Bukannya Dibela, Anak Korban Pencabulan Kyai Malah Dimaki Ibunya

Published:

Seorang Kiyai di Bekasi, Jawa Barat, Masturo Rohili, 52 tahun mencabuli anak angkat dan keponakannya sendiri. Aksi bejat itu ternyata sudah berlangsung lama, sejak 2017. Saat korban masih duduk di bangku SMP. Korban berinisial ZA diketahui sudah menjadi anak angkat Masturo sejak tahun 2005. Sejak pertama kali dicabuli pada 2017, aksi itu terus berulang dan berlangsung bertahun-tahun.

Bahkan pas umur korban sudah sekitar 22 tahun, pelaku masih aja minta rekaman video korban saat mandi atau buang air kecil. Hal ini disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi, AKBP Agta Bhuwana Putra. Selain ZA, Masturo juga mencabuli keponakannya berinisial SA. Perbuatan itu dilakukan sejak 2018, saat SA masih berusia 15 tahun. Aksi terakhir pencabulan terhadap ZA disebut terjadi sekitar Desember 2023, saat korban berusia 20 tahun. Modus Masturo adalah membujuk dan mengancam korban. Dia maksa korban mengirim foto dan video syur.

Kalau nolak, korban diancam bakal dipersulit hidupnya, termasuk tidak diberi uang sekolah dan biaya kos. Dalam salah satu kejadian, Masturo masuk ke kamar korban setelah korban selesai mandi dan memaksa korban berhubungan badan. Korban saat itu tidak bisa melawan dan mengalami tekanan berat. Akhirnya korban memilih pergi dari rumah dan berani mengungkap perbuatan bejat ayah angkatnya. Tapi di sinilah bagian yang bikin hati makin nyesek. Kiyai itu udah jelas salah kan.

Nah, saat korban berani speak up ke ibu angkatnya (istri Masturo), bukannya dilindungi… Korban justru dimarahi, ditendang, digampar, yang dibela malah suaminya alias pelakunya. Karena, kasus ini sempat dipergoki langsung oleh istri pelaku alias ibu angkat korban, yang sekarang berstatus sebagai saksi. Info ini didapat gara-gara muncul rekaman suara percakapan korban dan ibunya. Rekaman ini diunggah akun Instagram @everestmedia.id pada 29 September lalu. Dalam rekaman itu, sang ibu berkata, “Jijik tau gak kamu cerita begitu.” Ia juga menyalahkan korban dengan kalimat, “Kenapa nggak ngomong sama bunda?” Korban menjawab dengan lirih bahwa ia tidak pernah menyalahkan ibunya.

“Aku bertahan selama ini karena bunda,” kata korban. Korban juga bilang ibunya menendang, menampar, dan mengusirnya dari rumah, tapi ia tetap bertahan. Denger ini aja udah bikin dada sesak. Ini kenapa sih? Pada sakit ya? Kok bisa-bisanya pelaku pelecehan seksual malah dibela. Netizen pun ramai-ramai berkomentar. “Ibunya dipenjarain juga” tulis seorang netizen. “Harusnya , dia gak layak di panggil ibu karena gak mau melindungi anaknya” tulis yang lain. “Manusia sehina itu apakah pantas dipanggil “bunda”? saya rasa tidak” tulis yang lain.

Apa yang dilakukan Masturo sangat memalukan dan menjijikkan. Seorang yang menyandang gelar kiyai, yang seharusnya menjadi panutan moral dan penjaga nilai agama, justru melakukan tindakan paling hina. Mencabuli anak yang berada di bawah tanggung jawabnya sendiri. Ini bukan sekadar kejahatan hukum, ini kejahatan kemanusiaan dan pengkhianatan terhadap agama. Yang lebih menyakitkan, istrinya justru membela pelaku. Dibela karena apa? Karena suaminya seorang kiyai? Atau karena korbannya “hanya” anak angkat dan keponakan? Kalau alasan-alasan ini yang dipakai, maka itu lebih sakit lagi. Kekerasan seksual tidak pernah sah, siapa pun pelakunya dan siapa pun korbannya. Titik.

Oknum seperti inilah yang merusak citra Islam. Padahal Islam mengajarkan menjaga amanah, perlindungan terhadap anak, dan keadilan tanpa pandang status. Kiyai seharusnya mengayomi, bukan menyalahgunakan kuasa untuk memuaskan nafsu. Kiyai itu diteladani dari perilaku sehari-hari, bukan cuma dari ceramahnya. Kalau kelakuannya kayak gini, gimana bisa diteladani? Agama justru berdiri di pihak korban. Kalau salah, ya dihukum, bukan dibela. Membela pelaku cabul atas nama agama adalah bentuk penghinaan terhadap agama itu sendiri.

Yuk, lawan kekerasan seksual!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img