Nama baik pesantren tercoreng lagi nih. Gara-gara kekerasan yang makan korban. Terbaru, korbannya bernama Hilmi, usianya 18 tahun. Dia santri di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Hilmi tewas akibat dikeroyok belasan santri yang seasrama dengannya. Dia dibawa ke Gudang dan dianiaya sampai babak belur. Dia lalu ditinggal begitu saja di dalam gudang dan dikunci dari luar. Besoknya dia temukan wali asrama.
Hilmi sempat mendapat perawatan medis. Tapi sayang, nyawanya nggak bisa diselamatkan. Tubuhnya dan beberapa organ korban mengalami luka-luka, termasuk muncul warna aneh akibat luka lebam. Kasus ini sedang didalami polisi. Ada 18 santri yang terlibat dalam dugaan kasus kekerasan ini. Ada 6 santri yang ditahan untuk penyelidikan karena masuk batas usia dewasa. Sedangkan 12 tersangka lainnya ditangani Lembaga Perlindungan Anak karena masih di bawah umur.
Kasus kekerasan yang makan korban bukan pertama kali terjadi. Daftarnya, di Pondok Pesantren Modern Gontor, di Pesantren Ar-Royyan, Riau, dan beberapa pesantren lainnya. Di Gontor, santri berinisial AM tewas karena dianiaya seniornya. Penganiayaan terhadap santri nggak bisa dibenarkan, apapun motifnya. Apalagi, sampai makan korban jiwa.
Kasus ini harus jadi perhatian semua lembaga pendidikan, nggak hanya pesantren. Agar kasus serupa nggak terulang kali di kemudian hari. Dan agar pesantren nggak ditinggalkan karena citra negatif ini. Lembaga pendidikan, pesantren dan lainnya, harus jadi tempat yang aman dan nyaman bagi santri dan siswa. Bukan tempat yang penuh kekerasan dan potensial makan korban jiwa.
Yuk, ciptakan lingkungan pendidikan yang ramah dan aman untuk anak-anak!


