Menjelang hari natal 2025, ada aja oknum-oknum yang mau memecah belah antar umat beragama. Kalau tahun-tahun sebelumnya rame soal larangan ngucapin “Selamat Natal”, kali ini levelnya naik: muncul ucapan “Selamat Hari Mualaf Sedunia” di tanggal 25 Desember. Beberapa tokoh publik ikut mengucapkan hal tersebut lewat video. Di antaranya Refly Harun, Ustadz Fadlan Garamatan, dan beberapa figur lainnya. Padahal semua orang juga tahu, 25 Desember itu identik dengan Hari Natal umat Kristen. Alhasil, wajar kalau hal ini bikin banyak netizen—khususnya umat Kristen—merasa terusik.
Salah satu respons datang dari akun TikTok @_marianovi, pada 17 Desember lalu. Lewat videonya, dia mempertanyakan kenapa Hari Mualaf Sedunia harus jatuh di tanggal 25 Desember. “Kaga ada tanggalan lain apa sampe harus mengambil tanggalannya orang kristen yang mau natalan?” tanyanya. Dia juga menyindir soal kebiasaan sebagian orang yang justru merusak kebahagiaan orang lain. Meski begitu, dia menutup dengan nada damai, mengutip ajaran Yesus tentang mengasihi musuh. “Jadi kalo dia mau tanggal 25, silahkan aja, ambil, bungkus” katanya sarkas. Dia juga bilang, pilihan tanggal itu banyak: dari tanggal 1 sampai 31. Bulan juga ada 12, kenapa harus pas 25 Desember? Bahkan dia bilang, “Sebenernya lu pengen Natalan juga ya? Pengen ikut kan?” “Kalo mau ikut natalan mah gapapa ikut aja” tambahnya.
Respons serupa juga datang dari akun TikTok @wawasanelia pada 16 Desember. Elia bilang, setiap mau Natal, selalu aja muncul “anomali”. Alias, oknum-oknum yang seolah sengaja bikin panas. Dia mempertanyakan motivasi di balik penggaungan Hari Mualaf Sedunia ini. “Minimal kalau mau menetapkan 25 Desember itu menjadi Hari Mu’alaf Sedunia, maka pakai kalendermu sendiri, jangan pakai di kalender kami” katanya. “Seluruh dunia, kalender yang kamu pakai sekarang, yang seluruh dunia pakai sekarang adalah kalendernya Yesus Kristus” lanjutnya. Elia juga menjelaskan bahwa kalender yang dipakai dunia saat ini adalah kalender Gregorian. Kalender yang memang lahir dari tradisi Kristen dan dipakai secara global. Jadi menurutnya, 25 Desember sah dan valid sebagai hari Natal dalam kalender tersebut. “Kalau mau tetapkan Hari Mualaf Sedunia, pakai kalender Hijriah aja,” tegasnya. Dia juga menyinggung bahwa Indonesia sebenarnya lagi menuju suasana toleransi yang lebih hangat. Bahkan sempat ada rencana perayaan Natal bersama lintas agama. Tapi, kata dia, selalu ada pihak yang justru tampil beda dan bikin suasana keruh.
Nah kan pak, jadi memecah belah kan tuh? Emang apa salahnya sih pak, bu, buat menghargai umat agama lain berbahagia dengan hari rayanya mereka? Infonya, Hari Mualaf Sedunia ini sudah digaungkan sejak 2018. Tapi sebelumnya nggak terlalu dikenal, dan baru ramai di tahun ini—terutama di kalangan Gen Z. Coba dibalik posisinya. Kalau Idul Fitri atau Idul Adha diusik-usik, pasti umat Islam juga nggak terima.
Selain itu, klaim “Hari Mualaf Sedunia” ini juga patut dipertanyakan. Beneran sedunia, atau cuma di lingkup kelompok tertentu saja? Faktanya, tidak ada organisasi internasional resmi yang menetapkan 25 Desember sebagai Hari Mualaf Sedunia. Lagipula, perpindahan agama itu keputusan yang sangat personal. Kenapa harus dirayakan secara massal? Kalau mau merayakan, kenapa nggak pilih tanggal lain? Misalnya 1 Muharam sebagai Tahun Baru Islam dan simbol hijrah. Atau 12 Rabiul Awal yang diyakini sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad. Kenapa harus 25 Desember juga?
Pemilihan tanggal ini keliatan banget mengolok-olok umat Kristen. Seolah ingin bilang: “Silakan kalian rayakan Natal, tapi ingat, umat kalian lagi pindah agama.” Narasi seperti ini jelas berbahaya kalau dibiarkan. Memang, perayaan Hari Mualaf Sedunia tidak perlu dilarang—itu hak berekspresi. Tapi masyarakat yang masih berpikir waras juga punya hak untuk mengkritik dan mengecam. Toleransi itu bukan soal siapa paling banyak, tapi siapa paling bisa menghargai. Yuk, jaga terus akal sehat dan toleransi di Indonesia.


