Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lagi diserang habis-habisan. Program yang awalnya digadang-gadang jadi solusi untuk memperbaiki gizi anak sekolah ternyata dalam beberapa pekan terakhir, ada banyak laporan negatif terus bermunculan. Mulai dari dugaan keracunan, kualitas makanan yang dinilai buruk dan tak sesuai standar, sampai kabar adanya pembatasan kritik dari wali murid.
Salah satu kasus terbaru terjadi di SDN 1 Semampir, Probolinggo. Pada Rabu, 25 Februari, sejumlah wali murid mengaku kecewa bahkan marah. Yang mereka soroti bukan soal menu MBG-nya, tapi aturan dalam formulir dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebelum anak menerima menu MBG, wali murid diminta mengisi formulir tersebut. Di dalamnya ada ketentuan agar wali murid tidak mendokumentasikan menu yang diterima anak. Bahkan disebutkan, kalau terjadi insiden seperti keracunan, mereka tak boleh protes atau mempostingnya di media sosial.
Di sisi lain, program MBG juga diprotes karena seringkali terjadi kasus keracunan massal. Yang terbaru terjadi di Kota Cimahi, puluhan pelajar SD hingga SMP di Cimahi harus mendapat perawatan medis. Mereka dirujuk ke beberapa rumah sakit sejak sore sampai malam. Kasus lain yang sempat viral terjadi di SMKN 1 Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai. Dalam menu MBG yang diterima, ditemukan cacing dan ulat. Pihak sekolah akhirnya memilih menolak distribusi MBG tersebut.
Masalah lain yang lagi ramai dibicarakan adalah menu MBG yang dianggap tak sebanding dengan anggaran. Seorang guru SD di Palu, Sulawesi Tengah, menyampaikan keberatan soal porsi dan kualitas MBG. Ia menilai satu paket MBG tidak sepadan dengan anggaran Rp15.000 per hari. Sekolahnya bahkan menerima paket untuk dua hari sekaligus. Hari pertama berisi satu kotak susu, dua pisang, satu roti, dan empat telur puyuh. Hari berikutnya hanya kacang, kurma, dan roti yang dinilai sangat sederhana. Guru tersebut merasa prihatin karena menu dianggap kurang layak dibanding anggaran yang disebut. Selain kasus-kasus di atas, ada banyak lagi protes soal pelaksanaan MBG ini.
Gelombang protes ini tak boleh dianggap sepele. Pemerintah tak boleh diam dan harus segera turun tangan menyelesaikan berbagai laporan yang muncul. Karena yang dipertaruhkan adalah kesehatan dan keselamatan anak-anak. Pemerintah perlu audit menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan, proses memasak, distribusi, sampai standar kebersihan dapur. Karena tanpa langkah cepat dan tegas, isu negatif ini akan terus membesar dan menggerus kepercayaan publik.
Padahal di balik polemiknya, MBG punya tujuan yang sangat mulia dan strategis. Program ini dirancang untuk memperbaiki asupan gizi anak sekolah. Terutama bagi mereka yang rentan kekurangan gizi, anemia, dan stunting. Selain itu, MBG juga diharapkan bisa mengurangi kesenjangan sosial dan membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Bukan cuma itu, program ini berpotensi menggerakkan UMKM lokal. Karena melibatkan pelaku usaha sekitar sekolah, roda ekonomi daerah pun bisa ikut berputar. Maka sangat disayangkan kalau program sebesar ini tak dijalankan secara profesional, transparan, dan bertanggungjawab. Dan yang terpenting adalah adanya pengawasan yang ketat agar tujuan program ini bisa tercapai.
Yuk, kita kawal sama-sama program MBG!
KATEGORI: PENCERAHAN


