Keren! Ketua PW GP Ansor Bali Ajak Umat Islam Ibadah di Rumah saat Nyepi

Published:

Ketua PW Gerakan Pemuda Ansor Bali, Tommy Reza Kurniawan, keren banget! Ia mengajak umat Islam di Bali untuk menghormati Hari Raya Nyepi dengan cara khusyuk beribadah di dalam rumah.

Beberapa ke depan, umat Islam akan merayakan Idulfitri yang waktunya hampir bersamaan dengan hari raya Nyepi bagi umat Hindu di Bali. Nyepi jatuh pada 19 Maret 2026, sementara Idulfitri diperkirakan berlangsung pada 20 Maret 2026. Karena itu, ia mengajak umat Islam di Bali untuk menjaga kerukunan dan saling menghargai dengan pemeluk agama lain. Salah satu caranya, katanya, dengan memperbanyak ibadah di rumah masing-masing agar suasana Nyepi tetap khusyuk.

Pemerintah daerah dan para tokoh agama di Bali sebenarnya sudah membuat kesepakatan bersama terkait pelaksanaan takbiran. Gubernur Bali, I Wayan Koster, juga memberi kelonggaran agar takbiran tetap bisa dilakukan di masjid atau mushola. Namun ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, misalnya tidak menggunakan pengeras suara ke luar, tidak mengadakan takbir keliling, serta waktu pelaksanaan takbiran dibatasi dari pukul 18.00 sampai 21.00. Aturan ini dibuat agar ibadah dua agama dapat berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.

Meskipun sudah ada kelonggaran, Tommy bilang umat Islam sebaiknya tetap mengurangi aktivitas yang menimbulkan keramaian di luar rumah. Baginya, menjaga suasana damai adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Bali. Apalagi selama ini Bali dikenal sebagai daerah yang cukup berhasil menjaga toleransi antarumat beragama. Umat Hindu di Bali sudah memberi ruang bagi umat Islam untuk tetap menjalankan ibadah saat Nyepi, dan tak ada salahnya, bahkan sudah sepantasnya umat Islam membalasnya dengan sikap saling menghormati.

Sikap Tommy ini benar-benar harus diapresiasi. Sikapnya ini menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memperlihatkan wajah Islam yang dewasa dan mampu menjaga kedamaian. Sayangnya, sikap seperti ini belum banyak terlihat di berbagai daerah di Indonesia. Kita masih sering mendengar adanya penolakan terhadap kegiatan ibadah umat non-Muslim, misalnya penolakan perayaan Natal atau penolakan pembangunan gereja di beberapa daerah. Kejadian seperti ini tentu membuat citra toleransi di Indonesia makin memprihatinkan.

Contoh di Bali bisa jadi bukti kalau perbedaan agama sebenarnya bisa hidup berdampingan dan saling menghargai. Artinya, toleransi sangat mungkin terwujud jika semua pihak mau menahan ego, berdialog, dan saling menghargai. Karena itu, sikap yang ditunjukkan GP Ansor Bali layak dijadikan pelajaran bagi daerah lain. Menghormati ibadah orang lain tidak akan mengurangi iman kita sedikit pun, justru menunjukkan kedewasaan dalam beragama. Perbedaan agama tak perlu membuat kita saling curiga atau melarang orang lain beribadah.

Dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia, saling menghargai adalah kunci agar kehidupan tetap damai. Menghormati ibadah orang lain juga merupakan bagian dari menjaga persatuan bangsa. Kalau sikap seperti ini terus dijaga, Indonesia akan menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi semua agama. Yuk, kita jaga kerukunan dan hargai perbedaan!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img