Ngadi-ngadi, Masa Iya Orang Minang yang Pindah Agama Sama Aja Logout dari Minang?

Published:

“Orang Minang, kalau dia pindah agama dari Islam ke agama lain, auto log out dari Minang”. Hmmm ngadi-ngadi deh pernyataan itu. Agama itu kan hak asasi semua orang, gak boleh ada yang maksain, termasuk budaya asal daerahnya. Tapi pernyataan itu sedang dihembuskan oleh sejumlah orang Minang. Salah satunya oleh akun Tiktok @rio.chaan melalui ungguhan videonya. Dalam video itu, dia mengomentari adanya konten “Minang Kristen” yang isinya orang-orang Kristen lagi ibadah.

Katanya sih dia gak ada masalah sama isi kontennya, cuma frasa “Minang Kristen” itu yang bikin dia bingung. Aneh, katanya. “…frasa Minang Kristen itu yang kayak di kepala gue tuh kayak…Eh, ini gimana maksudnya dah? Hah?” Menurut dia, secara teknis sih orang Minang bisa aja masuk Kristen, tapi kalau dilihat dari adat dan sosial, itu kayaknya mustahil. Karena menurut dia, Minangkabau itu adatnya bersumber dari Islam. Jadi kalau orang Minang keluar dari Islam, itu sama aja kayak keluar dari Minangkabau.

Netizen lain langsung ramai-ramai ngomentarin video itu. “Lucu sih, masa hanya karena pindah agama, hilang sukunya, agak lain” tulis netizen di kolom komentar. “Jadi anehnya dimana?” tulis netizen lain. “Coba jawab, duluan minang atau Islam di Sumatera Barat?” tulis yang lain. Agama tuh urusan personal banget. Di Indonesia, kebebasan memilih agama dijamin penuh sama UUD 1945, Pasal 28E dan 29: “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya.” Jadi kalau ada yang bilang “kalau Minang harus Islam,” itu udah masuk wilayah tekanan sosial dan udah ngelanggar hak asasi orang.

Apalagi, Islam sendiri justru ngajarin toleransi dan menghargai keberagaman agama. Dalam QS Al-Baqarah ayat 256 yang bunyinya “Laa ikraaha fid diin…” Artinya: “Tidak ada paksaan dalam [memeluk] agama.” Bahkan Nabi Muhammad SAW hidup damai berdampingan sama Yahudi dan Nasrani, loh. Jadi, Islam sejati gak ngajarin maksa orang buat ikut agamanya.

Balik lagi ke soal Minang dan Islam, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” itu memang jadi filosofi hidup orang Minang. Tapi pakem baru ada dalam 200 tahun terakhir, setelah Islam menyatu dengan adat. Artinya, Islam itu masuk belakangan, sedangkan adat dan etnis Minang udah ada duluan. Jadi logikanya, Minang gak identik 100% sama Islam.

Ada kok orang Minang yang non-Muslim, bahkan dari keluarga tokoh Islam terkenal. Contohnya, Buya Hamka—ulama besar asal Minang. Salah satu adiknya, Ernest Amrullah masuk Kristen. Tapi Buya Hamka gak pernah musuhin atau mutusin hubungan keluarga. Hubungan darah tetap jalan, meski beda keyakinan. Terus, ada juga Haji Agus Salim—tokoh pergerakan kemerdekaan dan diplomat ulung. Salah satu adiknya juga masuk Kristen. Tapi gak ada cerita H. Agus Salim ngusir atau bilang “lu udah bukan Minang.”

Masa karena beda agama, hilang sukunya? Gak gitu juga. Mau dia Islam, Kristen, Buddha, Hindu, atau apapun, kalau dia berdarah Minang ya tetap Minang. Jangan campur aduk antara identitas budaya dan pilihan iman. Dan ingat, tugas sesama manusia itu saling menghormati, bukan ngejudge. Islam sangat menghormati keberadaan agama-agama lain. Dalam konteks ini, memaksakan Islam kepada orang karena faktor etnis atau budaya bertentangan dengan semangat Islam itu sendiri. Yuk beragama dengan akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img