai gubenur. Demonstrasi itu berujung rusuh setelah massa FPI melempari Balai Kota dan Gedung DPRD dengan batu sebesar kepalan tangan dan kotoran hewan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk mendelegitimasi Ahok.

Meski begitu, nama Ahok selalu berada di urutan teratas kandidat yang akan dipilih dalam Pilkada Jakarta 2017 menurut berbagai lembaga survei. Penolakan terhadap Ahok mulai membesar ketika pernyataannya di hadapan para nelayan di Kepulauan Seribu dipelintir. Dia di-framing seolah merendahkan Surat Al-Maidah Ayat 51. Dia pun dituduh melakukan penistaan agama. Kesempatan itu dimanfaatkan FPI dan kelompok Islam lainnya untuk menjegal Ahok. Demonstrasi berjilid-jilid dilakukan agar Ahok segera dipidanakan.

Pada yang sama, Anies yang menjadi kompetitor Ahok Pilkada Jakarta 2017 merapat ke FPI. Aliansi Anies-FPI sebenarnya aliansi yang anomali, mengingat Anies sebelumnya mengkritik kelompok yang suka melakukan kekerasan dan merusak tenun kebangsaan. Dua karakter yang identik dengan FPI. Saat debat kandidat, Anies menyalahkan Ahok sebagai sumber provokasi SARA dalam pilkada. Anies juga bungkam terhadap segala manuver FPI dan kelompok Islam kanan lainnya yang jelas-jelas menjegal Ahok dengan isu etnis dan agama. Aliansi Anies-FPI ini berhasil mengantarkan Anies memenangkan kursi DKI 1.

Balik ke potongan video special show BBK tadi. Ketika Anies bilang semua warga negara Indonesia punya hak untuk dicalonkan, kita jangan buru-buru terkesima. Seolah dia sosok yang pro-kesetaraan dan seorang demokrat sejati. Faktanya, Anies itu beraliansi dengan FPI dan kelompok Islam kanan lainnya. Kelompok yang memaksa warga agar nggak memilih Ahok dengan berbagai manuver, mulai dari intimidasi, penolakan jenazah Muslim yang mendukung Ahok untuk dishalatkan, hingga pengeroyokan. Anies nggak konsisten dengan pernyataannya. Anies seorang politisi yang pragmatis.

Kita nggak usah menampik semua apa yang dikatakan Anies. Kita tetap perlu mendengar apa yang dikatakan Anies. Tapi, kita dengarkan secara kritis dengan membandingkan apa yang dikatakannya dengan rekam jejaknya. Yuk, jadi netizen yang kritis!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img