BENARKAH ISLAMISASI MAJAPAHIT DILAKUKAN DENGAN KEJAM DAN BRUTAL?

Published:

Akun tiktok bernama Lia Lestari’s Journey membuat ulasan tentang buku yang berani bernama Darmagandul. Menurut Lia, isi buku tersebut adalah soal pernyerbuan Kerajaan Demak ke Majapahit. Kerjaan Demak yang beragama Islam menyerbu Kerajaan Majapahit yang beragama Siwa-Budha. Digambarkan dalam buku itu, rakyat di Kerajaan Majapahit dipaksa masuk Islam oleh Kerajaan Demak. Sebagian dari mereka memilih kabur ke Bali dan Lombok untuk mempertahankan keyakinannya.

Tapi benarkah narasi yang tertulis dalam buku tersebut? Lia memang menyatakan, buku Darmagandul sering dianggap sebagai propaganda Belanda untuk memecah-belah. Tapi dia juga mengatakan, buku tersebut menjawab pertanyaan, kenapa agama leluhur kita hilang dari peradaban? Dengan kata lain, Lia terkesan ingin membenarkan isi dalam buku itu.

Tapi sebelum memihak, sebaiknya kita kupas mendalam terkait fakta dalam buku Darmagandhul itu. Tidak ada dokumen sejarah yang menyebut soal proses islamisasi dengan jalan kekerasan. Peperangan memang terjadi, tapi itu adalah konflik politik dalam sejarah Nusantara. Islam telah berkembang dengan seizin raja Majapahit Bre Kertabhumi, ayah dari raja Demak Raden Patah. Isi naskah buku Darmagandul berbeda dengan naskah sejarah arus utama.

Para sejarawan meyakini, selama masa pemerintahan Bre Kertabhumi, Raja Demak tidak pernah melakukan penyerangan ke Majapahit. Tapi penyerangan dilakukan oleh sesama keturunan Majapahit, yaitu Ranawijaya, pada 1474 Masehi. Di masa Ranawijaya ini memang terjadi konflik dengan Kerajaan Demak. Kemudian perang dalam skala besar terjadi ketika Patih Udara yang berkuasa di Majapahit, bersekutu dengan Portugis pada 1527 M.

Buku Darmagandul yang diulas Lia itu kemungkinan adalah versi modern dari sebuah naskah lebih tua. Namanya Serat Dharmo Gandul yang ditulis pada era 1900-an oleh penulis dengan nama pena, Kyai Kalamwadi. Tapi naskah itu pun adalah rangkuman dari dua naskah sebelumnya, yaitu Babad Kedhiri dan Suluk Gatholoco yang ditulis pada tahun 1870-an. Menurut sejarawan Australia, MC Ricklefs, buku tersebut berisi sinisme terhadap Islam. Karena pada saat itu, priyayi Jawa memendam sentiment negatif terhadap Islam. Mereka beranggapan, peralihan keyakinan ke Islam adalah sebuah kesalahan sejarah. Sebaliknya mereka percaya, kunci modernitas terletak pada penggabungan pengetahuan modern ala Eropa. Ditambah dengan melakukan restorasi kebudayaan Hindu –Jawa.

Versi modern Serat Darmo Gandul dan Serat Gatoloco pernah dilarang di era Orde Baru karena dianggap melecehkan. Suluk Gatoloco misalnya, menafsirkan ulang kalimat syahadat sebagai metafora hubungan seksual. Namun di Era Reformasi, beberapa buku tentang Serat Darmo Gandul dan Suluk Gatoloco kembali diterbitkan dengan nama anonym.

Naskah yang menentang narasi besar dalam dokumen sejarah mainstream memang menarik. Karena sejarah memang selalu ditulis oleh para pemenang. Tapi semua itu harus dalam kerangka logika yang kokoh dan dengan bukti kesejarahan yang kuat. Seperti kata novelis legendaris Pramudya Ananta Toer, kita harus berupaya adil sejak dalam pikiran. Jangan sampai kebencian dan sinisme merusak kerukunan!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img