Mantul! Menjelang Natal, Arab Saudi Izinkan Penjualan Kue Natal

Published:

Arab Saudi kembali jadi sorotan karena perubahan kebijakan sosial yang cukup signifikan. Mereka kini mengizinkan penjualan kue Natal dan atribut Natal lainnya. Perubahan ini terjadi di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Informasi ini disampaikan oleh aktivis NU, Islah Bahrawi, melalui akun TikTok @immanuelrieyanti pada 17 Desember.

Dalam pernyataannya, Cak Islah menyebut Kerajaan Arab Saudi mempersilahkan umat Nasrani merayakan Natal. Ia juga menyampaikan di sejumlah daerah, kue-kue Natal sudah mulai dijual secara terbuka. Bahkan, toko kue di Riyadh, Dammam, dan Al-Khobar menjual kue Natal meskipun pemiliknya adalah Muslim. Pernyataan ini kemudian diikuti tantangan terbuka Cak Islah kepada ustadz Khalid Basalamah. Ia menantang agar protes dilakukan langsung ke Raja Saudi, bukan hanya di dalam negeri. Menurutnya, tidak ada yang berani memprotes Saudi, padahal banyak ustadz tersebut adalah alumni Madinah dan Mekkah.

Cak Islah juga menyinggung kalo kelompok konservatif di Indonesia memprotes kebijakan Saudi, mereka justru akan berhadapan dengan risiko hukum berat. Ia menyoroti ironi para ustadz konservatif yang belajar dan dibiayai Arab Saudi. Ideologi yang mereka bawa ke Indonesia justru tidak lagi sejalan dengan kebijakan Saudi hari ini. Sebelum era MBS, Arab Saudi memang dikenal sangat konservatif. Perayaan non-Islam di ruang publik, termasuk Natal, dilarang keras. Barang-barang Natal seperti pohon, dekorasi, dan pernak-pernik tidak boleh dipajang atau dijual terbuka. Umat Kristen, yang mayoritas pendatang, hanya bisa merayakan Natal di rumah atau kompleks tertutup.

Hingga pertengahan 2010-an, polisi moral aktif mengawasi kehidupan sosial masyarakat. Mereka menindak simbol yang dianggap bertentangan dengan tafsir Islam ketat. Termasuk simbol Natal dan Valentine. Saat itu, penjualan barang hari raya non-Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Banyak toko menjualnya diam-diam di ruang belakang. Situasi mulai berubah ketika MBS menjadi pusat kekuasaan. Ia meluncurkan Vision 2030. Vision 2030 adalah peta jalan transformasi besar Arab Saudi. Isinya mencakup modernisasi, diversifikasi ekonomi, pariwisata, dan citra global yang lebih terbuka.

Salah satu dampaknya adalah pemangkasan kewenangan polisi moral. Aktivitas sosial dan budaya menjadi lebih longgar. Berbagai festival, konser, dan event internasional mulai diizinkan. Tahun 2018 menjadi titik awal perubahan penting. Saat itu tercatat adanya ibadah Kristen yang dilakukan secara terbatas dan privat. Ini menandai adanya ruang gerak baru bagi komunitas non-Muslim. Antara 2019–2020, dekorasi Natal mulai terlihat terbuka di kota besar. Riyadh, Jeddah, Dammam, dan Al-Khobar jadi contoh paling jelas. Pohon Natal, ornamen, kue, dan aksesoris warna merah-hijau dipajang di etalase toko.

Fenomena ini bukan kejadian tiba-tiba. Ini hasil perubahan kebijakan sejak Vision 2030 dijalankan. Yang berubah bukan akidah negara, tapi cara negara mengelola ruang sosial. Selama tidak berupa ibadah publik, simbol budaya tidak lagi dipermasalahkan. Karena itu, pemilik toko Muslim bisa menjual kue Natal tanpa sanksi. Di sinilah kontras dengan sebagian ustadz konservatif di Indonesia terlihat jelas. Di Indonesia, masih ada larangan mengucapkan “Selamat Natal” bagi Muslim. Alasannya demi menjaga kemurnian akidah. Sementara di Arab Saudi, simbol dan ucapan sosial tidak dianggap ancaman iman.

Padahal Saudi selama ini jadi rujukan utama konservatisme Islam. Artinya, negara rujukan itu sendiri sudah membedakan aqidah dan toleransi sosial. Mirisnya, banyak ustadz konservatif Indonesia adalah alumni Saudi. Namun yang dibawa pulang justru tafsir lama yang sudah ditinggalkan di sana. Saudi aja bisa udah mulai toleran, masa ustadz di Indonesia masih sibuk larang ucapan Natal? Yuk beragama dengan akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img