Top! Bupati Ini Perjuangkan Hak Beribadah Umat Kristen di Daerahnya

Published:

Kepala daerah ini emang top banget deh! Dia pasang badan membela hak beribadah umat Kristen. Ini kontras sama beberapa kepala daerah yang tunduk sama ormas intoleran yang menindas hak kaum minoritas. Btw, nama kepala daerah itu adalah Pak Sujiwo. Dia Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Sebelumnya, beredar surat dari 9 RT di Desa Kapur dan Kepala Dusun pada 8 Juli lalu. Isi surat itu adalah penolakan pembangunan Gereja Katolik Paroki Santo Agustinus di sana. Para RT juga minta agar Kepala Desa Kapur, Fahmi, nggak kasih rekomendasi pendirian rumah ibadah. Mereka berdalih pelarangan dilakukan demi menjaga kerukunan dan kenyamanan warga di lingkungan yang mayoritas Islam. Surat itu ditandatangani 9 RT, Kepala Desa Kapur, dan Camat Sungai Raya.

Pak Sujiwo langsung geram mendengar kabar itu. Dia langsung memanggil 9 RT, Kepala Desa Kapur, dan Camat Sungai Raya pada 17 Juli lalu. Menurut Pak Sujiwo, Kubu Raya sudah lama dikenal sebagai kabupaten yang harmonis. Masyarakatnya pun terkenal menjunjung tinggi keberagaman dan nilai-nilai toleransi. “Jangan biarkan hal-hal kecil merusak keharmonisan yang sudah kita bangun bersama,” ujarnya.

Pak Sujiwo kasih peringatan keras ke pihak-pihak yang mencoba menyebarkan sikap intoleran. “Saya ingin tegaskan, tidak ada tempat dan ruang bagi kelompok maupun individu yang anti toleransi,” katanya. Menurutnya, tindakan penolakan rumah ibadah bertentangan dengan konstitusi yang menjamin kebebasan beragama dan beribadah. ”Selama saya masih bupati dan Pak Sukir sebagai wakil bupati, kami tidak akan berikan ruang sejengkal pun kepada kelompok-kelompok intoleran,” lanjutnya.

Pak Sujiwo bersama forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) dan DPRD Kubu Raya berjanji akan mengawal berjalannya pembangunan gereja ini. Tindakan heroik Pak Sujiwo diapresiasi aktivis keberagaman, Permadi Arya. ”PAK SUJIWO, ANDA KEREN PAK!” tulisnya di akun Instagramnya pada 18 Juli.

Permadi bilang, Pak Sujiwo adalah sosok pemimpin yang diperlukan bangsa di saat Kristenphobia makin marak di Indonesia. Apa yang dilakukan Pak Sujiwo ibarat oase. Kita hampir kehilangan harapan karena banyak kepala daerah yang menindas hak beribadah saudara kita karena takut sama tekanan kelompok intoleran. Tapi Pak Sujiwo justru muncul dan pasang badan. Dia mengembalikan lagi harapan kita soal Indonesia yang ramah buat semua pemeluk agama.

Data Setara Institute menunjukkan, 159 dari 402 tindakan intoleransi sepanjang 2024, sebagiannya, 32 tindakan, dilakukan bupati/walikota. Ada beberapa bentuk tindakan intoleran yang dilakukan bupati/walikota. Menolak memberikan rekomendasi pendirian rumah ibadah agama kelompok minoritas. Membatalkan rekomendasi pendirian rumah ibadah agama kelompok minoritas yang pernah diberikan. Menginstruksikan Satpol PP membubarkan ibadah kelompok minoritas. Menerbitkan aturan yang menganakemaskan kelompok mayoritas, tapi menganaktirikan kelompok minoritas. Membiarkan aksi intoleransi ormas dan warga yang intoleran. Nggak hadir saat konflik terjadi dan nggak memfasilitasi penyelesaian konflik.

Pak Sujiwo adalah kepala daerah yang langka dan pantas diapresiasi. Dia berani pasang badan melindungi warga minoritas dan menegakkan konstitusi. Sementara nggak sedikit kepala daerah yang lemah komitmennya dalam melindungi hak beribadah kelompok minoritas dan bermain mata dengan kelompok intoleran.

Kepala daerah adalah wajah negara terdekat di hadapan rakyat. Bila mereka gagal menunaikan tugas dan tanggung jawabnya, negara runtuh di level yang paling mendasar. Pak Sujiwo memberi pesan yang jelas. Menjadi kepala daerah bukan soal memuaskan mayoritas, tapi menjamin keadilan bagi semuanya, terutama yang paling rentan.

Semoga makin banyak kepala daerah yang terus merawat toleransi di Indonesia. Salam hormat untuk Pak Sujiwo!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img