Fans Leeds United Boo Pemain Muslim yang Buka Puasa di Tengah Pertandingan
Pertandingan Premier League antara Leeds United vs Manchester City di Elland Road, Sabtu 28 Februari kemarin diwarnai insiden yang heboh nih! Bukan soal gol atau kartu merah ya. Tapi karena kelakuan sebagian fans Leeds yang nge-boo saat pertandingan “dihentikan” sebentar. Alasannya biar tiga pemain Muslim Manchester City bisa buka puasa Ramadan.
Tiga pemain itu adalah Omar Marmoush, Rayan Ait-Nouri, dan Rayan Cherki. Ketiganya puasa seharian dan waktu berbuka tiba tepat saat pertandingan lagi berlangsung. Pertandingannya diberhentikan sekitar menit ke-13, setelah matahari terbenam di Yorkshire. Nah, ada juga pesan resmi langsung yang ditampilin di layar besar stadion. Ini untuk menjelaskan bahwa jeda dilakuin supaya pemain Muslim bisa berbuka puasa.
Tapi alih-alih diterima dengan tenang, sebagian fans Leeds malah merespons dengan boo, siulan, dan chant kasar. Padahal jeda ini cuma berlangsung sekitar 78 detik aja, guys! Pemain Leeds sendiri terlihat kaget dengan reaksi fans mereka.
Aturan soal jeda Ramadan ini sebenarnya bukan hal baru. FYI, Premier League udah mengizinkan jeda buka puasa bagi pemain Muslim sejak 2021 lalu. Jadi ini bukan kejutan atau sesuatu yang dadakan. Manajemen Man City dan pihak wasit sudah berkoordinasi soal ini dari jauh-jauh hari.
Anyways, usai pertandingan, Man City akhirnya menang 1-0 lewat gol Antoine Semenyo di menit ke-47. Tapi yang lebih jadi perbincangan bukan hasilnya, melainkan insiden boo tadi.
Pelatih Man City, Pep Guardiola, langsung angkat bicara dan nggak mau diam. “Ini dunia modern, kan? Hormati agama, hormati keberagaman. Itu intinya,” tegas Guardiola. Guardiola juga menyebut bahwa Premier League sendiri yang membuat aturan ini, bukan pihak Manhester City. “Premier League bilang boleh satu atau dua menit untuk buka puasa. Kita ikutin aturan itu,” katanya.
Asisten pelatih Leeds, Edmund Riemer, pun juga ikut “bersuara”. Riemer menyatakan kalo dirinya “kecewa” dengan reaksi sebagian suporter Leeds malam itu.
Selain itu, Organisasi anti-diskriminasi Kick It Out juga nggak tinggal diam. FYI, Kick It Out adalah organisasi anti-diskriminasi terkemuka di sepak bola Inggris yang berdiri sejak 1993. Awalnya bernama “Let’s Kick Racism Out of Football”, terus berganti nama di tahun 1997 untuk memperluas cakupannya. Jadi nggak cuma soal rasisme, tapi juga diskriminasi berbasis agama, gender, dan lainnya. Mereka bekerja sama dengan Football Association (FA) dan Premier League untuk menindak kasus diskriminasi, sekaligus menjalankan program edukasi di komunitas dan sekolah.
Nah, mereka menyebut insiden ini “massively disappointing” alias mengecewakan banget. Kick It Out ngingetin bahwa jeda ini adalah bagian penting untuk membuat sepak bola lebih ramah bagi komunitas Muslim. “Tapi seperti yang terjadi malam ini, sepak bola masih punya jalan panjang dalam soal edukasi dan penerimaan,” tulis mereka.
Gara-gara insiden ini, Leeds United berpotensi mendapat sanksi dari FA. Berdasarkan FA Rule E20, klub bertanggung jawab atas perilaku suporternya di stadion. Jika FA menilai boo tersebut bersifat diskriminatif atau Islamofobik, Leeds bisa kena denda besar loh! Leeds juga kemungkinan akan dipaksa membuat program edukasi dan bekerja sama lebih intensif dengan Kick It Out.
Guys, Ini bukan soal siapa yang menang atau kalah di lapangan. Ini soal rasa hormat dasar terhadap keyakinan orang lain. Jeda 78 detik. Cuma 78 detik. Dan itu sudah dijelaskan di layar besar stadion. Tapi masih ada yang memilih untuk boo. Itu kan miris banget.
Ramadan adalah salah satu ibadah terpenting bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk para atlet profesional. Pemain seperti Marmoush, Ait-Nouri, dan Cherki tetap berlari dan berjuang di lapangan meski berpuasa seharian. Bukan dihormati, malah di-boo. Itu nggak adil.
Kasus ini secara nggak langsung jadi cerminan bahwa di dunia olahraga, termasuk sepak bola, masih perlu banyak belajar soal inklusivitas. Respek terhadap keberagaman agama dan budaya itu bukan pilihan, tapi itu suatu keharusan! Yuk, kita dukung lingkungan olahraga yang bebas diskriminasi dan penuh rasa hormat untuk semua!


