BUKAN CUMA BABI, AROMA DUPA HINDU PUN DIPROTES UMAT ISLAM MEDAN

Published:

Kalau berita ini benar, berarti sebagian umat Islam di Medan makin menjadi-jadi. Mereka mulai merasa punya hak untuk mengatur orang lain di ruang publik. Isu ini muncul dari postingan Facebook milik akun bernama Keke M pada 6 Maret lalu. Dalam postingannya ia menulis, “Belum selesai masalah babi, sekarang mereka menganggap aroma dupa Hindu di Medan haram saat puasa.” Akun Keke M juga menyebut bahwa Medan sudah diklaim sebagai kota Islam oleh seorang pemuka agama di wilayah Deli Serdang.

Postingan ini lalu ramai dan memancing banyak komentar dari warganet. Banyak orang menyayangkan jika kejadian seperti itu memang benar terjadi. Salah satu warganet bahkan menulis, “Kalau benar seperti itu, berarti bulan puasa bukan lagi bulan berkah, tapi bulan penuh masalah.” Kritik juga datang dari warganet lain yang membuat video tanggapan, salah satunya akun Instagram @ies.3n. Dalam videonya dia mempertanyakan, apa hubungannya asap dupa dengan ibadah puasa sampai-sampai bisa dianggap haram. Dia juga menyindir cara sebagian orang memahami puasa. Menurutnya, tujuan puasa itu untuk mengontrol diri sendiri, bukan mengontrol orang lain.

Tapi perlu dicatat juga, sampai sekarang informasi soal protes terhadap aroma dupa itu belum terverifikasi secara jelas. Belum ada laporan media arus utama atau video kejadian yang beredar luas. Meski begitu, isu ini tetap menarik untuk dibahas. Karena yang disentuh bukan sekadar soal dupa, tapi persoalan yang lebih besar: toleransi dan keberagaman.

Sebelumnya, di Medan juga sempat ramai dengan kontroversi soal penjualan babi. Pada Februari lalu, wali kota Rico Waas mengeluarkan surat edaran yang mengatur lokasi penjualan daging non-halal. Kebijakan ini memicu protes karena dianggap merugikan pedagang babi, terutama dari komunitas Batak Kristen. Sekitar seribu orang bahkan turun ke jalan melakukan demonstrasi karena aturan itu dinilai diskriminatif. Pemerintah kota lalu menjelaskan bahwa aturan itu bukan melarang penjualan babi, tapi hanya menata lokasi agar tidak memicu gesekan sosial.

Rangkaian kejadian seperti ini membuat banyak pihak khawatir. Karena kalau dibiarkan, sikap merasa paling benar ini bisa mengancam kerukunan antar umat beragama. Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Di sini hidup banyak agama, suku, budaya, dan latar belakang yang berbeda. Semua warga punya hak yang sama, baik mayoritas ataupun minoritas. Apa yang terjadi di Medan ini jelas menjadi ancaman untuk kerukunan dan toleransi. Kelompok mayoritas merasa paling berhak mengatur kelompok lain. Mereka beragama dengan cara yang sempit dan terlalu kaku. Dan akhirnya mereka melihat praktik agama lain sebagai gangguan.

Padahal setiap agama punya tradisi, makanan, dan ritual yang berbeda. Contohnya seperti dupa dan babi. Dalam tradisi Hindu, dupa adalah bagian dari ibadah sebagai simbol persembahan dan doa kepada Tuhan. Begitu juga babi. Babi memang haram bagi umat Islam. Tapi bagi pemeluk agama lain, babi bukan makanan yang terlarang. Jadi ketika ada orang yang menjual atau mengonsumsi babi, itu bukan berarti mereka melanggar aturan agama orang lain. Karena itulah, kita harus saling menghormati, menghargai pilihan orang lain, bukan mengontrol.

Yuk, beragama pakai akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img