Jakarta, PIS – Di Indonesia ini jarang banget ditemuin pondok pesantren yang dipimpin perempuan. Biasanya sih yang mimpin pondok ya laki-laki. Tapi di antara yang jarang, ada beberapa yang menonjol.
Salah satunya Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islami di Cirebon, Jawa Barat. Pondok ini dipimpin ulama perempuan, namanya Hj. Masriyah Amva. Saking fenomenalnya, kisah pondok ini diangkat jadi sebuah film berjudul ‘Pesantren’ yang disutradarai Shalahuddin Siregar
Film ini sejak 24 Mei tayang premier di bioskoponline.com dengan harga tiket Rp 15 ribu Dalam promonya, digambarin film ini nyeritain gimana sebuah pondok yang dipimpin perempuan mendidik santri untuk berpikiran luas, mendukung kesetaraan gender, dan menghargai keberagaman.
Hj. Masriyah yang akrab disapa Bu Nyai mimpin Pondok ini pada 2006 ngegantiin suaminya. K.H. Muhammad (Alm), yang meninggal di tahun itu. Perjalanan Bu Nyai dalam memimpin Ponpes ini penuh tantangan.
Nggak sedikit orangtua yang pindahin anaknya ke pesantren lain karena nggak mau dipimpin seorang perempuan. Meski sempet mendapat pro dan kontra dari berbagai pihak, Bu Nyai nggak nyerah.
Tanpa Lelah, dia ngembangin Ponpes Kebon Jambu Al Islamy. Sekarang ini pesantrennya punya 1.000 santri laki-laki dan 700 orang santri perempuan. Bu Nyai bilang, ia sepenuhnya bergantung kepada Tuhan yang mampu memberinya kekuatan dalam memimpin Ponpes ini.
Memang Ponpes ini sempet dipimpin anak laki-lakinya, tetapi sayangnya sang anak telah berpulang juga pada 2017. Pondok ini mencakup pendidikan SMP, Madrasah Aliyah, Madrasah Tsanawiyah, dan bahkan lembaga setingkat perguruan tinggi.
Karena terkesan dengan kepemimpinan Bu Nyai, Salahuddin Siregar memutuskan untuk membuat film documenter mengenai pondok tersebut. Salahuddin nunjukin gimana Bu Nyai jadi bukti bahwa kesetaraan gender bukanlah hal yang merusak agama, melainkan untuk menguatkan agama.
Film ini sempat hadir di berbagai festival internasional. Antara lain terpilih untuk ditayangin di ternational Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA), yang adalah festival dokumenter paling bergengsi dan terbesar di dunia.
Kita tentu berharap lebih banyak film yang menginspirasi kebaragaman semacam ini diproduksi di Indonesia. ULAMA PEREMPUAN TOP, FILM INDONESIA KEREN!



