Sarah Mullally, Perempuan Pertama yang Pimpin Gereja Inggris

Published:

Nama Sarah Mullally menjadi perbincangan hangat setelah ia resmi menjadi perempuan pertama yang memimpin Gereja Inggris. Ia dilantik sebagai Uskup Agung Canterbury pada 25 Maret di Katedral Canterbury, Inggris, pada usia 63 tahun. Dengan jabatan ini, ia juga menjadi pemimpin simbolis Komuni Anglikan di seluruh dunia. Komuni Anglikan adalah persekutuan gereja-gereja yang saling terhubung secara global, dengan puluhan juta anggota. Anggotanya tersebar di berbagai wilayah seperti Asia, Afrika, dan Amerika. Sederhananya, ini adalah jaringan global gereja yang berdiri mandiri. Karena itu, tidak semua gereja Anglikan berada di bawah kendali langsung Canterbury.

Berbeda dengan Gereja Katolik, Anglikan tidak memiliki satu pemimpin tertinggi yang berkuasa penuh. Namun, tetap ada tokoh yang menjadi simbol persatuan, yaitu Uskup Agung Canterbury. Saat ini, posisi itu dipegang oleh Sarah Mullally. Walaupun begitu, ia bukan pemimpin langsung semua umat Anglikan di dunia. Perannya lebih sebagai pusat persatuan dan otoritas moral. Itulah sebabnya jabatan ini memiliki pengaruh global, bukan hanya di Inggris.

Menariknya, karier Sarah tidak dimulai dari dunia gereja. Ia sebelumnya bekerja sebagai perawat dan pernah menjadi Kepala Perawat di sistem kesehatan Inggris. Dari sana, ia mulai menjalani pelatihan pelayanan gereja selama beberapa tahun. Kariernya sebagai rohaniwan dimulai ketika ia menjadi Uskup Crediton pada 2015. Ia termasuk salah satu perempuan pertama yang mencapai posisi tersebut di Inggris. Pada 2018, ia kemudian diangkat menjadi Uskup London. Uskup Crediton sendiri merupakan posisi pembantu uskup utama di suatu wilayah. Sedangkan Uskup London adalah salah satu posisi paling berpengaruh dalam Gereja Inggris. Hal ini menunjukkan perjalanan kariernya yang terus meningkat.

Pelantikannya di Canterbury juga dihadiri oleh keluarga kerajaan Inggris. Hadir pula tokoh penting seperti perdana menteri dan perwakilan gereja lain. Penunjukannya menjadi bersejarah karena ia adalah perempuan pertama dalam sekitar 1400 tahun. Sejak abad ke-6, jabatan ini selalu dipegang oleh laki-laki. Karena itu, pengangkatannya menandai perubahan besar dalam tradisi gereja. Ini juga menunjukkan adanya pergeseran pandangan terhadap kepemimpinan perempuan.

Selama berkarier sebagai uskup sejak 2017, Sarah Mullally dikenal sering memperjuangkan isu-isu liberal dalam Gereja. Dia sering disebut sebagai tokoh agama liberal tapi tidak terlalu progresif. Misalnya soal isu LGBTQ+. Dia pernah bilang gereja harus menunjukkan “cinta yang inklusif” untuk semua orang dan menekankan isu ini bukan doktrin, tapi soal manusia dan kasih. Beberapa bentuk dukungannya di antaranya: mendukung kebijakan “blessing” (doa pemberkatan) untuk pasangan sesama jenis di tahun 2023. Uskup Sarah juga terlibat dalam program gereja seperti “Living in Love and Faith” (dialog soal seksualitas di gereja) dan mendukung “Prayers of Love and Faith”, yaitu doa resmi gereja untuk pasangan sesama jenis. Uskup Sarah juga melabeli dirinya sebagai feminis dan mendukung perempuan: baik menjadi imam, uskup, bahkan uskup agung yang sekarang dia buktikan sendiri.

Dalam khotbah pertamanya, ia menyinggung pentingnya kasih di tengah konflik dunia. Ia juga menegaskan komitmennya pada keadilan dan kebenaran. Sarah menggantikan Justin Welby yang mengundurkan diri pada 2024. Pengunduran diri tersebut dipicu berbagai masalah internal gereja. Salah satunya adalah kritik terhadap penanganan kasus pelecehan. Gereja dinilai lambat dan kurang responsif dalam melindungi korban. Hal ini memicu krisis kepercayaan di kalangan jemaat. Banyak yang merasa gereja kurang transparan dan tidak cukup terbuka.

Dalam situasi ini, penunjukan Sarah menjadi langkah penting untuk pemulihan. Latar belakangnya di bidang kesehatan membuatnya dikenal memiliki empati dan pengalaman menghadapi krisis. Ia diharapkan mampu membawa pendekatan yang lebih manusiawi. Selain itu, pengangkatannya juga menjadi simbol kemajuan dalam kesetaraan gender di Church of England. Selama ini, struktur kepemimpinan gereja didominasi laki-laki. Kehadirannya menunjukkan adanya perubahan cara pandang. Ini membuka ruang bagi kepemimpinan yang lebih beragam. Langkah ini juga dapat menjadi inspirasi bagi gereja lain di dunia, terutama dalam mendorong peran perempuan dalam pelayanan. Di tengah tuntutan zaman, gereja diharapkan semakin inklusif dan terbuka.

Pada akhirnya, pengangkatan ini bukan sekadar pergantian pemimpin. Ini juga menjadi momen refleksi bagi gereja tentang arah masa depan: apakah tetap bertahan pada tradisi lama atau beradaptasi dengan perubahan. Dengan berbagai tantangan yang ada, kepemimpinan Sarah diharapkan mampu membawa gereja menjadi lebih relevan serta kembali mendapatkan kepercayaan dari umatnya. Karena kekuatan sebuah institusi terletak pada kemampuannya untuk terus bertumbuh dan menjawab kebutuhan zaman. Yuk kita dukung pelayanan Uskup Agung Sarah Mullally!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img