Israel Izinkan Tarian dan Nyanyian di Kompleks Masjid Al-Aqsa, Penistaan?

Published:

Polisi Israel mengizinkan orang-orang Yahudi menari dan menyanyi di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Umat Islam di Yerusalem nggak terima. Mereka menganggap ini sebagai tindakan penistaan terhadap Masjid Al-Aqsa. Jadi, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, bicara soal perubahan status quo di Masjid Al-Aqsa.

Status quo itu semacam aturan nggak tertulis yang membolehkan orang Yahudi masuk kompleks Al-Aqsa, tapi mereka nggak boleh sembarangan beribadah. Apalagi menari dan menyanyi di sana. Nah, sekarang aturan itu mulai dilonggarin otoritas Israel. Itu terlihat saat sekelompok pengantin laki-laki Yahudi yang masuk ke halaman Masjid Al-Aqsa. Mereka lalu menari dan menyanyi buat ngerayain pernikahan itu.

Perayaan seperti ini sebenarnya bukan kali ini terjadi. Sebelumnya, udah ada upaya-upaya ngadain acara nikahan atau doa-doa di dalam kompleks masjid, tapi biasanya langsung dicegah polisi Israel. Tapi kali ini beda. Orang-orang Yahudi yang menari dan menyanyi itu nggak diusir atau ditangkap. Mereka malah dibiarkan. Mereka menyanyi lagu-lagu keagamaan, termasuk meratap dengan teks “Irmiya” (Yeremia), di dalam kompleks Al-Aqsa. Ini kabarnya pertama kalinya dalam 2000 tahun.

Otoritas Palestina, lewat Kegubernuran Yerusalem, langsung ngeluarin pernyataan keras. Mereka bilang, ngadain acara seperti itu di halaman Al-Aqsa sama aja menistakan kesucian masjid. Mereka juga nyebut ini sebagai ‘provokasi berat’ yang nyinggung perasaan umat Islam dan bagian dari upaya Israel buat ngubah identitas Islam di Al-Aqsa. Mereka juga bilang tindakan ini melanggar hukum internasional dan resolusi UNESCO yang ngakuin Al-Aqsa sebagai situs warisan Islam.

Kegubernuran Yerusalem minta dunia internasional, termasuk badan-badan PBB, segera ambil tindakan buat ngatasin pelanggaran ini. Departemen Wakaf Islam di Yerusalem, pihak yang ngurusin Al-Aqsa, bilang tindakan-tindakan ini bisa memicu ‘perang agama’ di kawasan itu. Mereka juga bilang, Al-Aqsa adalah situs suci umat Islam yang nggak bakal bisa dibagi-bagi.

Pertanyaannya, apa aktivitas keagamaan dan sosial orang Yahudi di Masjid Al-Aqsa adalah penistaan? Ini pertanyaan yang nggak bisa dijawab hitam-putih. Memang buat umat Islam, Masjid Al-Aqsa itu punya arti penting banget. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum digeser ke Ka’bah di Mekkah. Masjid Al-Aqsa juga dipercaya jadi lokasi yang didatangi Nabi Muhammad saat melakukan isra, perjalanan malam yang penuh keajaiban.

Singkatnya, Masjid Al-Aqsa adalah situs suci yang punya nilai sejarah dan spiritual yang penting banget buat umat Islam. Di sisi lain, Masjid Al-Aqsa juga spesial buat umat Yahudi. Dalam ajaran Yahudi, Al-Aqsa berdiri di atas di lahan berdirinya Temple Mount, situs suci dalam agama Yahudi. Temple Mount diklaim mereka dibangun Nabi Sulaiman, rajanya orang Yahudi. Masjid Al-Aqsa yang dibangun pada kejayaan Islam diyakini kaum Yahudi berada di atas peninggalan kuil suci orang Yahudi itu.

Makanya, kehadiran umat Yahudi di Masjid Al-Aqsa bukan sekadar ingin beribadah di Temple Mount. Tapi keharusan untuk membangun kembali Kuil Suci di situs penting umat Islam itu. Sikap saling klaim kepemilikan atas Masjid Al-Aqsa atau Temple Mount harus diikuti dengan langkah yang bijak. Sehingga ketegangan yang terjadi nggak berujung pada aksi kekerasan.

Jangan sampai Yerusalem jadi zona konflik berdarah selanjutnya antara Israel dan Palestina. Sudah cukup air mata kita habis buat penderitaan warga di Gaza. Apalagi Yerusalem adalah kota penting buat 3 agama Abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam. Spread love, not hate!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img