Jadi korban rasis dan diteror tetangga cuma karena keturunan Tionghoa? Ya, anda nggak salah dengar. Seorang perempuan pemilik akun TikTok @cilalalavi membagikan kisah menyedihkan yang dialaminya pada 5 Agustus lalu. Dia cerita dia ngekos di kawasan Kosambi Utara, Cengkareng, Jakarta Barat. Dalam videonya, terlihat seorang laki-laki mau menyerangnya. Lalu ada juga laki-laki lain yang membentaknya dengan ucapan, “Orang mana sih lu?!”
Menurut pemilik akun, kejadian itu bermula dari hajatan warga beberapa bulan lalu. Saat itu dia mau keluar kos menuju jalan utama. Masalahnya, hajatan itu menutup akses jalan gang yang sempit. Tiba-tiba dia dihentikan tetangga dengan ucapan, “Nggak usah lewat sini, lagi ada acara. Muter sana!” Padahal jarak ke jalan utama tinggal dua meter saja. Dia sempat minta izin, tapi tetap ditolak dan malah dimaki-maki. Tetangga lain ikut keluar dan memaki bersama-sama. Akhirnya dia terpaksa memutar jalan dua kali lebih jauh.
Beberapa minggu kemudian, kejadian serupa terulang. Kali ini dia mau pergi bersama temannya menggunakan Grabcar. Karena mobil nggak bisa masuk gang, dia harus jalan keluar untuk menjemputnya di jalan utama. Saat lewat, gang kembali dipenuhi tikar hajatan hingga menutup jalur. Sambil berjalan di pinggir dan sedikit menggeser tikernya, dia berkata pelan, “Maaf maaf, permisi ya.” Tiba-tiba seorang ibu yang diduga pemilik acara keluar sambil berteriak. “Nggak sopan ya lu, pergi dari sini! Jangan lewat sini!” Dia kaget karena dia cuma mau lewat dan memang itu satu-satunya akses. Ibu itu bahkan mengancam akan melaporkanya ke pemilik kos agar dia diusir. Suami si ibu juga ikut menekan dengan mendekatkan badan sambil berkata, “Apa lo? Berani lo?!”
Puncaknya terjadi pada 5 Agustus lalu. Saat pulang kantor, dia mendapati tetangga yang sama membentangkan jemuran di tengah gang. Tetangga itu berkata, “Nggak usah lewat sini, ini jalan pribadi!” Dan di situlah dia mendapat tindakan nggak menyenangkan karena dia keturunan Tionghoa. Menurut pemilik akun, tetangga dan keluarga tetangganya itu marah-marah sambil mengolok rasnya.
Apa yang dialami pemilik akun TikTok itu jelas bukan sekadar konflik kecil antarwarga. Ini adalah bentuk persekusi sosial dan rasisme terang-terangan. Kalau memang pemilik akun itu dianggap nggak sopan, ya sampaikan aja baik-baik. Nggak perlu dimaki, diintimidasi, dan diancam diusir. Apalagi pemilik akun sudah menunjukkan itikad baik dengan bersikap dan berbicara dengan sangat sopan.
Pertanyaannya, kenapa warga tersebut tetap begitu kasar kepada pemilik akun? Penjelasan yang masuk akal nampaknya ya karena ras pemilik akun. Masalahnya, kekerasan berbasis rasial seringkali ditutup-tutupi dengan narasi yang lain. Seolah itu konflik kecil antarwarga yang random. Padahal kekerasan berbasis rasis itu begitu terang. Anggapan pemilik akun itu nggak sopan cuma pesan permukaan. Isu utamanya adalah ketidaksukaan atas ras tertentu.
Kalau masalahnya cuma sekedar pemilik akun dianggap nggak sopan, konflik itu seharusnya bisa diakhiri dengan mudah. Toh, pemilik akun sudah berusaha bersikap dan berbicara sopan. Tapi itu kan nggak dipertimbangkan oleh sejumlah warga untuk mengakhiri konflik. Justru, pemilik akun diancam diusir. Dan sayangnya pemilik kosan nggak bisa melindungi pemilik akun.
Just info, hinaan bernuansa etnis itu termasuk diskriminasi rasial sebagaimana termaktub dalam UU tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Pelakunya diancam penjara lima tahun atau denda setengah miliar. Pemilik akun berhak melaporkan kasus ini ke kepolisian, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan, sebagai korban. Perlindungan terhadap martabat manusia tanpa membeda-bedakan ras adalah amanat konstitusi. Dan negara wajib menegakkan konstitusi dan hukum agar ada efek jera. Stop diskriminasi saudara kita yang berbeda ras!


