Bersuara Soal Kekerasan di Pesantren, Orangtua Santri Diintimidasi

Published:

Pondok pesantren nampaknya sulit keluar dari jerat lingkaran setan kekerasan. Ini bukan penggiringan opini ya. Tapi ini fakta yang nggak terbantahkan. Kasus demi kasus kekerasan di pondok pesantren terus bermunculan di berbagai daerah. Terbaru, influencer muslimah @fodelba ikut bersuara lewat akun Instagramnya pada 5 Juni lalu.

Fodelba cerita dia dikirimi DM dari seorang perempuan bernama Shinta. Menurut Fodelba, Shinta masukin anak laki-lakinya, berinisial FA, ke Pesantren Darul Quran Kariman di Kampar, Riau. Shinta berharap keputusannya itu bisa membuat FA tumbuh dan belajar dalam lingkungan yang religius. Tapi kenyataannya, justru berbalik jadi mimpi buruk.

FA jadi korban kekerasan dari seniornya. Akibatnya, kepala FA memar hingga gegar otak dan harus dirawat di rumah sakit. FA juga mengalam kondisi traumatis yang bikin dia beberapa kali berhalusinasi buat nyakitin dirinya sendiri. Fodelba nunjukin sikap pemilik pesantren bernama Buya Kariman Ibrahim atas kekerasan yang dialami FA. Mirisnya, pemilik pesantren justru bereaksi dingin dan mewajarkan kekerasan itu.

Saat ditanya wartawan, pemilik pesantren membantah adanya kekerasan itu. Dia justru bilang, kekerasan itu bagian dari proses pendidikan. “Nah itu memberikan pendidikan, karena adeknya orang sholat dia melawan, dia keluar, dia melompat, dia mengganggu,” kata pemilik pesantren. Fodelba juga nunjukin bukti lain yang diungkap pihak DPP Gerakan Moral Sosial (Germas). “Kepala sekolahnya mengatakan itu sudah biasa ibu kejadian kekerasan,” kata Waketum DPP Germas, Rika Parlina, mengutip pihak pesantren. “Itu melatih anak-anak kita supaya dia kuat,” lanjutnya.

Shinta nggak tinggal diam. Dia laporin kasus kekerasan yang dialami anaknya itu ke Polda Riau. Tapi sampai sekarang, nggak ada tindakan berarti dan keadilan buat FA. Padahal kasus ini pernah disorot pejabat publik seperti anggota DPR, Verrel Bramasta, dan Anggota DPD, Jihan Fahira. Saat ini, justru Shinta yang dilaporkan balik pihak pesantren atas dugaan menyebar berita bohong lewat UU ITE.

Parahnya lagi, Shinta juga diintimidasi pejabat daerah agar menghapus postingan perjuangannya. Tindakan pejabat itu dilakuin karena pesantren itu dianggap ‘aset wilayah’ di Kampar. Shinta bahkan dipersulit saat mengurus surat pindah sekolah FA. Shinta bahkan dimintai sejumlah uang. FA dikeluarkan dari pesantren karena trauma, sementara pelaku masih bebas tanpa sanksi.

Apa yang dialami Shinta dan anaknya jadi alarm keras para orangtua yang berminat menyekolahkan anaknya ke pesantren. Nggak bisa disangkal, pesantren bukan lembaga pendidikan yang aman bagi anak-anak. Kami di PIS udah berkali-kali bersuara soal kasus-kasus kejahatan di pesantren. Bukan hanya kasus kekerasan fisik yang dilakukan senior dan guru. Tapi juga kekerasan seksual yang dilakukan guru dan pimpinan pondok.

Fakta rapuhnya ruang aman anak di pesantren juga didukung data lapangan. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, selama 2024 saja ada 114 kasus kekerasan dan pelecehan seksual di pesantren. Secara berurutan kasus terbanyak adalah kekerasan seksual (42%), perundungan (31%), kekerasan psikis (11%), kekerasan fisik (10%), kebijakan diskriminasi (6%). Sementara Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga mencatat ada 101 anak yang jadi korban kekerasan seksual di pesantren dalam periode Januari-Agustus 2024. Korban laki-laki 69%, sementara korban perempuan 31%.

Banyak orangtua Muslim yang menaruh harapan besar ke pesantren. Mereka menganggap pesantren tempat yang tepat buat anaknya diajari pengetahuan agama dan akhlak. Tapi banyak pesantren yang nggak menyadari harapan besar itu. Pesantren malah nggak bersikap empatik terhadap korban. Bahkan membungkam korban dan melindungi pelaku.

Kami di PIS nggak anti-pesantren, tapi kami anti-kekerasan. Lembaga pendidikan, apapun bentuknya, harusnya jadi ruang aman buat anak-anak belajar dan mengembangkan diri mereka. Stop kekerasan di lingkungan pesantren!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img