Kami di Pergerakan Indonesia untuk Semua sedang diserang banyak netizen, gara-gara membela hak beribadah warga. Ini karena kami membela Isa Zaga, seorang transgender, seorang waria yang membuat konten bahwa dia melakukan ibadah umroh. Di Saudi, Isa berumrah di saf Perempuan, dan dia menggunakan cadar. Kami bahas kasus ini di video 26 Juli & 20 November lalu. Kami tentu saja membela pilihan dia berada di saf Perempuan, karena secara sadar Isa sudah mengubah jenis kelamin jadi Perempuan. Perpindahan kelamin inipun kabarnya diakui secara hukum. Tapi ternyata banyak orang yang mengecam pilihan Isa dan mengecam pembelaan PIS terhadapnya. Salah satu yang bicara keras adalah anggota DPR asal Fraksi PDIP Mufti Anam. Dia menganggap Isa perlu diperkarakan secara hukum.
Mufti menganggap apa yang dilakukan Isa adalah penistaan agama. Kata Mufti, menurut MUI, seorang pria yang sudah mengubah jenis kelaminnya secara lahiriah, tetap harus dianggap sebagai pria. Cara beribadahnya pun harus menggunakan cara pria beribadah
Kami mengeritik sikap Mufti, tapi sekarang justru berduyun-duyun ada serangan netizen terhadap PIS. Salah satunya Tiktokers @koyusufjiu.
“Saya udah sering bilang. Kalau nggak paham tentang agama Islam, lebih baik diam, jangan dibahas” ucapnya. Dia bilang dia sendiri bukan muslim, tapi dia paham dengan ajaran Islam. Dan menurutnya, kami di PIS nggak paham soal ajaran Islam. Para netizen lain bahkan menganggap para host di PIS juga transgender seperti Isa. Terus terang, kami berharap Masyarakat Indonesia bisa menggunakan akal sehat ya.
Isa ini kan bukan muslim pertama yang pindah kelamin. Di Indonesia, seorang warga memang diizinkan untuk pindah kelamin. Karena itu, Isa seharusnya diizinkan beribadah sebagai pria, dan mengisi kolom jenis kelaminnya di dokumen resmi dengan kata pria. Masak itu disebut sebagai penistaan agama?
Cara dia beribadah itu adalah hak konstitusional yang dilindungi negara.
“Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan, dan beragama,” kata UUD 1945. Jadi para netizen, marilah kita berdiskusi dengan cara yang sehat dan berakal. Bukan cuma nyuruh bungkam tanpa argumen jelas.
Yuk bangun budaya diskusi yang sehat di media sosial!



