Program Makan Bergizi Gratis atau MBG lagi diserang habis-habisan. Yang paling vokal adalah Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto. Pada Jumat, 13 Februari, ia tampil di Bundaran UGM dengan gaya yang langsung mencuri perhatian. Ia memakai kaos hitam bertuliskan “MALING BERKEDOK GIZI.” Plesetan MBG itu sontak viral dan jadi sorotan.
Bagi Tiyo, tulisan itu bukan sekadar sensasi atau cari panggung. Baginya, itu simbol kritik atas dugaan potensi penyalahgunaan anggaran dalam program MBG. Menurutnya, program sebesar ini harus diawasi ketat karena menggunakan uang rakyat. Selain itu, ia juga mengkritik penggunaan kata “gratis” dalam nama program tersebut. Baginya, tidak ada yang benar-benar gratis karena dananya tetap berasal dari pajak masyarakat. Ia bahkan sempat menyindir, “Bergizi saja tidak, apalagi gratis.”
Kritiknya tidak berhenti pada soal istilah. Ia mempertanyakan kualitas makanan dan sistem pengawasan program. Ia bahkan menyinggung latar belakang kepala Badan Gizi Nasional yang disebut bukan ahli gizi. Selain itu, ia mempertanyakan keterlibatan Polri yang disebut memiliki lebih dari 1.000 SPPG. Ia bertanya, apakah Polri tak ada pekerjaan prioritas lain selain ngurus katering. Intinya, menurut Tiyo, publik berhak tahu dan berhak bertanya. Kritiknya menekankan soal transparansi, akuntabilitas, dan prioritas anggaran.
Bahkan ia mengaitkan kritiknya dengan kasus siswa SD di NTT yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah. Bagi Tiyo, itu ironi besar di tengah klaim program pro-rakyat. Ia juga melontarkan kritik terhadap presiden yang sedang menjabat, menyebut adanya salah prioritas anggaran.
Di tengah panasnya kritik itu, Tiyo mengaku menerima ancaman dan intimidasi. Ia menyebut mendapat pesan ancaman dari nomor luar negeri dan merasa sempat dikuntit. Ia mengatakan teror muncul beberapa hari setelah mengirim surat ke UNICEF untuk meminta pengawasan anggaran pendidikan. Soal dugaan teror ini, Menteri HAM Natalius Pigai membantah adanya keterlibatan pemerintah. Ia menyebut tudingan itu sebagai penggiringan opini yang tidak berdasar.
Kritik BEM UGM ini salah satu bentuk kontrol publik yang wajar dalam demokrasi. Pemerintah bisa menjadikannya bahan evaluasi. Program yang baik tetap butuh pengawasan agar tidak melenceng dari tujuan awalnya. Apalagi jika menyangkut anggaran negara dalam jumlah besar yang bersumber dari pajak rakyat.
Namun, penggunaan plesetan seperti “Maling Berkedok Gizi” memang memancing reaksi keras. Bahasa seperti itu mudah menyulut emosi dan membelah opini publik. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya ingin memastikan anak-anak Indonesia mendapat asupan gizi yang cukup. Kita tahu, stunting dan kekurangan gizi masih menjadi tantangan serius di banyak daerah. Karena itu, intervensi negara lewat program makan bergizi sebenarnya langkah strategis. MBG bisa dilihat sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia.
Memang, dalam pelaksanaannya muncul kasus keracunan dan masalah teknis di beberapa tempat. Itu tentu tidak boleh dianggap remeh dan harus dievaluasi serius. Pada akhirnya, yang paling penting adalah kepentingan anak-anak Indonesia sebagai penerima manfaat. Yuk, terus kritis dan awasi program MBG!


