Menteri Agama Nasaruddin Umar kembali jadi sorotan. Kali ini gara-gara pernyataan dia terkait boikot produk-produk terafiliasi dengan Israel dan Amerika. Menurut Menag, gerakan boikot produk yang dianggap pro Israel bukan solusi untuk menangani masalah besar di Timur Tengah. Tindakan itu justru merugikan bagi dunia usaha dan tenaga kerja di Indonesia, bahkan merugikan umat Islam dua kali.
Pernyataan itu dia sampaikan dalam acara silaturahmi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pada Jumat 13 Maret lalu. “Saya termasuk yang prihatin. Saya tahu persis apa yang sedang terjadi di sana. Boikot ini bukan jalan keluar,” ungkap Nasaruddin. Menag mengungkapkan, akibat boikot itu sekitar 3000 karyawan di Indonesia kena PHK dari salah satu restoran cepat saji. “Ini berarti umat Islam dua kali rugi. Di sana dibantai, di sini di-PHK,” tegasnya.
Menag juga mengungkapkan, sejumlah negara-negara Islam lain tidak melakukan aksi itu. Di sejumlah negara itu tetap menjual produk-produk yang dianggap pro Israel. “Buktinya di Mesir, Lebanon, di mana-mana ada McDonald’s, masa kita di sini jauhi,” imbuhnya.
Pernyataan itupun mengundang pro dan kontra dari netizen Indonesia. Sebagian menghujat Menag, sebagian yang lain mendukung pernyataan itu. “Jangan-jangan dia agen Israel nih…,” tulis seorang netizen yang kontra. “Setidaknya kita sudah tahu bapak berpihak ke mana, naudzubillah,” tulis yang lain. “Bodo amat nggak mau dengerin omonganmu, tetap boikot produk Israel laknatullah,” tulis yang lain lagi.
Sebagian netizen lainnya justru pro dengan pendapat Menag. Bagi mereka, baik-baik saja peduli dengan penderitaan rakyat Palestina, tapi kalau membuat umat Islam di Indonesia kena PHK, mudaratnya menjadi nyata. “Jujur, PHK tuh gak enak, guys. Kita semua ingin menghentikan genosida, tapi kalau itu mengorbankan leher orang-orang terdekat kita, itu juga masalah. Jaman sekarang cari pekerjaan sulit, sumpah,” tulis seorang netizen. “Setuju dengan pandangan Menag. Prinsipnya adalah mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengambil manfaat,” tulis yang lainnya. “Jika niat boikot untuk membantu tapi nyatanya menyebabkan ribuan umat Islam kehilangan pekerjaan, maka mudaratnya nyata. Kita harus bijak!” tulis yang lain lagi.
Ada juga netizen yang mengkritik dengan ungkapan sarkas terhadap perilaku umat Islam yang melakukan boikot. “Boikot aja… biar nggak ada orang Islam make HP dan lain-lainnya,” tulisnya.
Aksi boikot terhadap produk-produk yang dianggap pro Israel ternyata memang telah memberikan dampak signifikan terhadap produk-produk itu. Sektor yang paling berpengaruh adalah industri ritel dan consumer goods atau kebutuhan sehari-hari. Menurut Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI), terjadi penurunan transaksi antara 40-50 persen sejak aksi itu dilakukan. Penurunan juga dialami oleh McDonald’s Indonesia. Walaupun tidak disebutkan nilai persentasenya, PT Rekso Nasional Food, pemegang waralaba McDonald’s Indonesia, mengaku terjadi penurunan signifikan. Kerugian juga dialami oleh Kentucky Fried Chicken (KFC). Pada kuartal ke-3 tahun 2024, kerugian mencapai ratusan miliar. Penurunan juga dialami oleh produk merek global kategori ibu dan bayi yang mengalami kemerosotan produk terjual mencapai 18,3 persen. Akibat kelanjutannya, kita mendengar banyak terjadi PHK di perusahaan-perusahaan sektor itu.
Boikot, sebagai sebuah gerakan, mungkin efektif untuk memberi tekanan. Tapi kalau ternyata itu berdampak bagi ekonomi kita, bagi tenaga kerja kita, apakah gerakan itu masih patut kita lakukan? Bagaimana pendapatmu?


