Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi memang pantas diteladani. Dia ini punya trik ampuh menghemat anggaran belanja pemerintah. Ini misalnya dia ungkapkan di Rapat Kerja bersama Komisi II DPR dan Kementerian Dalam Negeri, di Jakarta 19 April. Dalam rapat itu, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyindir Kang Dedi dengan menyebutnya sebagai ‘Gubernur Konten’. Kang Dedi menjawab pernyataan Rudy dengan santai. Dia bilang dia aktif membuat konten karena membawa dampak positif. Dia tidak perlu lagi membuat iklan mahal di media massa. Sebagai gantinya, dia membuat konten di media sosial. Dia bilang, konten-konten itu memangkas belanja rutin iklan yang dikeluarkan Pemda Jabar. Bila sebelumnya belanja iklan mencapai Rp 50 miliar, pada tahun ini turun menjadi Rp 3 miliar. Ini kan penghematan yang luar biasa besar.
Kang Dedi tidak berlebihan. Dia sekarang memang naik daun di dunia media sosial. Di sana dia bisa mempromosikan dirinya dan program-program yang dijalankannya. Hanya dengan perangkat pembuat video yang biasa-biasa saja, dia bisa berbicara pada public secara sangat intensif setiap hari. Dia misalnya membuat konten membongkar para penjual minuman keras dan obat-obatan terlarang yang seolah terjual bebas di wilayah Jawa Barat. Juga ada konten dia melakukan pembersihan lingkungan. Ada pula video dia berdiskusi dengan pengelola Taman Safari. Ada juga video dia mengunjungi pasar yang nampak dipenuhi sampah. Ada banyak lagi konten-konten tentang dirinya yang menyebar di medsos.
Inilah yang dia maksud dengan penghematan belanja iklan di media. Dia tidak lagi perlu membuat iklan-iklan tentang Jawa Barat, tapi langsung menggarap video tentang pandangannya, kebijakannya, masalah yang dihadapi, dan juga aktivitasnya. Dia sebelumnya juga sudah memaparkan perbandingan anggaran belanja media pemerintah Jawa Barat. Pada 2021, belanja media Jawa Barat adalah Rp34,7 miliar. Tahun 2022, naik menjadi Rp 43,1 miliar. Ini kembali naik menjadi hampir Rp 50 miliar pada 2023. Itu semua adalah masa Jawa Barat dipimpin Gubernur Ridwan Kamil. Pada 2024, Ridwan diganti pejabat gubernur Bey Machmudin. Pada 2024 itu, belanja media turun menjadi Rp 19,9 miliar. Dan yang menarik, ketika sekarang Kang Dedi naik menjadi Gubernur Jawa Barat, dana belanja media itu turun sampai hanya Rp 3,1 M. Bayangkan dari Rp 50 M pada 2023, menjadi Rp 3,1 M pada tahun ini.
Apa yang dilakukan sangat layak dijadikan teladan bagi para kepala daerah lainnya. Bahkan juga bisa ditiru oleh pejabat pemerintah pusat. Ini misalnya juga sudah dilakukan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dia sejak bulan April ini sudah membuat serangkaian video monolog yang bicara tentang fenomena-fenomena menarik di Indonesia. Dari soal Bonus Demografi, keberhasilan olahraga, sampai soal Hilirisasi. Sayangnya inisiatif tim komunikasi Gibran ini mendapat respons negatif dari sebagian kalangan masyarakat yang nampaknya memang sinis terhadap pemerintah. Sebagaimana Dedi, Gibran juga dituduh sekadar melakukan pencitraan. Mudah-mudahan Gibran tidak perlu berkecil hati. Karena seperti dikatakan Dedi, membuat konten media sosial adalah cara yang efektif dan efisien untuk bicara langsung pada rakyat Indonesia. Kita tunggu terus video-video Kang Dedi dan Mas Gibran selanjutnya!


