Jutaan Warga Amerika Demo Besar-besaran “No Kings Day” Memprotes Donald Trump

Published:

Bayangkan ada sekitar delapan juta orang serentak turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat dalam satu hari. Bukan konser, bukan festival, tapi ini demo besar-besaran. Tanggal 28 Maret lalu, warga Amerika menggelar unjuk rasa yang besar. Temanya adalah “No Kings Day” atau “No Kings”. Ini adalah teriakan kolektif jutaan warga Amerika yang muak dengan gaya kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Lalu, apa itu “No Kings”? No Kings adalah gerakan akar rumput yang lahir sebagai respons langsung terhadap kebijakan-kebijakan kontroversial Trump sejak masa jabatan keduanya dimulai Januari 2025. Nama “No Kings” sendiri terinspirasi dari nilai dasar Amerika, bahwa rakyat Amerika berjuang melepas diri dari monarki Inggris justru agar tidak punya raja. Dan sekarang, banyak warga AS yang merasa sejarah sedang berulang.

Apa yang bikin rakyat Amerika sampai semurka ini? Pertama, operasi militer ke Iran. Trump memerintahkan serangan militer AS ke Iran dalam operasi yang disebut “Operation Epic Fury.” Banyak warga yang marah karena mereka merasa pajak mereka dibakar habis untuk perang yang tidak mereka minta. Kedua, kebijakan imigrasi keras lewat penggerebekan ICE (U.S. Immigration and Customs Enforcement) yang masif, termasuk pengerahan agen ICE ke bandara-bandara AS. Beberapa operasi ICE bahkan berujung pada kematian warga sipil, termasuk dua nama yang jadi simbol kemarahan publik: Renée Good dan Alex Pretti.

Ketiga, soal Epstein Files, dokumen terkait jaringan pelecehan seksual Jeffrey Epstein yang menurut banyak demonstran sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintahan Trump. Di Chicago, para demonstran secara khusus menyebut kekecewaan mereka atas penanganan Epstein Files ini sebagai salah satu alasan turun ke jalan. Keempat, gaya kepemimpinan Trump yang dinilai otoriter. Banyak yang menyebut Trump berperilaku seperti raja, bukan presiden terpilih.

Aksi 28 Maret ini sebenarnya sudah yang ketiga kalinya. No Kings pertama digelar Juni 2025, tepat di ulang tahun Trump yang ke-79, dan diikuti beberapa juta orang. No Kings kedua terjadi Oktober 2025 dengan sekitar tujuh juta peserta. Nah, yang ketiga ini, No Kings 3.0, adalah yang terbesar, dengan estimasi lebih dari delapan juta peserta di lebih dari 3.300 acara di seluruh 50 negara bagian. Dari kota besar seperti New York, Washington DC, Los Angeles, Chicago, sampai kota-kota kecil di Idaho, Montana, dan Wyoming pun ikut bergerak. Ini bukan lagi sekadar protes perkotaan, ini sudah menjadi gerakan nasional.

Di New York, salah satu tokoh paling vokal adalah aktor legendaris Robert De Niro. De Niro, yang dikenal sebagai salah satu pengkritik terkeras Trump, ikut berdemo dan berpidato langsung di hadapan massa. Dia bilang Trump adalah “ancaman eksistensial bagi kebebasan dan keamanan kita” yang harus dihentikan. De Niro juga menegaskan bahwa perjuangan tidak berhenti di jalan: “Kita bergerak dari jalanan ke kotak suara!” Di Minnesota, musisi legendaris Bruce Springsteen tampil dan menyanyikan lagu baru bertema kritik terhadap kebijakan imigrasi Trump. Senator Bernie Sanders juga hadir di sana dan ikut berorasi.

Di Washington DC, ribuan orang memadati National Mall dengan spanduk “Trump Harus Mundur Sekarang!” dan “Lawan Fasisme.” Di West Palm Beach, Florida, dekat kediaman Trump di Mar-a-Lago, demonstran pro dan kontra sempat berhadapan sebelum akhirnya situasi kembali kondusif. Di Boston, para demonstran mendirikan memorial untuk anak-anak korban serangan rudal AS di Iran. Gerakan ini bahkan merambah luar negeri. Contohnya di Amsterdam, Madrid, Roma, London, Meksiko, hingga Kanada ikut menggelar aksi solidaritas. Bahkan di Roma, kabarnya sekitar 20 ribu orang turun ke jalan.

Bagaimana respons Trump? Pihak Gedung Putih merespons singkat dan meremehkan: “Kami sama sekali tidak memikirkan protes ini.” Sementara beberapa politisi Republik menyebut aksi ini sebagai “rally anti-Amerika.” Tapi angka tidak bohong. Approval rating Trump kini jatuh ke titik terendah, hanya 36%, menurut polling Reuters/Ipsos. Jadi, inilah Amerika hari ini: jutaan warga yang merasa demokrasi mereka sedang dalam bahaya dan memilih untuk bersuara.

Apakah gelombang protes “No Kings” akan melahirkan perubahan nyata atau tidak? Kita lihat saja. Tapi bisa saja gerakan ini memicu gelombang inspirasi secara global. Berpotensi mendorong warga di negara lain untuk lebih vokal terhadap isu perang, imigrasi, dan juga demokrasi. Karena itu, pemerintah, terutama pemerintah Indonesia, harus belajar mengapa aksi “No Kings” terjadi dan mengantisipasinya dengan proporsional. Yuk, kita pantau terus perkembangan politik di AS ini.

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img