Band legendaris Slank dan Dewa 19 ditolak konser di Aceh. Yang menolaknya organisasi bernama Ikatan Muslimin Aceh Mendaulat alias IMAM. Gagalnya penyelenggaraan konser ini lagi rame banget dibahas di media sosial. Awalnya Slank bakal konser di Banda Aceh dan Dewa 19 di Lhokseumawe.
Ketua IMAM, Tgk. Muslim At Thahiri bilang mereka menolak konser ini karena gak sesuai sama syariat Islam. “Kegiatan seperti ini tidak sesuai dengan identitas Aceh sebagai daerah bersyariat Islam”, ujarnya. Menurut Tgk. Muslim, konser itu nggak membawa manfaat, malah bisa menimbulkan “mudarat besar” buat generasi muda Aceh. Terus dia menyerukan semua ulama, pimpinan pesantren, dan tokoh masyarakat untuk bersatu menolak kegiatan yang dianggap “kemungkaran”. “Kami tidak melarang siapa pun datang ke Aceh, termasuk Ahmad Dhani dan Slank, tetapi jangan datang untuk menggelar konser”, ucapnya. “Konser bukan bagian dari adat dan budaya Aceh,” lanjutnya lagi. IMAM juga mendesak Gubernur Aceh, Wali Kota Banda Aceh, dan Wali Kota Lhokseumawe supaya nggak ngasih izin buat acara semacam itu. Mereka bilang, pemerintah punya tanggung jawab moral dan konstitusional menjaga syariat Islam di “Bumi Serambi Mekkah”. “Tidak ada manfaat dari konser seperti itu, justru banyak mudaratnya bagi masyarakat Aceh,” ujarnya lagi.
Berbeda dengan IMAM, pemerintah kota Banda Aceh lebih terbuka. Juru Bicara Pemko, Tomi Mukhtar, menegaskan pemerintah nggak pernah menutup ruang ekspresi seni, asal sesuai kearifan lokal dan syariat Islam. Dia juga kasih contoh, sehari setelah konser Slank batal, ada pertunjukan seni lain di Taman Budaya Banda Aceh—dan acaranya jalan lancar. Artinya, seni dan musik tetap boleh, asal formatnya sopan dan sesuai aturan lokal.
Tapi ya, kalau dilihat-lihat, Aceh kan suka mengagungkan bahwa daerah nya adalah Bumi Serambi Mekkah. Nah ini menarik, karena kalau kita lihat ke Mekkah dan Arab Saudi, pusatnya dunia Islam justru sekarang arah kebijakan mereka jauh lebih moderat. Di sana, konser musik udah jadi hal biasa. Banyak artis dunia kayak BTS, The Weeknd, sampai Amr Diab tampil di event besar seperti MDL Beast Soundstorm dan Jeddah Season. Bahkan kegiatan itu didukung langsung oleh pemerintah lewat General Entertainment Authority. Artinya, negara yang paling ketat dalam urusan syariat pun sekarang ngeliat musik dan hiburan bukan sebagai “kemungkaran”. Tapi sebagai bagian dari ekspresi budaya dan ekonomi kreatif. Selama nggak mengandung hal yang melanggar nilai moral atau hukum, seni justru dianggap bisa memperkaya kehidupan sosial masyarakat. Jadi agak aneh, jika Aceh justru lebih tertutup daripada Arab Saudi.
Buat kami di Gerakan PIS, penolakan semacam ini bisa berbahaya kalau dibiarkan. Musik dan konser adalah bagian dari ekspresi budaya dan kreativitas manusia. Musik jadi ruang di mana pesan moral, sosial, bahkan spiritual bisa disampaikan dengan cara yang menggembirakan. Aceh memang punya kekhususan dalam penerapan syariat Islam, tapi kekhususan itu seharusnya jadi ruang dialog. Bukan alasan buat menutup diri dari keberagaman ekspresi budaya. Karena lewat musik dan seni, pesan keislaman justru bisa disampaikan dengan cara yang lebih lembut, hangat, dan manusiawi. Jadi, yuk beragama pakai akal sehat, jangan jadi umat yang berpikiran sempit!


