Serangan militer besar-besaran Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran nggak hanya menewaskan sejumlah tokoh kunci dan warga Iran. Tapi juga berimplikasi terjadinya krisis di Timur-Tengah, bahkan dunia. Serangan Amerika dan Israel itu terjadi pada 28 Februari lalu. Targetnya, fasilitas militer, lokasi strategis di Teheran, dan infrastruktur yang berkaitan dengan program nuklir Iran.
Sekitar 201 orang dilaporkan tewas dan 747 orang terluka di Iran pada hari pertama serangan. Sebuah sekolah dasar perempuan di kota Minab bahkan dilaporkan terkena serangan. Sekitar 165 korban tewas disebut merupakan anak-anak sekolah. Beberapa tokoh penting Iran juga dilaporkan meninggal dunia, di antaranya mantan Presiden Iran periode 2005-2013, Mahmud Ahmadinejad. Yang paling menyedihkan adalah tewasnya pemimpin tertinggi Iran, ulama kharismatik, Ali Khamenei.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi ini sebagai operasi tempur besar-besaran. Dia bahkan menyerukan rakyat Iran untuk memanfaatkan situasi ini untuk menggulingkan pemerintahnya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan operasi ini bertujuan menyingkirkan ancaman dari Iran.
Pemerintah Iran langsung mengecam serangan itu. Mereka menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Iran juga menegaskan memiliki hak untuk membalas sesuai hukum internasional. Nggak lama setelah itu, Iran benar-benar melakukan serangan balasan. Dalam hitungan jam, Iran meluncurkan rudal dan drone. Targetnya antara lain kota Tel Aviv dan Haifa di Israel. Beberapa pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk juga disebut jadi sasaran. Tiga tentara Amerika dilaporkan tewas dalam operasi militer Iran itu. Tiga warga asing juga dilaporkan meninggal di Uni Emirat Arab akibat serangan balasan Iran.
Respons warga Iran terbelah atas serangan Amerika-Israel itu. Sebagian warga, terutama yang pro-rezim, berkabung dan menggelar aksi duka di kota-kota seperti Teheran dan Mashhad. Mereka menunjukkan rasa sedih atas kepulangan, khususnya, Ali Khamenei. Tapi kelompok oposisi justru merayakan kematian Khamenei. Mereka menyalakan kembang api dan melakukan konvoi kendaraan. Menurut mereka momen ini adalah peluang perubahan politik di Iran yang sudah lama mereka rindukan.
Ketegangan antara Amerika-Israel versus Iran sudah berlangsung lama. Penyebabnya antara lain dukungan Iran terhadap kelompok anti-Israel, program nuklir Iran, dan ancaman militer yang saling dilontarkan selama bertahun-tahun. Serangan militer Amerika-Israel ke Iran dan serangan balasan Iran berimpilkasi serius di kawasan Timur-Tengah. Situasi penerbangan jadi kacau. Beberapa negara menutup wilayah udaranya karena alasan keamanan. Banyak penerbangan internasional yang dibatalkan atau ditunda. Ribuan penumpang, termasuk jemaah umrah, tertahan di berbagai bandara transit. Banyak yang terjebak di bandara seperti Doha (Qatar), Dubai (Uni Emirat Arab), dan Manama (Bahrain). Sejumlah maskapai besar seperti Qatar Airways, Emirates, Etihad Airways, dan Turkish Airlines juga dilaporkan membatalkan beberapa penerbangan menuju Timur-Tengah. Termasuk rute menuju Jeddah yang jadi pintu utama jemaah umrah masuk ke Arab Saudi.
Dampaknya terasa juga di Indonesia. Beberapa keberangkatan jemaah umrah dilaporkan batal sejak 28 Februari lalu. Terutama penerbangan yang transit di Doha, Dubai, Abu Dhabi, Bahrain, dan Kuwait. Meski begitu, penerbangan langsung (direct flight) ke Arab Saudi masih ada yang berjalan. Karena kondisi keamanan masih belum stabil, pemerintah juga memberikan imbauan. Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyarankan masyarakat menunda perjalanan umrah sementara waktu. Padahal 10 hari terakhir Ramadan adalah puncak musim umrah. Banyak orang sengaja datang ke Masjidil Haram untuk i’tikaf dan mengejar malam Lailatul Qadar.
Jika konflik terus membesar, dampaknya bisa sangat luas. Harga minyak dunia naik dan gangguan perdagangan global. Termasuk krisis keamanan di Timur-Tengah. Yang jelas, serangan militer Amerika-Israel ke Iran patut dikecam. Apa pun alasannya, menyerang sebuah negara sampai menimbulkan banyak korban jiwa bukan hal yang bisa dibenarkan. Konflik seperti ini justru berpotensi memperkeruh situasi dan memicu perang yang lebih luas. Dan yang paling menderita dari konflik seperti ini selalu rakyat sipil yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan keputusan para pemimpin. Semoga konflik ini bisa segera mereda dan diselesaikan lewat dialog, bukan lewat bom dan serangan militer. Karena perdamaian jauh lebih berharga daripada kemenangan perang.


