Gegara tekanan publik yang luar biasa, pemilik Trans7, Chairul Tanjung, kabarnya bakal dateng langsung ke Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Chairul Tanjung rencananya bakal ketemu sama para kiai di Ponpes Lirboyo. Pertemuan ini muncul gara-gara kasus tayangan Xpose Uncensored di Trans7 yang bikin heboh banget belakangan ini.
Sebelumnya, Direktur Produksi Trans7, Andi Chairil, udah lebih dulu datang ke Ponpes Lirboyo pada 15 Oktober lalu. Dia datang bersama CEO Detik Network, Abdul Aziz, dan mantan Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh. Mereka disambut sama KH Abdul Mu’id (Gus Muid), perwakilan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal), pengurus pesantren, dan juga aparat keamanan lokal. Dalam pertemuan itu, pihak Trans7 menyampaikan klarifikasi langsung sekaligus minta maaf. Mereka juga minta maaf secara langsung, terutama kepada Kiai Anwar Manshur yang muncul dalam segmen video itu.
Menanggapi permintaan maaf itu, Gus Muid bilang, pihaknya masih “dalam posisi mendengarkan” dan hasilnya bakal disampaikan ke para kiai sepuh. Pihak pesantren juga menyesalkan, kalau yang datang cuma perwakilan, bukan Chairul Tanjung langsung.
Buat yang belum ngikutin, program Xpose Uncensored di Trans7 emang lagi jadi sorotan tajam. Soalnya, episode tanggal 13 Oktober 2025 dianggap melecehkan dunia pesantren dan para kiai. Mereka merasa pesantren dan kehormatan kiai dilecehkan. Akibatnya, tagar #BoikotTrans7 langsung viral di mana-mana. Respon keras juga datang dari Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya. Dia mengecam keras tayangan itu dan bahkan berencana memperkarakan Trans7.
Dari DPR pun ikut bersuara. Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurizal, minta Trans7 bertanggung jawab dan segera ambil langkah konkret. DPR juga manggil manajemen Trans7, KPI, dan Komdigi buat dimintai penjelasan. Dalam rapat, DPR meminta agar Komdigi dan KPI melakukan audit menyeluruh terhadap izin siar Trans7 dan mengevaluasi apakah layak dilanjutkan atau ada pelanggaran izin. DPR menekankan bahwa sanksi terhadap Trans7 harus tegas dan sesuai dengan hasil dari audit Komdigi dan KPI. Trans7 diminta untuk menghentikan program tersebut secara permanen (tidak ditayangkan kembali) di semua kanal (TV, media sosial, platform digital). Trans7 juga diminta membuka identitas rumah produksi (Sandika) dan narator yang terlibat dalam produksi Xpose Uncensored.
Netizen pun ramai-ramai berkomentar. “Salah penyampaian aja ga sih? kalo dinarasikan secara benar itu kan bisa jadi kritik yang membangun bukan dianggap sebagai penghinaan” tulis seorang netizen. “Ana santri, dan saya dukung Trans7!” tulis netizen lain.
Pada 15 Oktober, massa NU juga sempat demo di depan Gedung Trans7. Mereka bawa spanduk, kibarin bendera hijau, selawatan, dan nyanyi Mars NU serta Indonesia Raya. Salah satu spanduknya bertuliskan: “Mencederai Marwah Pesantren! Tangkap Direksi Trans7!” Mereka juga nuntut Trans7 buat minta maaf secara terbuka selama tujuh hari berturut-turut di jam prime time. Di Jember, Jawa Timur, massa bahkan sempet ngeluruk Transmart , mungkin karena dikira masih satu grup sama Trans7. Sampai muncul postingan nyinyir ke yang demo di medsos: “Demo di Trans7 ❌, Demo di Transmart ✓✓”.
Buat kami di PIS, tekanan terhadap Trans7 sudah berlebihan dan nggak masuk akal. Masa iya demonya sampai ke Transmart juga.. Dan yang mereka tayangin itu kan sebenernya juga fakta. Terlepas dari naratornya yang dianggap julid, program trans 7 itu ngasih gambaran “pesantren tuh ada yang begini loh budayanya”. Harusnya kan bisa dikritik dan direspon dengan kepala dingin, bukan dengan ancaman dan boikot massal. Media punya hak buat bicara, selama tujuannya edukatif dan faktual. Kalau tiap kali bahas isu sensitif langsung dituduh “menghina”, nanti nggak ada jurnalis yang berani ngomong jujur lagi. Kritik Trans 7 ya boleh-boleh aja, evaluasi juga boleh. Yuk, kalangan pesantren bijak merespon kritik dari public!


