Indonesia Tidak Perlu Lagi Dikontrol Doktrin Agama Agar Bisa Maju

Published:

Agar Indonesia maju, kita jangan lagi mau dikontrol ketat oleh doktrin-doktrin agama. Sebentar ya, maksudnya bukan berarti kita harus ninggalin agama atau jadi ateis dan lain sebagainya. Tapi kita perlu berhenti menjadikan doktrin agama yang ketat untuk ngontrol cara kita berpikir, bikin keputusan, atau ngembangin negara. Ini yang disampaikan aktivis media sosial Lia Lestari. Dia bilang, kalau Indonesia maju, Indonesia harus meninggalkan doktrin agama sebagai rujukan utama kehidupan. Kenapa? Karena doktrin seperti itu hanya bikin orang takut untuk berinovasi. Mau melakukan apa-apa takut akan dosa, takut dianggap menodai agama, takut neraka. Alhasil, pemikiran kita jadi mandek, kita gampang dimanipulasi, dan negara nggak bisa maju.

Lia ini adalah perempuan muda yang selama bertahun-tahun sudah biasa menyajikan postingan-postingan yang mencerahkan. Lia tidak asal bicara. Dia bilang Indonesia seharusnya melakukan sekulerisasi. Artinya agama ya ngurus agama saja, sementara politik, ekonomi, hukum, sosial diatur oleh hukumnya masing-masing. Dia memberi contoh bagaimana Eropa mengalami kemajuan. Dulu Eropa sebenarnya pernah hidup di abad kegelapan, sekitar sebelum abad 16. Di masa itu Eropa dikuasai sama otoritas gereja yang menentukan hampir setiap aspek kehidupan, mulai dari pendidikan hingga politik.

Masalahnya, dogma seringkali menghambat inovasi ilmiah. Kita mungkin masih ingat nama ilmuwan astronom Galileo Galilei. Dia dihukum gereja karena mendukung teori heliosentris. Ia meyakini bahwa matahari itu pusat tata surya, alias geosentris. Menurut dia, bumi bergerak mengelilingi matahari, sementara matahari diam. Dukungannya terhadap teori ini bertentangan sama pandangan gereja pada masa itu. Gereja percaya bumi adalah pusat tata surya, sementara matahari bergerak mengelilingi bumi. Akibatnya Galileo diasingkan dan dipaksa untuk berhenti menyebarkan pengetahuannya. Baru berpuluh tahun kemudian, Eropa mengakui kebenaran teori Galileo.

Tapi penindasan ini bukan hanya menimpa Galileo. Banyak ilmuwan, seniman, pemikir dan ahli agama yang dihambat untuk bicara. Di masa abad kegelapan ini, raja-raja dan bangsawan menggunakan gereja untuk mengatur rakyat pakai doktrin agama. Apa aja yang nggak sesuai sama ajaran gereja, langsung “dicap” sebagai Bid’ah atau sihir. Akibatnya, Eropa pada masa itu menjadi benua yang tertinggal, miskin, dan minim kemajuan signifikan.

Keadaan ini mulai berubah melalui Era Pencerahan, yang memperkenalkan sekulerisasi, memisahkan agama dari urusan negara, serta mempromosikan rasionalitas dan kebebasan berpikir. Ide ini awalnya kontroversial banget, sampe bikin banyak revolusi dan konflik. Tapi hasilnya, Eropa masuk ke era Renaisans, alias “Abad Pencerahan” di abad ke-17 dan ke-18. Akibat keterbukaan berpikir, ilmu pengetahuan meledak, banyak filsuf, ilmuwan, dan seniman kelas dunia bermunculan, kayak Leonardo da Vinci atau Galileo.

Teori-teori ilmiah baru ditemuin, teknologi dikembangkan, karya seni legendaris dibuat, dan Eropa berubah dari benua yang terbelakang jadi pusat peradaban dunia yang maju, megah, dan berbudaya tinggi. Eropa udah buktiin: begitu agama nggak ngatur-ngatur, mereka langsung “berkembang cepat” di segala bidang. Jadi saran Lia rasanya bener banget. Kita perlu meninggalkan abad kegelapan menuju abad pencerahan. Yuk, bareng-bareng kita bikin Indonesia menjadi negara yang berani berpikir merdeka, mengutamakan kemajuan bersama, dan menghargai perbedaan. Agama ada untuk mencapai kemajuan, bukan untuk membatasi kemajuan!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img