Warga Aceh Marah, Penderitaan Mereka Jadi Komoditas Konten Kreator

Published:

Warga Aceh marah daerahnya disebut sebagai kota zombie oleh sebagian relawan yang datang ke sana. Mereka juga marah, penderitaan yang mereka alami dijadikan sebagai komoditas konten para relawan itu. Kemarahan warga Aceh itu terekam dalam sebuah video yang diposting akun Instagram @andreayudias.

Dalam video, seorang ibu menuturkan banyak relawan datang ke sana seolah hanya untuk memastikan bahwa benar kota yang kena banjir bandang itu menjadi kota zombie. “Jadi rata-rata relawan luar kalau masuk daerah kami, kayak sengaja mau melihat, bener kak ini kota zombie,” ucapnya. Katanya, mereka juga tarik ulur ngasih bantuan supaya para warga mengejar. “Sampai kami bilang, jangan kayak gitu bang, kami manusia, enggak dikasih pun enggak apa-apa, tapi jangan dimainin kayak gitu.” Warga itu menuturkan seolah mereka seperti sengaja ingin melihat kami dalam keadaan berlumpur, biar dibilang kota zombie.

Video itupun mendapat banyak komentar dari netizen lain. “Bencana dukacita bisa jadi cuan di zaman ini ya, ngeri,” tulis seorang netizen di kolom komentarnya. “Jahat banget,” timpal yang lainnya. “Kenapa ya anak zaman sekarang minim empati. Jangan uang terus yg dipikirin. Perasaan yang tertimpa bencana juga harus dipikirkan,” tulis yang lain lagi.

Walaupun beberapa netizen mempertanyakan niat akun @andreayulias memposting video itu. “Kenapa bang ini yg di-up???? Kota zombie yang dimaksud bukan seperti ibuk ini bilang… awal yang dimaksud pas baru ada akses ke Tamiang, jadi situasinya seperti kota zombie, bukan orang-orangnya,” tulis seorang netizen. Yang lain mempertanyakan, siapa relawan yang dimaksud. “Siapa konten kreator yang dimaksud? Ada sumber atau orang yang terkait, jangan setengah setengah infonya,” tulis netizen ini.

Kami belum memastikan kebenaran info ini. Tapi keluhan ibu dalam video ini emang layak kita dengar dan jadi evaluasi buat semuanya. Menjadikan penderitaan orang lain, dalam hal ini para korban bencana banjir di Sumatera sebagai komoditas konten bagi kami tindakan yang keterlaluan bangat. Kalau benar itu dilakukan, buat kami tindakan itu tidak saja tidak etis bahkan sudah tidak manusiawi.

Tentu kita dan para korban berterima kasih dengan bantuan yang telah diberikan oleh para relawan. Tapi kalau dibalik itu mengharap penghasilan dari konten yang dibuat, itu seperti mengeksploitasi penderitaan para korban bencana.

Para korban bencana di Sumatera pasti mengalami penderitaan yang berat sekali. Gimana tidak, semua aspek hidup mereka luluhlantak oleh banjir yang menerpa daerah mereka. Banyak dari mereka yang kehilangan anggota keluarga, bahkan mungkin sumber kehidupan mereka. Rumah-rumah mereka hancur, yang kecil kemungkinannya untuk bisa ditempati kembali oleh mereka. Bahkan untuk sekedar makan dan minum mereka juga susah mendapatkannya. Dalam keadaan yang menderita begitu, jangan tambah kesedihan mereka dengan ungkapan-ungkapan yang menyakiti mereka. Apalagi kalau menjadikan penderitaan mereka sebagai komoditas konten-konten kita.

Yukk tetap bersatu untuk bantu para korban banjir di Sumatera. Semoga pemerintah dan semua relawan yang ada secepatnya bisa menyelesaikan semua persoalan di sana.

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img