Begini Kata Hanung Bramantyo Soal Film ‘MERAH PUTIH: ONE FOR ALL

Published:

Hanung Bramantyo berusaha fair mengkritik film “Merah Putih: One For All”. Sutradara ternama ini mau nonton dulu sebelum berkomentar. Setelah nonton, dia berpendapat film ini belum selesai dibuat. Hanung bilang film ini terlalu dipaksain cepet-cepet masuk bioskop.

Padahal, menurutnya, film yang masuk daftar tayang di bioskop sekelas XXI harusnya udah hasil final yang terbaik. “Saya nggak mau menyalahkan siapapun, tapi yang jelas apa yang ada di dalam bioskop itu adalah tampilan hasil terakhir,” katanya pada 14 Agustus lalu. “Apalagi bioskop sekelas XXI,” lanjutnya. Meski begitu, Hanung nggak mau nyalahin satu orang doang karena film itu hasil kerja tim. Ada sutradara, produser, penulis skenario, sampai penyandang dana yang semuanya bertanggung jawab.

Menurut Hanung, penonton cuma liat hasil akhir aja, nggak tahu prosesnya gimana. “Penonton tidak akan melihat ini masih proses. Hanya saya mungkin yang bisa melihat bahwa ini film belum selesai tapi dipaksakan untuk tayang,” katanya.

Yang bikin Hanung juga kesal, budget film ini infonya lebih dari Rp 6 miliar. “Buat saya, itu patut dipertanyakan dan perlu diaudit,” katanya. Dia khawatir film ini jadi preseden buruk industri film Indonesia. Dia bahkan menduga ada ‘pihak kuat’ yang memaksakan film ini tayang di bioskop meskipun belum memenuhi standar.

Hanung juga mengapresiasi netizen Indonesia terkait film ini. “Saya rasa masyarakat dan netizen kita pintar dan sudah melakukan penilaian secara objektif maupun subjektif,” katanya. Di luar kritik Hanung, netizen mempersoalkan sebagian judul film itu yang pakai bahasa Inggris. Padahal ini film diklaim mau memompa semangat kebangsaan. Seolah, film ini nggak konsisten sama niat awal pembuatannya.

Btw, film ‘Merah Putih’ diproduksi Perfiki Kreasindo, lembaga nirlaba di bawah Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Proses produksinya super singkat: dari Juni sampai Agustus 2025. Produsernya, Toto Soegriwo ngaku biaya produksi film itu mencapai Rp 6,7 miliar. Tapi di salah satu scene trailernya ditemuin tulisan bahasa Hindi. Diduga visual scene itu sisa dari aset 3D “Street of Mumbai” yang dibeli dari platform Daz3D. Padahal harga di platform Reallusion Content Store per asetnya nggak sampai sejuta rupiah.

Merah Putih bercerita tentang 8 anak di satu desa yang lagi sibuk persiapan 17 Agustus. Mereka berasal dari latar budaya yang berbeda: Jakarta, Papua, Medan, Tegal, Makassar, Manado, dan Tionghoa. Mereka terpilih jadi Tim Merdeka yang menjaga bendera pusaka. Masalahnya, bendera itu hilang sebelum upacara. Mereka pun berpetualang menyusuri hutan, menyebrangi sungai, dan menghadapi konflik batin demi ngibarin lagi merah putih tepat waktu.

Kritik yang disampaikan Hanung terkait film ‘Merah Putih’ penting banget buat industri film Indonesia. Dia khawatir film ‘Merah Putih’ jadi contoh buruk buat filmmaker lain. Dengan budget yang gede, tapi hasilnya mengecewakan. Ini bisa bikin investor ragu danain film Indonesia. Hanung juga nggak mau industri perfilman Indonesia turunin standarnya. Kalau sebuah film belum hasil akhir dan kualitas nggak layak, ya jangan diberi slot tayang di bioskop.

Walaupun belum bisa dipastikan apakah dana film ini dari uang publik atau bukan, tapi usul dia buat audit penggunaan dana itu layak dipertimbangin. Supaya ada transparansi dan publik tahu penggunaan dananya. Film Indonesia sudah dicintai di dalam negeri dan sudah diperhitungkan di publik global. Jangan sampai capain yang susah payah diraih ini hancur cuma karena film yang diklaim nasionalistik. Yuk, pertahankan dan tingkatkan kualitas film Indonesia!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img