Alumni LPDP lulusan Oxford University ini keren banget! Dia memilih kembali ke Indonesia dan mengabdi di dunia pendidikan. Nama lulusan Oxford itu Aisyah Prastowo. Aisyah lulusan S3 Engineering Science di Oxford dan lulus di usia muda. Kisah ini diposting oleh akun instagram @kompascom, 26 Februari lalu.
Aisyah sendiri dikenal sebagai sosok yang memang sudah menonjol di bidang sains sejak kecil. Bahkan saat SMP, dia mendapat medali perak Olimpiade Sains Nasional di Pekanbaru. Di usia 16 tahun, Aisyah mengambil studi S1 Teknik Fisika di UGM. Pada usia 20 tahun, dia melanjutkan S2 Interdisciplinary Life Science di University Paris-Descartes dengan beasiswa pemerintah Perancis. Pengalaman risetnya bikin dia yakin lanjut S3 dan pada 2014 resmi menjadi mahasiswa doktoral Oxford berkat beasiswa LPDP di usia 23 tahun.
Di sana dia meneliti mikrofluida multifase. Yaitu teknologi pengolahan cairan dengan skala sangat kecil yang berpotensi membuat diagnosis penyakit lebih murah dan efisien. Risetnya relevan buat Indonesia, terutama untuk alat diagnostik sederhana di daerah terpencil. FYI, LPDP atau Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ini lembaga di bawah Kementerian Keuangan yang kelola dana beasiswa dari pemerintah. Tujuannya untuk membiayai pendidikan S2 dan S3 agar lahir SDM unggul di Indonesia.
Setelah lulus, Aisyah menikah dan sempat menjadi tim peneliti dosen. Tapi, pas pandemi COVID-19 mengubah arah kontribusinya. Akhirnya dia membuka kelas belajar, mengajar academic writing untuk mahasiswa. Hingga membimbing penelitian dan penulisan ilmiah bagi penerima beasiswa Indonesia Maju. Pada tahun 2024, dia turut merintis Praxis High School di Sleman, Yogyakarta, yang mana merupakan SMA alternatif berbasis tim yang lahir dari transformasi praksis akademi. Sekolah ini membekali siswa dengan coding, AI, dan robotika untuk menjawab tantangan otomasi dan masa depan dunia kerja.
Dari laboratorium ke ruang kelas, Aisyah memaknai ulang cintanya pada riset. Buat dia, dampak besar nggak selalu harus dimulai dari langkah besar, karena kontribusi kecil yang konsisten bisa lebih terasa bagi sekitar. Sontak Aisyah jadi sorotan netizen. “Nah seneng deh…ada penerima beasiswa dari pemerintah yang beneran pinter, adab nya bagus & kontribusinya nyata” tulis seorang netizen. “Ya Alloh pinter banget mba-nya, semoga dihargai di negara sendiri ya mba” tulis netizen lain. “Orang seperti ini nih yang sesuai dapet beasiswa LPDP. Balik Indo dan memajukan Indo. Bukan terus stay di Inggris majuin negara Inggris sementara yang bayar kuliahnya Indo” tulis yang lain.
Kisah Aisyah ini patut dibanggakan. Di tengah kekecewaan publik terhadap salah dua penerima beasiswa LPDP, yang memilih jalan berbeda setelah menyelesaikan studi, penting bagi kita buat nggak menilai seluruh penerima beasiswa dari satu atau dua kasus saja. Faktanya, ada juga penerima LPDP yang benar-benar pulang ke Indonesia dan mengabdikan diri untuk negeri. Mereka kembali membawa ilmu, pengalaman, dan jaringan yang didapat selama belajar di luar negeri untuk membangun berbagai sektor di tanah air. Ada yang menjadi peneliti, dosen, tenaga kesehatan, penggerak sosial, hingga wirausahawan yang membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Aisyah salah satunya. Dia ngebuktiin kesempatan belajar melalui LPDP bukan sekadar tiket untuk meraih mimpi pribadi, tetapi juga amanah untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi bangsa. Apa yang dilakukan Aisyah menunjukkan bahwa masih banyak anak muda Indonesia yang memiliki komitmen kuat untuk berkontribusi setelah mendapatkan pendidikan terbaik. Semoga cerita seperti Aisyah bisa menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki banyak generasi muda yang berintegritas dan punya semangat pengabdian. Yuk terus berkontribusi untuk kemajuan Indonesia!


