Wacana Belajar Daring Dihentikan Pemerintah, Kenapa?

Published:

Kabarnya wacana sekolah daring bakal nggak dilanjutin sama pemerintah setelah dikritik berbagai pihak. Sebelumnya pada 17 Maret lalu pemerintah menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis). Dasar kebijakan ini adalah instruksi dari Presiden Prabowo Subianto yang fokus mau terapin strategi penghematan energi. Ide kebijakan ini muncul setelah adanya tekanan krisis energi global dan geopolitik, tingginya konsumsi BBM dari mobilitas (baik siswa maupun guru), serta biaya operasional sekolah seperti listrik dan AC yang dianggap pemborosan energi.

Nah, rencana awalnya pembelajaran diterapkan full daring dan hybrid alias campuran daring dan tatap muka per April 2026. Tapi ternyata beberapa pihak menilai sekolah daring berisiko terhadap kualitas pendidikan. Misalnya anggota Komisi X DPR RI, My Esti Wijayanti yang menganggap belajar daring bisa menyebabkan learning loss, alias penurunan kemampuan belajar siswa yang sempat terjadi saat pandemi. Ditambah lagi, menurutnya nggak semua siswa dan guru punya akses internet yang stabil dan perangkat yang memadai. Praktisi pendidikan Darmaningtyas juga menganggap pendidikan nggak boleh dikorbankan demi efisiensi energi, dan daring terbukti menurunkan kualitas pembelajaran. Para orangtua dan guru juga banyak yang nggak setuju sama kebijakan ini, karena selain bikin nggak fokus dan sulit mengontrol proses belajar, anak jadi kecanduan gadget dan harus mengeluarkan biaya lebih buat kuota.

Akhirnya pada 25 Maret kemarin, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, membatalkan kebijakan ini. Pemerintah mutusin lebih prioritasin memprioritaskan pembelajaran tatap muka untuk menghindari learning loss. Nggak cuma soal pembelajaran daring, pemerintah melalui Kemendikdasmen juga menerapkan kembali menulis pakai tulisan tangan, bukan sekadar copy paste dari bantuan mesin Artificial Intelligence (AI) untuk pengerjaan tugas. Hal ini disampaikan setelah menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) soal Pedoman Pemanfaatan Teknologi Digital dan AI pada 12 Maret. Awal mula kebijakan ini ada karena efek teknologi dan AI semakin massif. Dikhawatirkan itu bisa bikin siswa males mikir, siswa gabisa mengolah idenya sendiri, literasi menurun, konsentrasi melemah dan daya ingat berkurang. Ditambah lagi dalam Sidang Kabinet pada Oktober 2025, Presiden Prabowo ngasih arahan buat kembaliin kebiasaan menulis tangan siswa. Kebijakan ini mulai digalakkan secara luas pada 13-22 Maret dan bertahap untuk jenjang SD, SMP, dan SMA di seluruh Indonesia.

Penerapan SKB ini ada beberapa cara. Pertama, guru boleh pakai video berupa slide atau layar digital dan masih boleh pakai AI tapi dikontrol. Kedua, rangkuman materi, catatan pelajaran, dan tugas tertentu harus ditulis tangan. Ketiga, siswa masih dibolehin cari info dari internet atau pakai mesin prompt AI tapi harus diolah sendiri dan ditulis ulang pakai tangan. Keempat, guru harus kasih aktivitas nulis, bukan cuma ceramah atau kasih file. Misal: siswa diminta nonton sebuah video edukatif terus bikin rangkuman tulis tangan, atau pembelajaran berbasis diskusi lalu tulis kesimpulan di buku.

Kalau dilihat secara keseluruhan, kebijakan ini nunjukin kalau pemerintah lagi nyari keseimbangan antara teknologi dan cara belajar konvensional. Di satu sisi, pembelajaran daring memang punya kelebihan seperti fleksibilitas dan akses informasi yang luas. Tapi di sisi lain, pengalaman sebelumnya juga nunjukin kalau daring punya banyak kelemahan, terutama soal fokus belajar, interaksi, dan pemahaman siswa. Makanya, pemerintah akhirnya lebih memilih mempertahankan pembelajaran tatap muka supaya kualitas pendidikan tetap terjaga. Sementara itu, penggunaan tulisan tangan jadi semacam “penyeimbang” di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan AI. Karena dengan menulis tangan, siswa dipaksa untuk benar-benar memahami materi, bukan sekadar menyalin atau mengandalkan teknologi. Jadi intinya, teknologi tetap dipakai, tapi nggak boleh sampai menggantikan proses berpikir siswa. Kombinasi antara digital dan tulisan tangan ini diharapkan bisa bikin pembelajaran jadi lebih efektif dan tetap relevan di era sekarang. Yuk tingkatkan terus pendidikan Indonesia!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img