Fenomena “Gus-Gusan” belakangan ini lagi ramai dibahas di dunia dakwah nih. Banyak pendakwah muda yang viral bukan karena kedalaman ilmunya, tapi karena gaya penyampaian yang lucu, penampilan gaul, dan cara ngomong yang enak didengar di media sosial. Dalam tradisi pesantren, “Gus” adalah gelar untuk putra kiai atau keluarga tokoh pesantren. Publik sering menganggap pemakai gelar ini otomatis punya ilmu agama yang tinggi. Tapi di era media sosial, gelar “Gus” juga dipakai sebagai branding pribadi, dan nggak selalu lewat proses belajar pesantren yang mendalam. Nah, akibatnya, banyak orang salah paham dan menganggap semua “Gus” itu pasti alim, padahal kualitas tiap orang tetap harus dilihat dari ilmu dan akhlaknya.
Ketua Tanfidziyah PBNU, KH Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, akhirnya ikut buka suara soal fenomena ini. Menurutnya, banyak pendakwah muda kini terkenal bukan karena kedalaman ilmunya, tapi karena tampilan, kegantengan, keviralan, dan gaya ceramah yang lucu. PBNU menilai tren ini berbahaya karena masyarakat bisa salah memilih panutan. Dalam Islam, posisi guru agama sangat berat. Pendakwah mempengaruhi akidah, pemahaman, dan perilaku masyarakat. Kalau pendakwahnya belum matang, ngawur, dan lebih fokus gaya ketimbang isi, maka umat bisa terseret dalam pemahaman agama yang melenceng.
Gus Fahrur menegaskan, gelar “Gus” nggak otomatis menandakan seseorang punya ilmu agama yang tinggi. Banyak yang memakai gelar ini karena keturunan atau branding pribadi, padahal kualitas keilmuannya belum tentu kuat. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat supaya nggak mudah terkagum-kagum dengan ceramah yang lucu atau penampilan yang menawan. Pilih pendakwah yang jelas ilmu, adab, dan akhlaknya. Nggak semua ceramah harus lucu atau menghibur. Yang terpenting adalah substansi dan ketepatan pemahaman.
PBNU sendiri sedang bekerja sama dengan Kementerian Agama dan MUI untuk menerapkan standarisasi penceramah lewat bentuk sertifikasi, pelatihan, dan aturan agar dai yang tampil benar-benar paham ilmu dakwah dan syariat. Namun, regulasi ini belum bisa sepenuhnya mengontrol ceramah di era digital. Sekarang siapa aja rasanya bisa berdakwah lewat TikTok, Instagram, YouTube, atau live streaming dari kamar sekalipun. Algoritma media sosial cenderung mempromosikan konten yang lucu, unik, atau kontroversial, bukan yang paling benar atau paling dalam secara keilmuan. Akhirnya, banyak “ustaz baru” terkenal karena viral, bukan karena kualitas dakwahnya. Bahkan ceramah yang keliru bisa cepat menyebar karena menarik, lucu, atau seperti stand-up comedy.
Fenomena ini bikin umat rentan salah paham, terutama jamaah muda yang belum punya dasar keilmuan kuat. Kasus pendakwah viral menjadi contoh nyata bahwa sensasi sering lebih cepat terkenal dibanding substansi. Ketika tindakan atau ucapan pendakwah menjadi kontroversial, publik pun gerah. Belum lagi jika materi dakwahnya menyesatkan atau tidak sesuai standar keilmuan pesantren. PBNU menilai pendakwah seharusnya memberi teladan, bukan memunculkan kontroversi yang bisa membuat umat bingung. Apalagi jika ceramahnya menyangkut aqidah, ibadah, atau hukum yang sensitif. Salah bicara bisa membuat umat salah langkah.
Karena itu, umat diminta pintar memilih guru agama. Jangan asal ikut yang viral. Jangan mudah terpukau dengan gaya cool, suara merdu, gimmick ceramah, atau logat lucu. Lihat adabnya, akhlaknya, ilmunya, dan apakah sanad keilmuannya kuat. Kalau panutannya belum matang, jamaah juga bisa terbawa salah arah. PBNU juga berharap para pendakwah muda mau belajar serius sebelum tampil. Belajar agama butuh waktu, proses, bimbingan, dan tanggung jawab. Dakwah bukan sekadar hiburan, tapi amanah besar untuk membimbing umat. Dakwah harus membawa pencerahan, bukan sensasi atau sekadar lucu-lucuan.
Sementara itu, masyarakat juga sebaiknya berhenti mengidolakan ustaz hanya karena terkenal di FYP TikTok. Ukuran memilih guru agama bukan “yang paling lucu”, tapi yang mendalam pengetahuannya, toleran, dan menjaga integritasnya. Fenomena ini jadi alarm bagi umat Islam untuk lebih selektif, nggak mudah terpesona, dan nggak menganggap ceramah viral pasti benar. Banyak ceramah yang justru dangkal, menyesatkan, dan membahayakan pemahaman agama. Akhirnya, dakwah seharusnya membawa kedalaman ilmu, keteduhan akhlak, dan kejelasan pemahaman, bukan cuma gaya, gimmick, atau sensasi media sosial.
Yuk beragama dengan akal sehat!


