Penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) nggak tepat sasaran. Seringkali yang dapat beasiswa itu yang orang mampu, bahkan kaya raya. Padahal kan seharusnya yang dapet beasiswa adalah yang berprestasi tapi memang dari segi biaya kurang mampu.
Ini disampaikan aktris dan influencer, Cinta Laura, di kanal YouTube Kemal Palevi pada 27 November 2024. Dalam podcast itu, Cinta bilang, dia sedih karena beasiswa LPDP kadang-kadang nggak diberikan kepada orang yang tepat. Tidak diberikan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Dia cerita, dia punya kenalan yang kaya raya banget, nggak perlu beasiswa seharusnya. Orangtuanya bisa dengan gampang bayar tagihan kuliahnya. Tapi, orang itu malah dapet beasiswa dari negara.
Menurutnya, banyak sekali anak Indonesia yang pinter banget tapi benar-benar nggak punya uang, sehingga nggak bisa sekolah di luar negeri. Padahal mereka kalau daftar pasti diterima. Nah, harusnya orang pintar seperti ini yang diberikan beasiswa orang negara. “Kalau orang-orang yang udah kaya dan emang pinter, biarkan mereka membayar sendiri” katanya. “Berikan beasiswa kepada orang yang membutuhkan, yang benar-benar gak mampu sekolah di luar negeri” lanjutnya.
Dia juga cerita saat dia sekolah di New York, banyak yang tanya ke dia, “Kamu dapet beasiswa nggak?” Cinta bilang dia nggak daftar beasiswa karena dia mau slot beasiswa itu dikasih ke orang yang emang membutuhkan. Karena keluarganya masih mampu untuk bayar sendiri.
Podcast itu tayang 2024, tapi sekarang jadi viral gara-gara kasus penerima LPDP bernama Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas. Tyas sempat posting di Instagram soal anak keduanya yang resmi jadi warga negara Inggris. Di videonya dia pamer British passport dan Certificate of Registration as a British Citizen dari Home Office UK. Dia bilang prosesnya empat bulan dan dokumen itu bakal “mengubah nasib dan masa depan anak-anaknya.” Yang bikin netizen naik darah adalah ucapannya: “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan.”
Masalahnya, Tyas ini diketahui sebagai penerima beasiswa LPDP. Jadi publik langsung geram, kok bisa penerima beasiswa dari negara malah meremehkan kewarganegaraannya sendiri? Tyas pernah bilang dia dan suaminya nggak berasal dari keluarga yang kaya atau berada secara ekonomi dan bahwa mereka “sangat beruntung” lolos beasiswa LPDP. Tapi setelah ditelusuri netizen, keluarga Tyas sebenarnya berasal dari kelas menengah atau mapan, bukan berasal dari kondisi sangat miskin. Infonya, ayah Tyas pernah bekerja sebagai financial manager di sektor swasta. Yang biasanya menunjukkan stabilitas ekonomi dan pendidikan tinggi dalam keluarga.
Gara-gara dia bikin konten itu, imbasnya serius. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dikabarkan akan mem-blacklist Tyas dan suaminya dari pemerintahan serta meminta pengembalian dana beasiswa beserta bunganya. Nggak cuma itu, LPDP juga melakukan verifikasi terhadap lebih dari 600 alumni penerima beasiswa. Dicek tuh data imigrasi, laporan masyarakat, sampai jejak media sosial. Hasilnya? Ada 44 lulusan (awardee) yang dinyatakan melanggar ketentuan karena nggak memenuhi kewajiban pengabdian sesuai kontrak. Umumnya karena nggak balik ke Indonesia atau nggak menjalankan masa pengabdian yang sudah disepakati sebelum berangkat.
Dari 44 itu, 8 orang resmi diwajibkan mengembalikan dana beasiswa ke negara. Nilainya nggak kecil, sekitar Rp1 miliar sampai Rp2 miliar per orang, tergantung jenjang S2 atau S3. 4 orang sudah lunas bayar. 4 lainnya masih mencicil sesuai kesepakatan.
Nah, di sinilah omongan Cinta Laura jadi relevan lagi. LPDP itu dananya dari pajak rakyat. Bahkan sekarang ada jargon baru: “LPDP = Lo Pake Duit Pajak.” Artinya apa? Pengelolaannya harus super hati-hati, transparan, dan tepat sasaran. Bukan cuma soal nilai akademik dan potensi, tapi juga harus lihat latar belakang ekonomi. Perlu screening yang lebih dalam: apakah calon penerima benar-benar butuh bantuan negara? Atau sebenarnya mampu bayar sendiri?
Selain itu, komitmen pengabdian juga nggak boleh cuma formalitas. Sistem monitoring harus diperkuat. Jangan sampai beasiswa jadi “tiket kabur”, studi di luar negeri, lalu menetap tanpa memenuhi kewajiban. LPDP itu bukan hadiah. Itu investasi negara buat nyetak SDM unggul yang balik dan bangun Indonesia.
Semoga ke depan, LPDP benar-benar jadi simbol harapan, bukan sumber polemik. Kalau sistemnya kuat dan komitmennya jelas, yang lahir bukan kontroversi, tapi kontribusi. Yuk, perbaiki sistem penerima beasiswa LPDP.


