Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Indonesia kehilangan lagi ulama yang berpengaruh, K.H Syakur Yasin atau Buya Syakur. Buya Syakur meninggal hari ini jam 2 malam di Rumah Sakit Mitra Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Buya Syakur meninggal di usia 75 tahun.
Buya Syakur adalah salah satu ulama kharismatik asal Indramayu, Jawa Barat. Pengajiannya diikuti masyarakat lintas kalangan, baik tatap muka langsung di pesantren asuhannya maupun secara online di kanal YouTube-nya. Isi-isi ceramahnya menampilkan ajaran Islam yang terbuka, mencerahkan, dan toleran. Buya Syakur, misalnya, pernah ceramah bahwa Nabi Muhammad punya beberapa istri yang non-muslim. Dua di antaranya adalah Shafiyyah binti Huyay dan Maria al-Qibtiyah.
Shafiyyah seorang Yahudi, sementara Maria seorang Kristen. Dua istri Nabi itu, katanya, tidak masuk Islam ketika menikah dengan Nabi. Ini sengaja diungkap Buya Syakur untuk membantah anggapan bahwa Nabi sangat membenci orang Yahudi dan Kristen.
“Masa benci sama orang Nasrani, tapi istrinya Nasrani,” katanya dalam satu ceramah yang viral di sosial media.
Dalam ceramah yang lain, Buya Syakur menyoroti pemahaman sebagian muslim yang menganggap Islam itu agama yang sempurna. Anggapan itu muncul karena didukung dengan Al-Maidah ayat ketiga. Bagi Buya Syakur, anggapan itu tidak masuk akal. Menurutnya, tafsir tentang ayat itu sudah digeser dari maknanya. Ayat itu, katanya, menyatakan Nabi Muhammad sudah menyelesaikan tugasnya sebagai Rasul dengan sempurna, bukan Islam sebagai agama yang sempurna.
“Mana mungkin di dunia ada kesempurnaan,” katanya. Ceramah-ceramahnya membuat telinga sebagian muslim memerah.
Karena itu, Buya Syakur sering dituduh dengan berbagai tuduhan yang menjatuhkan. Buya Syakur menghabiskan masa kecil dan masa remaja di pondok pesantren. Setelah lulus pesantren, dia belajar di beberapa negara Timur-Tengah. Di Libya, Buya Syakur menyelesaikan studi Ilmu Al-Qur’an dan sastra Arab. Di Tunisia, dia menyelesaikan magisternya sastra linguistik. Buya Syakur sempat melanjutkan pendidikan di Oxford, London. Sejak 1991 Buya Syakur fokus berdakwah di kampung halamannya dan mendirikan Pondok Pesantren Cadangpinggan pada 2006.
Selamat berpulang, Buya Syakur. Semoga Tuhan menempatkan anda di tempat terindah di sisi-Nya…


