Pakai Diksi Umroh untuk Promosi Candi, Akun Ini Minta Maaf

Published:

Masih ingat video promosi religi candi yang diposting akun Tiktok @NgobrolSantaiIndonesia? Video yang viral itu dikritik banyak pihak karena dianggap nyenggol tradisi agama lain. Kami di PIS termasuk yang mengkritik dan menyayangkan video itu. Buat PIS, video itu sudah offside karena terkesan menyudutkan agama lain.

Nah, kabar terbaru, akun Tiktok @NgobrolSantaiIndonesia bikin klarifikasi. Masih pakai Artificial Intelligence (AI), figur perempuan yang sama di video itu minta maaf ke seluruh umat Islam. “Kami meminjam istilah tersebut untuk mengembalikan popularitas peninggalan leluhur,” ucap narator AI itu. Katanya, niat awal video itu cuma pengen angkat lagi nilai budaya dan spiritualitas lokal Indonesia. Nggak ada maksud buat nyenggol syariat agama mana pun. Akun Tiktok @NgobrolSantaiIndonesia udah hapus video itu sejak 31 Mei lalu. Itu sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan mereka.

Tapi sebagian netizen nggak terima sama pesan dalam video klarifikasi itu. “Ya lagian pake istilah ziarah aja yang sesuai bahasa leluhur kita kalo pengen narik orang ziarah, ngapain coba pake istilah umroh,” komen seorang netizen. Tapi ada juga netizen yang menganggap nggak ada yang salah dengan video promosi itu. “Menurut saya, kata ‘umroh’ nya tidak salah, hanya saja kalau buat iklan baiknya jangan menyenggol agama lain seperti membanding-bandingkan,” komen netizen. “Nggak ada yang salah, yang kepanasan kadrun mabok agama,” komen netizen lain.

FYI, video promosi religi candi viral pada Mei lalu. Akun TikTok @NgobrolSantaiIndonesia posting video promosi wisata religi ke beberapa situs budaya dan spiritual. Kayak Candi Borobudur, Candi Cetho, Candi Sukuh, sampai Gunung Lawu. Dalam video yang dibuat pake AI itu, muncul sosok perempuan muda berkebaya dan berdiri di depan candi. Dalam video itu, sosok perempuan muda tadi ucapin narasi yang niatnya persuasif. Tapi, video itu kontroversial karena pakai istilah ‘umrah’. “Minimal umrah ke Pringgodani, Gunung Lawu, Candi Cetho, Candi Sukuh, Candi Borobudur tanah suci para leluhur,” kata sosok perempuan muda itu. Dia juga bilang wisata ke tempat-tempat ini lebih terjangkau dan gampang dijangkau dibanding ibadah umroh yang harus ke luar negeri dan biaya mahal.

Nah, disinilah masalah mulai muncul. Istilah ‘umrah’ dalam Islam itu kan ibadah yang sakral. Umrah merujuk pada aktivitas ibadah mengunjungi tempat-tempat yang disucikan dalam Islam. Situs-situs yang dikunjungi saat umrah hampir sama dengan situs-situs yang dikunjungi saat haji. Singkatnya, umrah satu tingkat di bawah haji. Nilai spiritual umrah pun begitu dalam menurut ajaran Islam. Jadi, waktu istilah umrah dipakai buat promosi wisata religi lokal, banyak umat Muslim ngerasa tersinggung secara simbolik. Bagi mereka, ini bukan cuma soal diksi, tapi soal makna ibadah yang nggak bisa disamain sama kegiatan jalan-jalan.

Netizen pun langsung ngerespon. Ada yang ngerasa ini pelecehan simbolik, ada juga yang menyayangkan pemilihan kata dan cara penyampaiannya. Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Muhammad Cholil Nafis, juga buka suara. “Mau wisata ke Borobudur atau ke Sungai, silahkan suka-suka. Tapi jangan nyenggol agama lain,” katanya.

Dari semua polemik kasus ini, kita bisa ambil pelajaran penting. Kreativitas untuk menjaga, melestarikan, sampai mempromosikan budaya lokal seperti yang dilakuin Tiktok @NgobrolSantaiIndonesia adalah hal yang keren dan patut diapresiasi. Akun ini mau berkreasi dan mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal kita sendiri. Hal yang tampaknya masih jarang dilakukan. Tapi, kreativitas juga harus dibarengi dengan sikap menghormati agama dan tradisi kelompok lain. Jangan sampai kreativitas yang dibuat dengan niat baik malah menimbulkan resistensi. Karena itu, kreativitas harus dikawal seketat mungkin supaya niat baik tadi tersampaikan dengan baik juga. Yuk, bijak dalam berkarya!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img