Sangat memprihatinkan! Aktivis media sosial terkemuka Denny Siregar, kini terkesan melakukan penyebaran kabar bohong. Kayaknya sih, Denny risau dengan hasil-hasil survei pilpres mutakhir yang menunjukkan suara Ganjar semakin jauh tertinggal dari Prabowo.
Nah pada 10 Desember, Denny membuat tweet yang mengarahkan public untuk tidak percaya pada hasil survei. Denny memang tidak menyebut survei pilpres dan nama Prabowo sih. Dia menggunakan contoh survei terkait kompetisi dua produk coklat, yang dikasih nama A dan PS. Hampir pasti yang disebut PS adalah Prabowo Subianto. Denny menggambarkan produk PS ini licik dan dibantu pemerintah. Sebelum survei, si A harus melaporkan daftar nama responden survei ke Bupati, Camat, Lurah dan Kepala Desa.
Nah data itu kemudian diambil oleh si PS. Pas sebelum survei, PS mengucurkan produk-produknya berkualitas bagus kepada para responden. Akibatnya begitu survei dilakukan, masyarakat pun lebih menyukai produk PS. Produk PS didukung 40%, sementara produk A hanya didukung 27% masyarakat. Apa yang disampaikan Denny ini bisa disebut sebagai disinformasi. Denny kan seolah hendak mengatakan, hasil-hasil survei Pilpres yang menampilkan kemenangan Prabowo tidak bisa dipercaya karena para responden sudah disogok untuk memilih Prabowo. Itu adalah tuduhan serius terhadap lembaga-lembaga survei.
Mungkin saja memang ada lembaga-lembaga survei yang tidak punya kredibilitas dan melakukan praktek curang. Tapi yang belakangan ini menampilkan data kemenangan Prabowo adalah lembaga-lembaga yang punya kredibilitas tingi dan sudah teruji selama sekitar 20 tahun terakhir. Misalnya saja: SMRC, Indikator, dan LSI. Lembaga-lembaga semacam ini hidup dari kepercayaan para pelanggan survei.
Kalau mereka bisa begitu mudah main curang, tak akan ada lagi calon klien yang mau membayar jasa mereka. Lagipula kalau memang mereka disogok, buat apa juga para paslon menggelontorkan dana sampai miliaran rupiah untuk mendanai kegiatan turun lapangan? Kalo memang lembaga penelitian bisa disogok, tinggal ubah aja angka persentase elektabilitasnya. Dan bagaimana juga Denny membayangkan bahwa lembaga penelitian harus memberikan daftar nama responden kepada pemerintah? Kalau itu terjadi, itu pasti sudah jadi berita besar .
Jadi teori Denny ini sama sekali tidak masuk akal. Sayang sekali kalau tokoh yang memiliki kredibilitas tinggi seperti Denny kini merasa harus terlibat dalam penyesatan informasi semacam itu.
Yuk, jauhkan Pemilu 2024 dari hoax dan penyesatan


