Astaghfirullah! Kata Purnawirawan Ini Mendingan Dipimpin Monyet Daripada Dipimpin Gibran

Published:

Kebencian purnawirawan TNI ini, Gibran Rakabuming Raka udah di luar akal sehat. Bayangin, dia merendahkan Gibran dengan kasarnya di depan publik. Jadi, viral potongan video Letjen TNI (Purn.) Soenarko yang bilang dia mending dipimpin monyet daripada dipimpin Gibran. Video itu awalnya diunggah di Snack Video dan diposting ulang akun Instagram @daviqueaira_19 pada 14 Juli lalu.

Dalam video itu, dia ngomong, “Mending bisa dipimpin oleh monyet, mending bisa kita atur. Nafsunya monyet seberapa sih?” “Sebesar perutnya doang,” tambahnya sambil ketawa sinis. Soenarko juga ngecap Gibran nggak cerdas alias bloon dan planga-plongo. “Mau kita dipimpin begini?” katanya lagi dengan nada yang meremehkan banget.

Dia juga nuduh Pak Jokowi terang-terangan melakukan kolusi dan nepotisme supaya Gibran bisa jadi wapres. Katanya, Pak Jokowi pakai anggaran pemilu raksasa buat menangin Gibran jadi wapres. Mulai dari bansos, menggerakkan aparat desa sampai menggerakkan ‘parcok’ alias partai coklat alias kepolisian.

Ucapan merendahkan Soenarko itu langsung direspons netizen. Banyak yang ngerasa komentarnya keterlaluan dan penuh kebencian. “Masak monyet bilang monyet sih,” tulis seorang netizen di kolom komentar. “Dia merasa masih jenderal mungkin, begitulah aki² tantrum,” tulis netizen lain. “Hadeh mending lo lebih mendekatkan diri aja sama yang di atas daripada nyinyir..,” tulis yang lain.

Just info, Soenarko itu mantan Komandan Jenderal Kopassus dan pernah menjabat Panglima Kodam Iskandar Muda, Aceh. Dia pensiun dari militer tahun 2009-2010. Dia diketahui anti Pak Jokowi. Dia juga menolak hasil Pilpres 2019 yang dimenangi pasangan Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin.

“..Kalau tanggal 22 diumumkan Jokowi menang, kita lakukan tutup dahulu KPU. Mungkin ada yang tutup Istana dengan Senayan, tapi dalam jumlah besar…,” katanya dalam sebuah video yang beredar. Atas dasar itu, dia dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan makar dan penyelundupan senjata untuk aksi massa 22 Mei.

Aksi 22 Mei adalah aksi penolakan hasil Pilpres 2019 di depan Gedung Bawaslu RI di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Soenarko kemudian ditangkap polisi dan anggota Polisi Militer TNI pada 20 Mei 2019. Belakangan penahanannya ditangguhkan. Dia juga menggerakkan demonstrasi untuk menolak hasil Pilpres 2024.

Dia bilang Pak Jokowi yang ketika itu masih jadi presiden dia tuding di balik kecurangan Pilpres 2024. “Sutradara kecurangan ini adalah Jokowi. KPU itu hanya operator,” katanya. Soenarko juga salah satu motor gerakan purnawirawan yang frontal menolak Gibran. Pada April lalu Soenarko dan para purnawirawan itu mendeklarasi 8 tuntutan politik.

Salah satunya adalah mendesak MPR mencopot Gibran dari jabatan wapres. Mereka juga nolak amandemen konstitusi yang bikin Gibran bisa maju jadi cawapres. Menurut mereka, semua proses itu cacat etika dan merusak demokrasi. Mereka juga pengen kabinet Prabowo-Gibran dibongkar total. Mereka juga nggak mau apa yang mereka sebut sebagai dinasti politik Pak Jokowi makin kuat.

Tuntutan itu mereka kirim ke Presiden Prabowo, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, DPR, dan MPR. Sampai sekarang Istana Presiden dan DPR masing-masing sama sekali nggak kasih respon resmi.

Mohon maaf ya, Pak Soenarko. Kebencian anda betul-betul sudah di luar akal sehat. Kebencian itu membuat anda jadi arogan sehingga anda dengan entengnya merendahkan figur lain. Apalagi yang anda rendahkan wakil presiden. Kami di PIS percaya penghinaan terhadap presiden dan wakil presiden bukanlah tindak pidana.

Tapi, apakah etis wakil presiden dihina sebagai monyet? Semula kebencian itu anda lampiaskan ke Pak Jokowi, sekarang ke Gibran. Dan kebencian itu pula yang anda jadikan dasar untuk memakzulkan Gibran. Kebencian anda itu sudah akut, Pak Soenarko.

Sudahi kebencian itu, Pak Soenarko. Jangan umbar lagi yang justru akan merendahkan diri anda sendiri. Pak Jokowi dan Gibran nggak alergi dikritik. Pak Jokowi dan Gibran akan mendengar jika anda mengkritik. Tapi kalau yang anda sampaikan kebencian, jangan kecil hati kalau anda diserang balik netizen.

Pak Soenarko, yuk jadi figur yang bisa diteladani!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img