Niatnya datang buat cari ilmu dan silaturahmi di Pengajian Bahar Smith, eh malah dikeroyok para pengawal Bahar. Ini nasib miris yang dialami Rida, anggota Banser GP Ansor Kota Tangerang. Jadi, kronologinya, pada 21 September lalu, Rida hadir di sebuah pengajian yang dipimpin Habib Bahar bin Smith di Tangerang. Setelah acara selesai, Rida maju ke depan. Niatnya simpel aja, cuma pengen salaman sama Bahar.
Tapi langkahnya tiba-tiba dicegat pengawal. Mereka menuduh Rida mau “menyolok mata” Bahar. Dari situ, suasana langsung panas, Rida ditarik, dipukul, dan ditendang ramai-ramai. Yang bikin lebih ngeri, korban mengaku disekap, mulutnya disumpal, disundut rokok, bahkan dilekatkan golok di leher sambil diancam akan dimutilasi. Barang pribadinya, seperti ponsel dan motor, juga ditahan panitia. Akibatnya, Rida luka parah, penuh memar, dan akhirnya harus dirawat intensif di RSUD Kota Tangerang. Di video yang beredar di media sosial, Rida yang berbaring sempat berucap pelan, “Salah satu pelakunya, Bahar Smith”.
Kasus ini jelas bikin publik heboh. LBH GP Ansor langsung turun tangan, mendampingi keluarga melapor ke Polres Metro Tangerang. Ketua LBH Ansor, Dendy Zuhairil Finsa, mendesak polisi segera bertindak tanpa pandang bulu. “Kami mendesak agar dalam 1 x 24 jam untuk Polda Metro Jaya dapat menangkap dan menahan pelaku penganiayaan dan pengeroyokan”, ucap Dendy. Menurut Dendy, bukti dan saksi sudah jelas, jadi aparat gak boleh lamban. Dukungan juga datang dari Perwakilan GP Ansor Kota Tangerang, Midyani. Dia percaya kepolisian bisa profesional, tapi di sisi lain dia juga mendesak kasus ini cepat diusut tuntas. “Penganiayaan terhadap kader Banser adalah tindakan biadab yang mencederai nilai kemanusiaan dan merusak persatuan,” ucapnya. “Jika kasus ini dibiarkan, maka akan menjadi preseden buruk dan mengancam keamanan sosial. Banser tidak boleh diperlakukan semena-mena,” lanjut Midyani.
Gak cuma dari Ansor, suara keras juga datang dari mantan Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol (Purn) Anton Charliyan. Dia tegasin kalau kasus ini adalah tindak pidana murni. “Polisi jangan ragu menindak siapa pun yang terlibat, termasuk pengawal Habib Bahar maupun Bahar Smith sendiri,” ujarnya. Apalagi, video pengeroyokan sudah viral di media sosial. Tekanan publik makin besar dan banyak yang khawatir kalau polisi lambat, publik bisa menilai ada pembiaran. Dan ingat, ini bukan sekadar kriminal biasa—tapi terjadi di forum pengajian, yang seharusnya jadi ruang aman dan penuh nilai ketenangan.
Dari sudut pandang Gerakan PIS, insiden ini adalah alarm keras. Kok bisa forum pengajian berubah jadi ruang intimidasi? Apalagi hanya karena seseorang dianggap “penyusup”, lalu dibenarkan untuk dipukuli dan disiksa. Kalau logika kayak gini dibiarkan, masyarakat bisa terbiasa menganggap kekerasan sebagai solusi. Bagi kami, kasus ini bukan cuma soal hukum, tapi juga menyangkut martabat manusia dan masa depan kebhinekaan Indonesia. Negara harus hadir, aparat gak boleh tebang pilih. Kalau memang ada keterlibatan Bahar, ya harus diperiksa secara transparan. Menjaga ruang keagamaan artinya memastikan semua orang merasa aman, bukan takut.
Semoga polisi segera bergerak, menangkap para pelaku, dan menjadikan kasus ini pelajaran. Karena kekerasan atas nama agama atau loyalitas tokoh, gak bisa lagi ditoleransi. Kalau pengajian aja sudah jadi tempat pengeroyokan, lalu di mana lagi orang bisa merasa aman untuk belajar dan beribadah? Hukum berat pelaku pengeroyokan!


