Ustadznya Para Pemuda Hijrah Ini Jadi Tersangka Kasus KDRT

Published:

Gak nyangka deh Ustadz Evie Effendi yang dikenal Ustadz Gapleh ternyata malah tersandung kasus KDRT terhadap anaknya sendiri. Padahal ikonnya Gapleh alias Gaul tapi Sholeh. Evie populer banget di kalangan anak muda soal dakwah hijrah dengan gaya santai, humoris dan bahasa sunda khasnya.

Btw ini bukan rumor media sosial doang ya, ini info resmi dari Polrestabes Bandung.

Kasus ini muncul tanggal 4 Juli 2025, ketika anak kandungnya, berinisial NAT (19 tahun), mendatangi rumah sang ayah buat nanyain nafkah dan biaya pendidikan. Tapi menurut laporan, bukannya menerima penjelasan, NAT malah mengalami kekerasan fisik. Yang bikin makin berat, bukan cuma Evie, tapi juga ibu tiri, paman, bibi, sampai nenek ikut dalam dugaan pengeroyokan. Polisi menemukan NAT mengalami luka memar dan trauma. Laporannya masuk, visum sudah dilakukan, dan proses hukum berjalan cukup panjang sampai akhirnya polisi menetapkan status tersangka. “Kami sudah menetapkan yang bersangkutan beserta tiga orang lainnya sebagai tersangka,” ucapnya Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, Kompol Anton. Anton juga menambahkan bahwa Evie belum ditahan, tapi sudah dijadwalkan pemeriksaan lanjutan minggu depan. “Kami akan segera melakukan pemeriksaan… pemanggilan sudah dilayangkan,” jelasnya. Sementara itu, kuasa hukum korban bilang tidak ada rencana damai atau cabut laporan. Artinya, proses hukum bakal lanjut terus.

Evie lahir di Bandung pada 1976. Masa mudanya kelam karena pernah dipenjara tahun 2000-an—dan dari situlah ia cerita bahwa dirinya hijrah dan mulai berdakwah. Dia nggak lulusan pesantren, pendidikan formalnya bahkan hanya sampai SMP, tapi dia aktif belajar agama secara otodidak. Dari situ, dia bangun gerakan Pemuda Hijrah buat anak muda yang ingin “balik arah” dari gaya hidup ekstrem—mantan geng motor, pecandu, dan sebagainya. Ceramahnya santai, gampang dicerna, dan relate sama pop culture. Itu yang bikin dia punya followers banyak, terutama di Instagram dan komunitas hijrah.

Nah sebenernya, sebelum kasus ini, Evie udah pernah kena masalah lagi setelah aktif berdakwah. Pada 2018, dia dilaporkan atas dugaan penistaan agama karena dalam ceramahnya menyebut Nabi Muhammad sebelum kenabian berada dalam “kesesatan”. Dan dari situ ia menilai perayaan Maulid Nabi seolah ikut merayakan “kesesatan” tersebut. Pernyataan itu bikin heboh dan menuai protes dari sejumlah ormas sampai akhirnya Evie meminta maaf ke MUI Jawa Barat. Setelah itu, kritik terhadap bacaan Qur’an dan metode dakwahnya masih bermunculan, terutama dari kalangan ulama dan organisasi keagamaan. Tapi terlepas dari kontroversi, nama Evie tetap eksis dan populer, terutama di kalangan komunitas hijrah dan anak muda.

Balik lagi soal kasus KDRT, ini bikin makin viral karena ironi citra dirinya. Banyak orang yang merasa kecewa karena sosok yang sering ngajarin religiusitas ternyata justru terseret kasus yang berhubungan sama kekerasan terhadap anak. Evie sendiri sempat bilang bahwa tuduhan ini fitnah, tapi status tersangka udah resmi. Netizen ada yang bela, ada yang kecewa, ada yang ngerasa ini pukulan berat buat komunitas hijrah.

Buat kami di Gerakan PIS, KDRT apalagi terhadap anak, gak bisa dinego. Ada atau tidaknya status publik, agama, atau citra religius, pelakunya harus diproses hukum. Figur publik bukan malaikat, dan komunitas hijrah juga perlu refleksi bahwa panutan bukan sekadar orang yang tampil santai dan pakai jargon motivasi. Kita perlu memastikan penyintas anak dapat ruang aman, dukungan psikologis, dan perlindungan, bukan justru dibungkam pakai komentar pembelaan emosional. Kontribusi Evie dalam membina pemuda tentu tetap dihargai. Tapi bila kekerasan ini benar terjadi, itu bukan fitnah—itu pelanggaran serius terhadap amanah sebagai orang tua dan penceramah.

Kasus ini jadi reminder penting: hijrah bukan penampilan, tapi perubahan moral dan tanggung jawab sosial. Yuk kita dukung proses hukum berjalan, berpihak pada korban, dan lebih kritis memilih panutan.

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img