Belakangan ini ramai soal pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di sejumlah wilayah Aceh. Situasi ini jadi sensitif karena terjadi di tengah duka akibat banjir dan longsor. Yang mengibarkan bendera itu bukan kombatan atau kelompok bersenjata. Mereka warga biasa: petani, mahasiswa, dan masyarakat sipil. Aksi paling ramai terjadi pada Kamis, 25 Desember 2025.
Saat itu, mahasiswa bersama warga Aceh Utara mengantar bantuan ke Aceh Tamiang. Mereka membawa beras, kebutuhan pokok, dan sejumlah atribut. Salah satunya adalah bendera GAM. Seorang warga bernama Shamsul Rizal menjelaskan alasan pengibaran tersebut. Menurutnya, sebagian bantuan berasal dari Komite Peralihan Aceh (KPA). Karena itu, bendera bulan bintang dipakai sebagai penanda asal bantuan.
Aparat keamanan kemudian turun tangan untuk menertibkan situasi. Tujuannya agar tidak berkembang jadi gangguan ketertiban umum. Namun di media sosial, respons publik langsung memanas. Banyak netizen menilai aksi ini sebagai bentuk separatisme. Bahkan ada yang menyamakannya dengan ancaman terhadap negara. Meski begitu, tidak semua melihatnya secara hitam-putih. Sebagian justru menilai ini sebagai luapan emosi warga di tengah bencana.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, ikut angkat suara. Ia menyebut aksi tersebut masih bisa ditoleransi sebagai ekspresi anak muda Aceh. Meski begitu, ia tetap mengimbau agar bendera tidak dikibarkan di ruang publik tanpa izin pusat. Di sisi lain, Direktur Majelis Pemerintahan Sumatera Islam (MPSI) Noor Azhari menilai aksi ini kurang empatik. Menurutnya, bencana seharusnya menjadi ruang kemanusiaan. Ia menyesalkan bencana justru dijadikan panggung simbolik yang rawan memancing provokasi. Noor meminta aparat bertindak persuasif, tapi tetap tegas.
Anggota DPR RI Aziz juga mengingatkan agar publik membaca peristiwa ini dengan empati. Ia melihat pengibaran bendera tersebut sebagai ekspresi kegelisahan sosial. Kegelisahan yang muncul karena persoalan kesejahteraan belum sepenuhnya tertangani. Kemunculan bendera GAM hari ini tidak otomatis berarti perang lama bangkit Kembali ya. Yang terlihat justru simbol yang sudah kehilangan konteks militernya. Meski begitu, harus diakui simbol ini masih menyimpan emosi yang kuat.
Dalam konteks bencana, bendera itu bukan alat perlawanan. Ia lebih tepat dibaca sebagai bahasa kekecewaan. Saat bantuan terasa lambat dan distribusi tidak merata, warga merasa diabaikan. Dalam kondisi seperti itu, simbol jadi cara paling cepat untuk menyampaikan pesan. Pesannya sederhana: “kami belum benar-benar didengar.” Bahasa simbol memang keras dan terkesan provokatif. Tapi sering muncul karena jalur komunikasi formal terasa tidak jalan. Ketika rumah rusak dan penghidupan hilang, simbol jadi jalan pintas untuk menarik perhatian.
Karena itu, respons terhadap situasi ini tidak boleh berlebihan. Negara dan aparat sebenarnya sudah hadir menangani dampak bencana. Bantuan logistik, evakuasi, dan penanganan darurat terus berjalan di lapangan. Hanya saja, kondisi di lapangan memang tidak bisa pulih seketika. Di titik itulah miskomunikasi mudah berubah jadi kekecewaan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan. Sayangnya, di situasi sulit selalu ada pihak yang mencoba memancing suasana. Cara paling gampang adalah membangkitkan memori lama soal GAM.
Situasi seperti ini perlu dihadapi dengan kepala dingin. Reaksi berlebihan justru bisa membuka masalah baru. Dan di titik itulah keadaan bisa benar-benar berbahaya. Semoga warga Aceh dan saudara-saudara kita di Sumatra diberi kekuatan melewati masa sulit ini. Solidaritas kita untuk korban bencana di Sumatra!


